Tampilkan postingan dengan label Sumba Barat daya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumba Barat daya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

Masa Penjajahan Belanda-Sumba Barat

Saat bangsa Belanda pertama kali datang ke Sumba Barat pada permulaan abad ke 20, mereka menggunakan militer Belanda untuk memerintah Sumba Barat. Dalam masa pemerintahan Hindia Belanda, Pulau Sumba dibagi dua bagian yaitu Sumba Barat dan Sumba Timur. Pada masa itu Sumba Barat dipimpin oleh J.J. Barendzen, yang pemerintahannya berlangsung sejak 1 januari 1910 s/d 19 april 1913. Saat itu Sumba Barat dibagi menjadi dua wilayah yakni: 
  1. Sumba Barat Utara yang meliputi wilayah Kodi, Loura dan Mamboro, dengan ibu kota Karuni.
  2. Sumba Barat Selatan yang meliputi wilayah Wanokaka, Loli, Wewewa, Lamboya, Anakalang, dan Umbu Ratu Nggay dengan ibu kota Waikabubak.
Pembagian ini dimaksud untuk mempermuda dan memperlancar strategi perang, karena pemerintah Belanda bermaksud membentuk swapraja-swapraja di seluruh Sumba sesuai Korte Verklaring. Jadi, pada permulaan yang berkuasa di Sumba Barat adalah Pemerintah Militer Belanda.
Dalam masa Pemerintahan J.J. Barendzen inilah diadakan pembuatan jalan raya yang menghubungkan Waikabubak dan Karuni. Sedangkan jalan raya yang menghubungkan Waikabubak dan Sumba Timur dibuat kemudian oleh penggantinya.

Pembagian wilayah Sumba Barat ini berlangsung hingga meletusnya perang dunia ke I, bahkan beberapa tahun sejak perang dunia ke I, Karena pada saat itu yang memegang pemerintahan adalah militer Belanda. 
Pada masa itu Pemerintahan Hindia Belanda memberikan kewajiban yang cukup berat kepada masyarakat Sumba Barat. Penduduk Sumba Barat saat itu diwajibkan membayar pajak yang dikenal dengan nama blasting dan wajib kerja jalan (kerja rodi).

Sabtu, 15 Juni 2013

Makalah Multikultural-Sumba Barat Daya

BAB I
PENDAHULUAN
   A.   Latar Belakang
Rencana memekarkan diri dari Kabupaten Sumba Barat merupakan keinginan murni dan kebutuhan dari warga masyarakat pada tuju kecamatan yang berada di wilayah Kodi, Wewewa dan Loura. Keinginan ini telah terpendam lama dan baru terwujud setelah keluarnya UU Nomor 22 tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah dan PP Nomor 192 tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Penghapusan dan Penggabungan Daerah.
Pemekaran ini sendiri bertujuan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, guna terwujudnya masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Masyarakat dari tujuh wilayah kecamatan yang menginginkan pemekaran adalah, Kecamatan Kodi Bangedo, Kecamatan Kodi, Kecamatan Loura, Kecamatan Wewewa Barat, Kecamatan Wewewa Timur, Kecamatan Wewewa Selatan dan Kecamatan Wewewa Utara.
Pembentukan bakal Kabupaten Sumba Barat Daya, dilatarbelakangi oleh beberapa hal sebagai berikut:
  • Memiliki sumber daya alam yang sangat besar dan sebagian besar masih bersifat potensial. 
  • Memiliki kemampuan sosial-budaya yang belum dikelola secara maksimal. 
  • Memiliki kemampuan sosial-politik yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pembangunan kehidupan demokratis. 
  • Memiliki sarana dan prasarana pemerintah yang memadai. 
  •  Memiliki sumber daya manusia yang banyak dan memenuhi syarat. 
  • Memiliki 7 buah kecamatan, 94 buah desa, dan 2 kelurahan. 
  • Berdasarkan hasil penelitian Tim Universitas Nusa Cendana-Kupang, bakal kabupaten SBD sangat layak menjadi sebuah kabupaten sendiri .
  • Besarnya jumlah penduduk sebagai modal dasar pembangunan. 
  • Besarnya keinginan masyarakat untuk mekar.

