Kamis, 22 Januari 2015

Good Bye Sunset


Lagu ini menemani kegalauanku malam ini, Mbel. Hmm, katanya ini bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi jelas-jelas dia menyalahkanku. Dia bahkan mencari pembenaran dengan menanyakan pendapat orang lain ketika pasangannya menanyakan kapan putus. Apakah itu tidak cukup menjelaskan bahwa ia tak mau disalahkan? Ya, aku paham. Karena aku yang memulai, karena aku yang mengeluarkan pertanyaan itu, maka aku yang salah. 

Tapi aku ingin protes. Kenapa dia harus menanggapi pertanyaanku dengan emosi? Tidakkah dia berpikir dulu kenapa aku bertanya seperti itu? Aku gak mungkin bertanya seperti itu kalau gak ada penyebab kan, Mbel?

Haha, aku seperti orang bodoh yang berusaha meminta maaf pada patung bernyawa. Seharian aku berusaha memberi perhatian, berusaha menunjukkan perasannku, kalau aku masih sayang sama dia. Tapi hasilnya nihil, permintaan maaf, perhatian bahkan perasaanku tidak ditanggapi. Dia masih hidup dalam amarah. Harus berapa kali aku meminta maaf dan harus dengan cara apa aku menyampaikan rasa bersalahku padanya? Apakah rasa bersalah dan penyelesan yang dalam tidak cukup untuk menghukum mereka yang berbuat salah? Apakah orang bersalah harus dihakimi seperti ini? Beginikah cara dia memperlakukan orang yang dia sayang? 

Cinta memang tidak pernah adil. Kenapa orang yang bersalah tidak bisa mendapat kesempatan untuk membelah diri? Ah iya, orang bersalah memang gak pantas membelah diri.

Akhirnya aku sadar Mbel. Aku memang gak pantas untuk dia. Aku bukan pacar yang baik, bahkan disaat dia dicolek bencong pun aku hanya menertawakannya. Pacar macam apa aku ini? Aku bahkan menanyakan kapan kami harus putus! Haha Bego!

Aku akan mengubur dalam-dalam perasaan cintaku yang masih utuh ini. Semoga suatu saat, waktu bisa menghapus perasaan ini, karena aku gak mau dia terbebani dengan perasaanku. Aku ingin dia bahagia bersama yang lain, yang jelas lebih baik dan lebih memahami dia daripada aku.

Mbel, jangan bilang dia ya kalau aku masih sayang sama dia, bahkan sampai detik ini! Sstt, ini rahasia kita Mbel..
Ah, Sunset.....

Kamis, 15 Januari 2015

Siapa yang Salah???

Hai Mbel maaf baru muncul lagi. Sebenarnya banyak yang ingin aku curhatin ke kamu, tapi gak sempat. Akhir-akhir ini aku punya banyak kesibukan, makanya aku jarang ke sini. Bahkan untuk sekedar mampir sebentar saja aku gak sempat. Maaf ya mbel, kamu masih mau kan dengerin curhat aku? Terserah sih, mau gak mau aku akan tetap curhat.

Mbel, aku ingin kamu tahu kalau sekarang aku lagi bimbang. Entah mulai darimana membicarakannya aku sendiri gak tahu. Banyak, bahkan lebih dari kata 'banyak' untuk mencurahkan semuanya. Semua kekacauan hati ketika memikirkan itu.

Aku masih bersama dia Mbel,sosok indah yang telah menyatakan cintanya di antara sunset. Dia yang sudah menghipnotis jiwa ini hingga rasa sayang hanya dapat kuberikan untuknya. Sesuatu yang dulu kusebut perasaan dan seiring berjalannya waktu berganti mejadi ketulusan.

Mari kita mulai dengan masa depan. Mbel, kamu harus tahu bahwa aku dan dia gak pernah membicarakan itu. Tentang masa depanlah, tentang aku siapa, dia siapa, tentang bagaimana hubungan kami. Nggak pernah! Bukan, kata yang tepat untuk itu bukan 'nggak pernah' tapi 'nggak pantas'. Iya, aku dan dia memang gak pantas membicarakan masa depan atau semacamnya. Mungkin dia juga tahu kalau masa depan hanya milik mereka yang memang ingin bersama di masa depan. Buat orang yang memiliki tembok pembatas yang tidak mungkin bisa ditembus, masa depan itu hanya sebuah harapan palsu.

Perbedaan? Ya, itu tembok pembatas yang ku maksud. Tembok yang sangat kokoh, bahkan Goliat pun gak akan mampu menghancurkannya. Mbel, apa yang salah denganku? Kenapa aku selalu jatuh cinta pada orang yang berbeda denganku? Siapa yang salah? Aku kah? Cinta? Atau....

Mbel, akhir-akhir ini aku selalu dihantui sumpah yang pernah diucapkan oleh seorang yang kusebut mantan. Apakah itu pertanda kalau sumpahnya akan benar-benar terjadi? Dulu aku gak pernah peduli dengan sumpah itu, bahkan aku berusaha untuk tidak mengingatnya, karena bagiku sumpah seorang play boy seperti dia gak akan ada artinya. Tapi melihat sikap orang yang ku sayang seperti itu, aku mulai takut. sungguh aku takut.

Karma. Aku termasuk orang yang percaya karma dan kalau memang itu akan terjadi, aku harus siap menerima. Kalau sebuah kejujuran bisa menjadi bumerang untuk hatiku sendiri, apa mau dikata. Karena sebuah pedang bisa saja menghunus tuannya sendiri. 

Dia yang kusayang jarang mengungkapkan perasaannya padaku Mbel, aku takut dia sudah tak menyayangiku. Kami bertemu cuma sekali seminggu, dan komunikasi akhir-akhir ini kurang membaik karena dia sibuk. Seberapa berartinya aku untuknya pun aku gak tahu. Sepertinya aku belum menjadi sesuatu yang berarti untuk dia.

Mbel, aku tidak bermaksud menyalahkannya. Aku hanya ingin protes. Mengapa hanya aku yang selalu mengumbar perasaan? Sedangkan dia hanya melakukan hukuman wajib bagi orang yang pacaran untuk memanggil pasangannya dengan sebutan kata 'sayang'. Semua orang tahu kalau aku sekarang sudah tidak menjomblo, tapi di mata teman-temannya, dia masih cowok yang jomblo, yang tidak memiliki kekasih. Adilkah ini?

Aku ingin sekali membicarakan ini dengannya. Tapi rasanya berat Mbel,aku baru menanyakan gimana perasaannya padaku, dia sudah menyebut aku aneh. Apalagi kalau aku membicarakan semua, mungkin dia akan menganggap aku gila dan gak waras.

Aku makin gak punya keberanian untuk membicarakan ini dengannya, setiap bertemu mulut ini terasa dijahit, hanya senyum dan tawa yang berhasil terlihat. Dia pun gak pernah mencoba untuk membicarakan hubungan kami, apa dia benar-benar gak paham atau pura-pura gak paham dan gak peduli dengan hubungan ini aku gak tahu, yang jelas sikapnya yang seperti itu membuatku mengerti bahwa dia memang gak berniat menjadikan aku masa depannya.

Mbel, aku hanya punya waktu kira-kira 3 bulan lagi di sini. April aku harus meninggalkan Jogja. Namun sampai saat ini kami belum membicarakan ke mana hubungan ini akan dibawa. Mungkin 3 bulan itu masih lama untuknya, tapi bagiku 3 bulan itu tinggal sebentar lagi. Hanya membuka dan menutup mata, maka keesokan harinya sudah bulan april. Mungkinkah hubungan kami mencapai 3 bulan ke depan? Entah. Aku gak berniat mencari jawabannya.

Mbel, cinta itu layaknya paragraf. Aku hanya terus menulis semampuku dan biarkan waktu yang menentukan titiknya.

Kenyataannya cinta itu gak adil, ribet dan menyiksa. Harus mencintai seseorang yang hanya menganggap kita sebagai 'pacar' dan bukan masa depan itu menyiksa. Mencintai seseorang yang tidak pernah mengakui kita kepada siapapun itu rasanya gak adil dan adanya perbedaan membuat cinta makin terasa ribet dan sulit untuk di mengerti. 

Mbel, kapan aku punya keberanian untuk membicarakan hubungan ini dengannya? Kamu gak tahu kan? Aku juga..
 