  B.  Tujuan Pemekaran 
  • Mengentaskan Kemiskinan
Kabupaten Sumba Barat terbentuk sejak 13 desember 1958 dan sampai dengan desember 2003, telah berusia 45 tahun. Namun dalam kurun waktu yang hamper mencapai setengah abad tersebut masih tegolong miskin, bahkan berada di bawah garis kemiskinan dan merupakan kabupaten termiskin di NTT. Ironis memang, dengan kekayaan alam yang melimpah ternyata masih menyandang predikat kabupaten miskin. Dengan demikian, mimpi dan cita-cita perjuangan pemekaran adalah mengeluarkan masyarakat Sumba dari lingkaran dan lilitan kemiskinan.
  •  Mendekatkan Pelayanan
Ide pemekaran menitikberatkan pendekatan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, sehingga pengelola pemerintahan dengan mudah dapat melayani masyarakat secara cepat. Hal ini tidak berarti bahwa pelayanan pemerintah selama ini tidak berjalan. Dalam kurun waktu tersebut pelayanan pemerintah berjalan cukup baik. Namun rentang kendali pemerintahan dan pembangunan cukup jauh sehingga masyarakat di pedesaan “sering terlupakan”.
  • Mengejar Kemajuan Pembangunan di Kawasan Indonesia Timur
Seperti diketahui Kabupaten Sumba Barat tertinggal jauh dalam hal pembangunan fisik dan ekonomi, jika dibandingkan dengan daerah atau kabupaten lain. Untuk mengatasi ketertinggalan ini, salah satunya adalah memacu dan memberi kemudahan bagi masuknya bahan non lokal ke Sumba Barat dengan harga terjangkau dan murah. Demikian sebaliknya, berbagai hasil komoditi rakyat Sumba Barat harus diantarpulaukan sendiri oleh pedagang lokal ke luar daerah. Dengan demikian tidak terjadi perbedaan yang menyolok antara harga bahan-bahan non lokal dan harga komoditi lokal rakyat.
  • Alasan Pemekaran 
Alasan Administrasi 
  1. Mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat 
  2. Rentang kendali (Span of Control) lebih dipercepat 
  3. Menggali potensi daerah yang belum tersentuh/dikembangkan. 
  4. Mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat serta memanfaatkan potensi daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah.
  5. Capacity Building dapat dilakukan lebih efektif.
  6. Akuntabilitas (tanggung jawab lebih efektif).
  7. Heterogenitas lebih dipercepat.
Alasan Politik   
  1. Mempercepat pertumbuhan kehidupan demokratis.
  2. Integritas wilayah lebih ditingkatkan dalam arti memberi kesempatan dan mendorong masyarakat untuk mengembangkan potensi andalan.
  3. Public Service (pelayanan sosial) lebih ditingkatkan.
  4. Control sosial lebih ditingkatkan
  • Hasil Penelitian Tim Akademik Undana Kupang
Tim akademik Undana Kupang dalam hasil penelitiannya menilai bahwa calon Kabupaten Sumba Barat Daya layak diproses menjadi kabupaten baru. Hasil penelitian itu juga merekomendasikan 3 opsi (pilihan) terkait pemekaran Kabupaten Sumba Barat. Opsi pertama, kabupaten Sumba Barat dibagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Barat (Induk) dan Kabupaten Sumba Tengah. Opsi kedua, Kabupaten Sumba Barat dimekarkan menjadi 2 Kabupaten yakni, Kabupaten Sumba Barat (Induk) dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Sedangkan opsi ketiga menyebutkan, Kabupaten Sumba Barat dimekarkan menjadi 3 Kabupaten sekaligus yakni, Kabupaten Sumba Barat (Induk), Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Opsi ketiga inilah yang akhirnya disetujui bersama dan oleh DPRD Kabupaten Sumba Barat dijadikan bahan usulan ketingkat pusat. Kabupaten Sumba Tengah meliputi 3 kecamatan (Mamboro, Umbu Ratu Nggay dan Katikutana). Kabupaten Sumba Barat meliputi 5 kecamatan (Wanokaka, Lamboya, Loli, Kota Waikabubak, Tana Righu). Kabupaten Sumba Barat Daya dengan 7 kecamatan (Wewewa Timur, Wewewa Barat, Wewewa Selatan, Wewewa Utara, Loura, Kodi dan Kodi Bangedo)

BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA

A.       Luas, Letak dan Batas Wilayah

Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki luas 148,04 km2 atau 36,53% dari total luas Kabupaten Sumba Barat. Di sebelah timur, kabupaten ini berbatasan langsumg dengan wilayah Kabupten Sumba Barat (Kecamatan Loli dan Tana Righu). Di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah utara berbatasan dengan Selat Sumba. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sumba Barat (Kecamatan Lamboya dan Lamboya Barat) dan Samudera Indonesia.

B.       Adat Sumba Barat Daya

Pemandangan lain yang terlihat di sini adalah rumah adat Sumba Barat Daya dengan seonggok batu atau beton yang merupakan “kuburan” keluarga. Hewan ternak seperti kerbau, kuda, dan babi akan terlihat disetiap rumah. Itu semua merupakan adat khas Sumba Barat Daya berdasarkan kepercayaan mereka yaitu “marapu”. Marapu merupakan agama asli Sumba Barat Daya yang masih menganut “animisme” atau sistem keyakinan yang berdasarkan kepada pemuja arwah-arwah leluhur.
Setiap ada anggota keluarga yang meninggal, keluarganya yang masih hidup wajib melakukan ritual yaitu mengorbankan setidaknya satu ekor kerbau (1 ekor kerbau harganya 15 - 30 juta) jumlah kerbau yang dikorbankan tergantung dari pangkat sosial keluarga yang bersangkutan. Dan jenazahnya sendiri disimpan dalam batu atau beton yang ada di halaman rumah, ditutup dan di kunci rapat-rapat. Jika ada anggota keluarga lain yang meniggal maka jenazahnya pun disimpan di tempat yang sama dengan jenazah yang lain yang sudah ada di sana.

C.       Keindahan Alam Sumba Barat Daya

Di sumba Barat Daya, keindahan alamnya ternyata tidak diragukan lagi. Terutama keindahan pantai Sumba Barat Daya yang masih belum banyak wisatawan datang ke sana, pantai dengan pasir putih yang menggoda, langit timur yang berbeda dengan langit Indonesia barat, serta cuacanya yang sejuk dikarenakan pulau Sumba secara geografis berada di daerah selatan Indonesia yang lebih dingin daripada wilayah Indonesia lainnya.

Pantai Watu Maladong, garis pantai yang lurus membentang, pasir putih bersih dan ombak yang menantang. 











Pantai Mandora, arus air laut yang tertahan karang dan air laut yang biru merupakan pesona tersendiri, sehingga kita bisa berenang dan menikmati putihnya pasir disana