Sabtu, 27 Desember 2014

Salahkah Jika Dendam Itu Ada?


Aku ingin bertanya beberapa hal:

Pertama, seberapa besar kau mempercayai seseorang dalam hidupmu? dua puluh persen? lima puluh persen? delapan puluh persen? 

Kedua, pernahkah kau memberi kepercayaan kepada orang sebanyak seratus persen? 

Ketiga, apakah salah jika timbul benci dan dendam dalam hati, ketika orang yang kau percaya mengkhianati kepercayaan yang sudah kau diberikan?

Keempat, Apakah kau membutuhkan permintaan maaf dari seorang pengkhianat?

Empat pertanyaan itu kutujukan untuk kau. Kau yang sudah menghancurkan segalanya. Selama ini aku Mempercayaimu. Menjunjung tinggi namamu. Menganggap kau segalanya dalam hidupku. 

Apa balasan dari semua kebaikan yang aku dan mereka berikan? Kami menganggapmu seolah Dewa yang selalu dipuja karena kami merasa kau pantas mendapatkan itu. Namun kau sungguh angkuh dan sombong. Kau manusia yang terlalu gila dengan pujian, kau ingin namamu selalu menjadi yang pertama untuk sebuah perbuatan baik, kau terbuai dengan semua kebaikan yang kau dapatkan hingga membalas semuanya dengan sampah. 

Padahal sebenarnya kau tak bisa apa-apa, kau tak bisa diandalkan, bahkan perbuatan terkutuk yang kau lakukan, dengan gampangnya kau limpahkan ke orang lain. Kau merekayasa semuanya dan memperbodok mereka yang tulus menyayangi dan menghargaimu. Binatang saja masih bisa menghargai orang yang memperlakukannya dengan baik!! 

Hei, Mereka menasihatiku untuk tidak membenci. Tapi tidak, aku tak bisa memaafkan perbuatan bejatnya itu. Aku juga berhak marah dan kecewa. 
Aku menangis bukan karena aku lemah. Aku menangis karena aku menyesal, aku menangis karena orang yang sangat kusayangi dulu semasa hidupnya mau berkorban untuk seorang pengkhianat seperti dia. Aku menangis karena itu. Karena dia, aku kehilangan mereka yang aku sayangi. Itu yang buat dendam ini semakin membara.  Apa aku salah? 

Aku marah, benci, kecewa, bahkan dendam. Aku memang hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa. Tapi mata dan hatiku tidak buta. Aku tahu, dengar dan liat semua. Semua perbuatan bejat dan pengkhiatan yang sudah kau lakukan. 

Jika dikasih satu permintaan malam ini, aku hanya minta satu hal, yaitu penderitaanmu. Aku sangat berharap kau menderita, sehingga kau merasakan apa yang sudah dirasakan mereka yang sudah kau khianati, agar kau tahu betapa sakitnya hati mereka yang sudah kau hancurkan hidupnya. Betapa memilukan hidup dengan pengkhianat seperti kau!!!

Kalian menganggap aku jahat? Terserah. Aku tak peduli. Karena aku sudah berusaha berdamai dengan hati untuk menerima semua dengan lapang dada, tapi aku tak bisa. Untuk masalah lain mungkin aku bisa memaafkan, tapi untuk dia dan masalah ini, sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkannya. Karena seribu kata maaf dari mulutnya pun tak akan bisa menghapus semua duri yang sudah ia tancapkan, aku tidak bisa menerima semuanya begitu saja. 


Mungkin penderitaannya bisa menghapus luka dalam hatiku. Mungkin!!

Kamis, 04 Desember 2014

Adik Kecil Berkantong Lusuh

Hah, Lagi-lagi dia!
Dari arah berlawanan kulihat dia lagi
Dia, adik kecil yang selalu menghambur saat lampu lalu lintas berganti warna
Dia, yang hanya bisa menengadah, bermuka polos dan menyorongkan tangan
Dia, yang tiap hari disuguhi pandangan sinis dari para pengendara

Dia yang hanya bisa tersenyum kecut
Karena cuma seratus perak yang ada dikantongnya
Dia masih menunggu
Berpindah jendela dari sekian kendaraan yang terhenti oleh tiang lalu lintas
Terik yang ikut menyiksa membuatnya tersenggal
Menusuk hatinya hingga ambang perih

"Hei!" aku tersentak ditengah macet
Mata minusku melotot mengikutinya
Di sana ada sebuah mobil
Di dalamnya ada pria paru baya dengan wajah tolol
Menghardiknya tanpa belas kasih
Namun dia hanya menghindar sedikit
Sedikit saja, lalu tersenyum

Akh di mana aku?
Sedari tadi hanya mematung dengan tangan terkepal
Dengan wajah yang ikut-ikutan tolol
Terpaku saja sebatas itu
Seharus aku teriak, "Dik, kemari!"