D. Pendidikan di Sumba Barat Daya
Jumlah penduduk di Sumba Barat Daya semakin menjulang, disebabkan karena faktor kawin diusia mudah, selain faktor lainnya. Sedangkan lapangan kerja, kualitas pendidikan yang rendah dan hasil pertanian terus memburuk. Hal tersebut menimbulkan masalah sosial baru. Angka putus sekolah lebih besar dari rata-rata siswa yang bersekolah.
Akibat kurangnya pendidikan dan tuntutan ekonomi yang semakin mendesak, angka kriminal seperti pencurian dan perampokan pun meningkat. Mereka hanya memikirkan bagaimanacara untuk bertahan hidup tanpa mempedulikan resiko dari perbuatannya. Akibat lainnya adalah perkawinan usia muda, poligami serta semboyan banyak anak banyak rezeki menjadi salah satu faktor pendorong. Mereka bahkan berlomba-lomba menciptakan anak. Mereka gengsi bila hanya mempunyai 2-3 orang anak karena dianggap tidak jantan(khusus para lelaki) dan secara sosial kurang dihargai.
Program Keluarga Berencana (KB) belum di sosialisasikan dengan maksimal di kalangan masyarakat. Ada pemikiran negatif terhadap program ini sehingga sebagian pasangan usia subur menolak menggunakan alat-alat kontrasepsi seperti kondom dan sejenisnya.
Banyak juga siswa-siswa SMP maupun SMA yang putus sekolah karena harus menikah/dinikahkan oleh orangtuanya. Di mana pandangan yang masih fasih di sana bahwa lebih baik menikah dari pada harus menyekolahkan anaknya, kegiatan bersekolah di anggap kegiatan menghabur-hamburkan uang semata.

Persoalan sumber daya orangtua yang rendah, buta huruf, tidak tahu tulis dan baca menjadi salah satu penyebab pergaulan bebas di kalangan remaja. Orangtua tidak mampu mengendalikan perilaku anak yang bejat karena selalu di bohongi. Anak-anak sekolah berangkat dari rumah dengan seragam sekolah, tetapi kemudian di jalan mereka diajak teman untuk pergi ke kota, atau menonton CD porno di rumah teman sambil meneguk minuman keras dan merokok.
Pergaulan di kalangan remaja sangat bebas, mereka tidak lagi memperhatikan nilai-nilai adat dan budaya setempat. Bahkan tatanan adat dinilai sebagai aturan yang sudah ketinggalan jaman. Berbagai alat-alat canggih seperti Hp sudah seperti dewa bagi mereka. Walaupun orangtua tidak mampu, tetapi mereka memaksakan diri untuk memiliki telepon selular tersebut. Dengan perkembangan yang seperti itu, banyak diantaranya yang sudah melupakan/sengaja melupakan bahasa daerahnya dan diisi dengan bahasa-bahasa gaul ala Jakarta seperti lo, gue, dan tidak tahu tempat penggunaannya yang tepat, kadang orang yang lebih tua pun di bilang “lo”.

E.     Pembelajaran Matematika.
Di Sumba Barat Daya, anak-anak SD mempunyai cara-cara belajar matematika yang unik. Ada yang menggunakan lidi, kelereng, bahkan batu kerikil untuk belajar tentang operasi bilangan seperti penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x) dan pembagian (÷). Anak-anak lain yang orang tuanya memiliki ternak, belajar berhitung saat setiap kali membawa ternaknya ke ladang, mereka selalu menghitung jumlah hewan yang akan dibawah ke ladang kemudian menghitungnya kembali ketika sudah pulang ke rumah. Dengan seperti itu secara tidak langsung mereka sudah belajar matematika. Itu salah satu cara anak-anak Sumba Barat Daya belajar matematika, masih banyak cara-cara lain yang digunakan untuk belajar matematika, walaupun hanya sekedar berhitung dan mengoperasikan bilangan.

Jumat, 17 Agustus 2012

Gambaran Umum Kabupaten Sumba Barat Daya

Luas, Letak dan Batas Wilayah

         Kabupaten Sumba Barat Daya memilliki luas 148,04 km2 atau 36,53% dari total luas Kabupaten Sumba Barat. Di sebelah timur, kabupaten ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Sumba Barat (kecamatan Loli dan Tana Righu). Di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah utara berbatasan dengan Selat Sumba. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sumba Barat (Kecamatan Lamboya dan Lamboya Barat) dan Samudera Indonesia. Penduduk Kabupaten Sumba Barat Daya berjumlah 226.281 jiwa yang tersebar di 7 kecamatan, 94 desa dan 2 kelurahan.