Raga tipis tinggal tulang itu
Rapu didera hujan dan terik
Wajah yang sarat rasa sakit
Meringkuk dalam lara dikesekian hari
Sendiri dalam rotasi kehidupan
Mengais mimpi yang nyaris terinjak ego

Aku, mereka dan adik kecil berkantong lusuh itu
Bukan seayah, bukan seibu
Tapi tentu saja, kita satu Negara, satu Pencipta!
Yogyakarta, 4 Desember 2014

Senin, 17 November 2014

Lelaki dan Sunset


"Ia telah datang pada mimpi-mimpiku
seperti wahyu yang turun dari Gua persemedian para Nabi"

Dari balik elokmu dan gemuruh ombak di pantai Glagah sore itu
Ada sepasang mata yang bertumbuan 
Memandangiku dalam senyum

Dihatinya api menjadi air tergenang, tenang..
Bagai pohon-pohon yang rindang berjajaran gagah siap melangkah
Sosok itu sigap mengawal Merapi dari badai

"Barangkali di sinilah, diantara ombak dan pasir hitam
Akan kutemui kesetiaan"

Oh, Sunset yang nampak indah sore ini
Aku ingin melukis wajahnya dengan ombak,
Dengan pasir dan sisa-sisa sinarmu
Bahkan indah bola yang tertancap di matanya
Takkan kulupakan

Dengar!!
Dalam sepersekian menit
Terucap kata sayang yang kuartikan cinta
Kau juga dengarkan?

Lihat, rasakan!!
Dalam sepersekian hari
Kutemukan manis yang tak berpelu
juga pahit yang tak bergula
Karena pada lapis itu, kecapanmu akan menjadi berjuta rasa

Mengingat itu, aku mulai takut
Dari jantungnya, mungkinkah ia mengukur kesetiaan dengan bara?
Membakar diri pada sandiwara waktu?

Ah, kau lebih tahu bagaimana memintal derita dalam cinta!

Mestinya tidak hanya diputaran jarum jam kau pijakkan kaki diantara awan
Memamerkan paras indah pada pasir hitam,
Menari dalam riak ombak
Dan rebah dalam sapuan angin pantai

Mestinya, setiap detik kau hadir pancarkan kesejukan
Mestinya kau labuhkan dia dalam hatiku 
Tanpa prasyarat, atau ego atau apalah itu
Mestinya aku percaya sepenuhnya padamu
Juga pada lelaki itu!!
 
"Bukan waktu pula tembok pembatasnya
Apalagi jarak pemisahnya
Hanya perbedaan ikat tali penghubungnya
dan perbedaan pula pedang tajam pemisahnya..

Aku akan mengajarimu memintal cinta direlung semesta
Hingga kau temui dua kata tua penjaga setia mimpi
Di dalam jiwa
Belahan nyawa"

Kamis, 06 November 2014

You're My Bumble Bee

Seperti mendapat harta One Piece dengan cuma-cuma, begitulah rasanya saat terdengar kalimat "Kamu mau jadi pacar aku?" itu disaat aku masih terhipnotis dengan kalimatmu yang mengatakan "Apakah aku salah jika aku sayang sama kamu?"

Sumpah!! Entah aku salah makan apa malam itu, entah kamu salah memakai parfum apa, yang jelas bersamaan dengan menghilangnya sunset itu, terbit kebahagiaan dalam hatiku. Sebenarnya sunset itu tidak menghilang, dia hanya berpindah ke hatiku, kamu yang telah memindahkan. 
  
Aku ingin menulis banyak tentang kamu di sini, tentang perjalanan kita yang kurang lebih enam atau tujuh jam, tujuh atau delapan jam. Tentang kita yang diusir dari pantai hanya karena alasan parkirnya mau ditutup (bilang aja sirik!), tentang jagung bakar yang kepedesan, bukan salah kamu, bukan. Aku hanya berusaha mengimbangi kamu, tapi ternyata kamu raja cabe, maaf kalau jangungnya nangis karena aku cuekin. Oh iya, kita juga di usir dari rumah makan, yang jelas bukan karena kita gak mau bayar tapi karena kita telah melewati batas jam berkunjung.  

Aku ingin menulis lebih banyak dari ini, menulis semua kebahagiaan kita malam itu, tentang langit yang sirik hingga mengutus gerimis untuk mengacaukan perjalanan kita, namun kita tetap melaju dalam senyum. Aku bersyukur pada bulan, karena dia dipihak kita. Kamu ingat cahayanya malam itu? Dia sepertinya tersenyum di atas sana melihat dua bocah sedang menari dalam belaian sinarnya.

Aku tersenyum dalam hati saat kamu menyatakan alasanmu mencintaiku, aku tak akan menulisnya di sini. Alasan itu cukup aku, kamu dan sang maha cinta yang tahu. Aku berteriak girang dalam senyum ketika aku sadar telah memenangkan hatimu.

Kamu tahu, aku bahagia. Aku bahagia dengan semua alasan mencintai yang kamu ucapkan. Aku bahagia mendengar kamu bercerita apa saja. Tentang jahilnya kamu waktu kecil, tentang kekonyolan teman-temanmu, tentang persahabatan kalian. Terlihat jelas kamu menyayangi mereka. Aku suka kamu yang seperti itu. Tetaplah seperti itu.
 
Untuk kamu yang telah membuat malamku indah..
Untuk kamu yang membuat jantungku selalu berdendang.. 
Untuk kamu yang membuat senyumku tak berhenti mengembang..
Untuk kamu yang telah membuat aku paham arti kata 'i love you'..
Untuk kamu yang telah mengajariku arti bertahan..
Untuk kamu yang sudah membawaku hanya untuk sunset itu..
Untuk kamu, cinta tulus ini aku berikan..
Hanya untuk kamu!! 
 
You're my bumble bee
And i can say right now
We'll fly together, making honey with our nectar
And i can finally see, with my hexagonal eyes
You're fine be mine 
Because you're My Bumble Bee
(Sing: Joseph Vincent-Bumble bee)

Senin, 03 November 2014

Sakitnya tuh di Dasar Hati Bukan di Dasar Panci Silang

Yah, di php-in mbel..*emot yang bibirnya manyun trus ada air netes di matanya

Hujan di luar itu udah redah, tapi hujan di hati gue, makin deras aja, mbel. Oh, gak ada hujan ya? Ya udah anggap aja ada mbel, anggap aja begitu.

Gue lagi galau nih mbel, gue abis di PHP-in. Untung gak di BAB-in. Tolongin gue dong mbel. Bantuin mikir gimana caranya. Pake lem kertas kek, lem kayu kek, lem tembok, ato lem daun, pokoknya gimana cara nyambungin itu tali jemuran kosan gue yang udah putus. Apes bener nasib gue mbel, udah hatinya patah, tali jemuran juga putus. Jadilah gue galaunya maksimal. Coba aja ada kompetisi ratu galau sejagat, pasti gue tuh pemenangnya, soalnya gak ada kunci jawabannya.

Mbel, lo tahu gak sih kalo gue sayang sama dia? Pasti lo tahu, kan gue pernah curhat ke lo saban hari. Tapi kenapa gue gak bisa nerima sikapnya itu ya? Kenapa ya mbel? Apa karena  Prabowo gagal jadi presiden ya? Trus apa hubungannya? Dia kan bukan pembantunya Prabowo. “Oh iya, lupa” jawab si gembel. 

Ah lo mah gak serius dengerin curhatan gue. Jangan bikin gue bete dong mbel, udah dianya cuekin prasaan gue, sekarang elu juga malah cuekin gue, trus gue harus curhat ke siapa lagi? Sama tembok di kamar? Ah dia itu gak asik mbel, gue curhat sampe mulut berbusa juga bisanya cuma plototin gue mulu, gak kedip-kedip, gak jawab juga, boro-boro ngasih solusi. Gue curiga, dia abis dihipnotis mati sama Uya Kuya.