Cakupan Wilayah

Kabupaten Sumba Barat Daya terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan.
  1. Kecamatan Loura            
    Kelurahan 2 buah             : Kel. Weetobula, Kel. Langga Lero.
    Desa 10 buah                    : Totok, Wee Mananda, Bondo Boghila, Lete Konda, Karuni,
                                                Rama Dana, Rada Mata, Kalena Wanno, Wee Londa, Wee Pangali.
  2. Kecamatan Kodi
    Desa 11 buah                    : Bondo Kodi, Pero Batang, Onggol, Ate Dalo, Hamonggo
                                                Lele, Koki, Homba Rade, Wura Homba, Kapaka Madeta, Mali Iha,
                                                Kawango Hari
  3. Kecamatan Kodi Utara
    Desa 12 buah                    : Hoha Wungo, Hamba Karipit, Wailabubur, Kalena Rongo, Kori,
                                                Wai  Holo, Noha, Mangganipi, Kendu Wela, Bila Cenge,
                                                Bukambero, Kalembu Kaha.
  4. Kecamatan Kodi Bangedo
    Desa 13 buah                    : Dinjo, Lete Loko, Walandimu, Waikadada, Mata Kapore, Wai Ha,
                                                Panenggo Ede, Waikarara, Wailangira, Kahale, Rada Loko, Umbu
                                                Ngedo, Wainyapu.
  5. Kecamatan Wewewa Selatan
    Desa 8 buah                      : Buru Kaghu, Weri Lolo, Buru Deilo, Bondo Uka, Tena Teke, Bondo
                                                Bella, Delo, Denduka.
  6. Kecamatan Wewewa Barat
    Desa 14 buah                      : Watu Kawula, Kadi Pada, Wee Rena, Wee Kombaka, Menne Ate,
                                                Waimangura, Reda Pada, Kalembu Weri, Wali Ate, Kabali Dana,
                                                Marokota, Raba Ege, Watu Lambara, Kalimbu Tillu.
  7. Kecamatan Wewewa Timur
    Desa 10 buah                    : Kalembu Ndaramane, Mareda Kalada, Pada Eweta, Mata Pyawu,
                                                Dikira, Wee Limbu, Tema Tana, Dangga Manu, Lete Kamouna,
                                                Wee Limma.
  8. Kecamatan Wewewa Tengah
    Desa 10 buah                    : Ombarade, Eka Pata, Wee Rame, Wee Patando, Kanelu, Tanggaba,
                                                Wee Kokora, Lombu, Kalli Ngara, Bolora.
  9. Kecamatan Wewewa Utara
    Desa 6 buah                       : Mali Mada, Puu Potto, Wee Papoba, Wanno Talla, Wee Namba,
                                               Mata Loko.
Sungai-Sungai
  •  Pola Pare di Kecamatan Kodi Bangedo              : 18 Km
  • Waiha di Kodi Bangedo                                       : 9 Km
  • Wee Wagha di Wewewa Selatan                          : 10 Km
  • Wee Lambara di Wewewa Barat                          : 10 Km
  • Wee Kalowo di Kecamatan Wewewa Timur       : 7 Km
  • Loko Kalada di Kecamatan Loura                       : 16 Km

Rabu, 15 Agustus 2012

Cikal Bakal Pembentukan Kabupaten Sumba Barat Daya

Rencana memekarkan diri dari Sumba Barat merupakan keinginan murni dan kebutuhan dari warga masyarakat pada tujuh kecamatan yang berada di wilayah Kodi, Wewewa, dan Loura. Keinginan itu telah terpendam lama dan baru terwujud setelah keluarnya UU nomor 22 tahun 1999, tentang Pemerintah Daerah dan PP nomor 129 tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kiteria Penghapusan dan Penggabungan Daerah.