Awalnya sih gue #rapopo mbel. kebetulan kata ‘rapopo’ itu lagi nge-trend jadi aja gue pake buat curhat ke lo biar kelihatan gaul gitu, biar curhatnya bermutu mbel, walaupun kualitasnya gak bermutu. Tapi ternyata masih ada kata yang lebih berkelas bumingnya dari kata ‘rapopo’ yaitu ‘sakitnya tuh di sini’

Lo tahu mbel, kata itu udah kayak petir aja nyambar ke mana-mana, bahkan pasangan yang lagi romantis-romantisnya, yang gak pernah mengenal kata ‘galau’ kini mendadak jadi budak galau, ingin banget dibuat galau oleh pasangannya hanya supaya bisa update status tentang ‘sakitnya tuh di sini’ kayak yang lainnya. 

Konyol memang, tapi semua orang ingin hidup di jaman ini, jaman di mana ‘sakitnya tuh di sini’ menjadi trending topik paling apik. Di sini di mana gak tahu, gak jelas juga. Yang penting sakitnya tuh di sini, nunjuk di mana pun sesuka hatimu. Bebas.

Oke, kembali ke te-ka-pe. Gue berusaha menerima sikap dia yang memperlakukan gue cuma sebatas teman. Iya sih, kami memang teman. Ya, pertemanan kami yang hanya muter-muter sekitar obrolan yang kadang bikin gue terbang dan mendarat dengan tidak menggunakan parasut hingga harus terjatuh tanpa ada matras yang siap menanggung tubuh penuh dosa ini. Kadang dihiasi tarik ulur yang bikin hati mengeluh capek. Untung gak sampai tarik tambang karena gue bukan Goliat yang punya otot kuat untuk menarik. Menarik hatinya.

Nah, udah capek kan muter-muternya? Kemudian lo belok kanan ada perempatan lampu merah abis itu lo belok kiri, lurus aja terus nanti ketemu gang yang ada tulisan ‘istana galau’ itulah markas gue. 

Udah tahu? Ya udah cukup lo yang tahu ya, gak boleh bilang siapa-siapa karena istana itu belum ada pangerannya. Gue takut ketahuan banyak orang mbel, kan gue malu, masa istana gak punya pangeran. 

Calon-calon pangerannya juga tiba-tiba ngilang begitu aja, dan gue bersyukur setidaknya gue sadar mereka itu siluman. 

Ada sih yang sampai saat ini bertahan, tapi hati gue yang tiba-tiba menghilang mbel, gak tahu deh ke mana. Alhasil gue bingung, saking bingungnya gue sampe berkepikiran untuk tanya sama mbah google, kali aja dia tahu hati gue pergi ke mana. Eh giliran disamperin mbah google nya lagi sakit, kata dokter dia gak boleh dibebani dengan pertanyaan-pertanyaan yang berat. Akhirnya, gue timbang pertanyaan gue, ternyata beratnya melebihi berat tubuh gunung bromo. Ya udah karena gak jadi nanya, pertanyaannya gue gantungin aja di situ, di bawah pohon tomat samping rumahnya mbah google.

Eh, udah dulu ya mbel, gue mau siram itu pohon tomatnya biar gak dibunuh sama mbah-mbah itu loh yang sekarang lagi sakit, soalnya gue gantungin sesuatu yang beratnya melebihi beratnya gunung bromo di sana, ntar kalo meletus gimana, selain mbahnya mati, kan gue juga ikutan tewas. Dayang-dayang gue juga lagi sibuk pacaran tuh, jadi gue sendiri yang turun tangan. 

Gue juga sebenarnya udah malas berkata-kata nih. Kata-kata gue udah habis di makan sama dia yang udah php-in gue. Gak bayar pula, dikira warung gratis? Untungnya gak pake minum, kalo gak kan gue bisa bangkrut!

Oh iya, lo gak sibukkan? Abis ini temenin gue jalan dong, kali aja ketemu seorang pangeran yang bisa mendiami hati gue yang lagi nganggur ini. Yang jelas, gak php-in gue lagi.
 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design