Kondisi ini memberi harapan bagi masyarakat pada 7 kecamatan di wilayah SBD (Sumba Barat Daya) untuk mengajukan usulan memekarkan diri dari kabupaten Sumba Barat. Keinginan tersebut bukanlah di rekayasa, tetapi benar-benar merupakan kehendak luhur dari sebuah masyarakat di wilayah tersebut. Hal ini di buktikan dengan rapat akbar yang di gelar pada tanggal 13 agustus 2002 di Weetabula. Dalam rapat yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat dari tuju kecamatan tersebut didapatkan aspirasi murni dari masyarakat melalui kesepakatan-kesepakatan politik secara spontanitas dari tiap-tiap desa, dihimpun  dan menghasilkan Pernyataan Kebulatan Tekad untuk memekarkan diri dari kabupaten Sumba Barat, menjadi sebuah kabupaten sendiri. 
Kebulatan  tekad ini diwujudkan dalam sebuah pernyataan yang ditujukan kepada Bupati dan Pimpinan DPRD Sumba Barat, dengan tembusan kepada Gubernur NTT, Ketua DPRD NTT, Menteri Dalam Negeri dan Komisi II DPR RI. Dan membentuk sebuah nama yaitu “ Sumba Barat Daya” yang lebih terkenal dengan singkatan SBD. Keingininan membentuk daerah otonom baru harus tetap mengacu pada kaidah dan norma bahwa Sumba Barat adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, pemekaran kabupaten Sumba Barat  dan pembentukan bakal Kabupaten Sumba Barat Daya tetap berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 129 tahun 2000.

Pembentukan bakal Kabupaten Sumba Barat Daya, dilatarbelakangi oleh beberapa hal sebagai berikut:
  1. Memiliki sumber daya alam yang sangat besar dan sebagian besar masih bersifat potensial.
  2. Memiliki kemampuan sosial-budaya yang belum dikelola secara maksimal.
  3. Memiliki kemampuan sosial-politik yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pembangunan kehidupan demokrasi.
  4. Memiliki sarana dan pra sarana pemerintah yang memadai.
  5. Memiliki sumber daya manusia yang banyak dan memenuhi syarat.
  6. Memiliki 7 buah kecamatan94 buah desa dan 2 kelurahan.  
  7. Berdasarkan hasil penelitian Tim Universitas Nusa Cendana-Kupang, bakal kabupaten SBD sangat layak menjadi sebuah kabupaten sendiri.
  8. Besarnya jumlah penduduk sebagai modal dasar pembangunan.
  9. Besarnya keinginan masyarakat untuk mekar.
Dasar- Dasar Pembentukan Kabupaten Sumba Barat Daya
  1. UUD 1945 tentang Pembagia Daerah Besar dan Kecil.
  2. UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.
  3. UU Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah.
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 129 tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukandan Kriteria Penghapusan dan Penggabungan Daerah.
  5. Keputusan DPRD Sumba Barat Nomor : 17 / DPRD / 2003 tanggal 31 Mei 2003 tentang Ulasan DPRD Terhadap Pemekaran Kabupaten Sumba Barat.
  6. Keputusan DPRD Sumba Barat Nomor 25 / DPRD / 2003 tentang Sikap DPRD Terhadap Pemekaran Kabupaten Sumba Barat, sebagai persiapan menyongsong pertemuan ke II, antara Komisi II DPR RI dengan Bupati dan Pimpinan DPRD Sumba Barat.
  7. Usul DPRD Sumba Barat bersama Pemda Sumba Barat dan ketua- ketua  Fraksi DPRD pada pertemuan dengan Komisi II DPR RI tanggal 9 Desember 2003 di Jakarta.
  8. Rekomendasi DPRD Sumba Barat Nomor : 26 / DPRD / 2003 tanggal 30 Desember 2003 tentang Persetujuan Pemekaran Kabupaten Sumba Barat.
Tujuan Pemekaran
  1. Mengentaskan Kemiskinan
    Secara resmi, kabupaten Sumba Barat terbentuk sejak 13 desember 1958 dan sampai dengan desember 2003, telah berusia 45 tahun. Namun dalam kurun waktu yang hampir mencapai setengah abad tersebut masih tergolong miskin, bahkan berada dibawah garis kemiskinan dan merupakan kabupaten termiskin di NTT. Ironis memang, dengan kekayaan alam yang melimpah ternyata masih menyandang predikat kabupaten miskin. Berdasarkan data faktual Kabupaten Sumba Barat tahun 2002, dengan penduduk sebesar 136,12 jiwa, 75,25% diantaranya masih tergolong miskin. Kemiskinan ini tidak hanya nampak di pedesaan tapi juga di perkotaan. Di Kecamatan kota Waikabubak misalnya, dengan jumlah penduduk 24,444 jiwa (tahun 2002), terdapat keluarga miskin sebesar 74,41%. Itu berarti, jumlah orang miskin di Kecamatan Kota Waikabubak berjumlah 18,678 jiwa...
    Persoalan kesejahteraan menjadi masalah yang menghantui sebagian besar warga Sumba Barat. Setiap orang menginginkan hidup yang lebih baik dan tentunya kesejahteraan harus merupakan sebuah kenyataan, bukan mimpi belaka. Dengan demikian mimpi dan cita- cita perjuangan pemekaran adalah mengeluarkan masyarakat Sumba dari lingkaran dan lilitan kemiskinan.
  2. Mendekatkan Pelayanan
     
    Ide pemekaran menitikberatkan pendekatan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, sehingga pengelola Pemerintahan dengan mudah dapat melayani masyarakat secara cepat. Hal ini tidak berarti bahwa pelayanan Pemerintah selama ini tidak berjalan. Dalam kurun waktu tersebut pelayanan Pemerintah berjalan cukup baik. Namun rentang kendali Pemerintahan dan Pembangunan cukup jauh sehingga masyarakat di Pedesaan “sering terlupakan”.
  3. Mengejar Kemajuan Pembangunan di Kawasan Indonesia TimurSeperti diketahui Kabupaten Sumba Barat tertinggal jauh dalam hal Pembangunan fisik dan ekonomi, jika dibandingkan dengan Daerah atau Kabupaten lain. Untuk mengatasi ketertinggalan ini, salah satunya adalah memacu dan memberi kemudahan bagi masuknya bahan non lokal ke Sumba Barat dengan harga terjangkau dan murah. Demikian sebaliknya, berbagai hasil komoditi Rakyat Sumba Barat harus di antarpulaukan sendiri oleh pedagang lokal ke daerah. Dengan demikian tidak terjadi perbedaan yang menyolok antara harga bahan- bahan non lokal dan harga komoditi lokal Rakyat.
Alasan Pemekaran
 
Selain untuk mendekatkan Pelayanan kepada Masyarakat, proses pemekaran yang diperuangkan oleh seluruh komponen masyarakat Sumba Barat Daya dilandasi oleh beberapa alasan. Alasan- alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
  1. Alasan Administrasi /  Management
    • Mempercepat peningkatan kesejahteraan Masyarakat.
    • Rentang kendali (Span Of Control) lebih di percepat.
    • Menggali potensi daerah yang belum tersentuh / dikembangkan.
    • Mendorong  peningkatan pelayanan dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Masyarakat serta memenfaatkan potensi daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah.
    • Capacity Building dapat dilakukan lebih efektif.
    • Akuntabilitas (tanggung jawab lebih efektif ).  
    • Heterogenitas lebih di percepat.
  2. Alasan Politik
    • Mempercepat pertumbuhan kehidupan demokrasi.
    • Integritas wilayah lebih ditingkatkan dalam arti memberi kesempatan dan mendorong masyarakat untuk mengembangkan potensi andalan.
    • Pelayanan sosial lebih ditingkatkan.
    • Kontrol sosial lebih ditingkatkan. 
       
      Wajah Baru Kantor Bupati Sumba Barat Daya
 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design