Jumat, 10 Januari 2014

Bayangan Dalam Asa

Beberapa bulan yang lalu aku baru putus dengan seseorang yang berbeda keyakinan denganku. Perbedaanlah yang membuat kami harus mengakhiri hubungan ini, dan kami telah sepakat untuk mencari dan menjalani dunia kami masing-masing. Aku pikir, masalah tentang perbedaan telah selesai, aku telah berhasil kabur darinya. Tapi rupanya perbedaan itu masih terus membuntutiku dan kali ini benar-benar menyiksaku. 
Hei cinta, apakah kau sedang bermain-main denganku? Bahkan sekarang kau membuatku jatuh hati pada seorang yang berbeda denganku. Perbedaan, lagi. 

Kenapa aku selalu jatuh cinta pada orang yang berbeda keyakinan denganku? Kata mereka (teman-temanku) perbedaan agama tidak masalah, itu bisa diatur. Ya, bagi mereka mungkin itu bukanlah masalah yang perlu dipikirkan. Tapi bagiku itu adalah masalah besar. Bagaimana kalau aku sudah sangat tergantung padanya? bagaimana kalau cintaku ini tak bisa merelakan? Bagaimana kalau dia telah kuanggap sebagai cinta terakhirku?
Kecemasan di atas bisa saja terjadi karena aku telah jatuh cinta padanya. Aku sudah terlanjur menaru hati padanya. Tapi, aku sadar, ada jurang besar yang memisahkan kami. Jurang yang tidak bisa menyatukan dua perbedaan walaupun sama-sama jatuh ke dalamnya, walaupun bakal sama-sama terkubur dalam lubang itu, namun tetap saja tidak akan bisa menyatu. 

“Dia sudah punya pacar,” ditengah kecemasanku, kalimat itu yang terdengar. Kalimat yang benar-benar membuat perutku mual. Tapi aku berusaha santai, tenang. Aku tak merasakan apa-apa. aku berusaha melawan kekecewaan hatiku. Aku meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Namun, semakin aku berusaha menenangkan hatiku, ku dapati hatiku telah hancur berkeping-keping. Hatiku tidak sedang baik-baik saja. Hatiku telah hancur, tepat saat kalimat itu terucap.

Berharap. Ya, aku sudah terlanjur berharap padanya. Aku bahkan sudah bermaksud membuang kecemasan-kecemasan itu, aku sudah siap untuk menjalani kisah bersama dia yang telah berhasil buat aku merasakan cinta pada pandangan pertama. Aku telah berusaha mengikuti hatiku dan mengabaikan perbedaan untuk sementara. Aku telah berniat untuk memberontak pada perbedaan. Aku siap berjalan dalam perbedaan. Namun, kalimat itu menyadarkanku bahwa dia memang tercipta bukan untuk kumiliki. Dia tak punya tiket untuk berlayar ke hatiku. Dia bukanlah insan yang bisa aku jangkau. Dia cuma secercah cahaya yang melintas sesaat, tanpa harus mengenai hatiku yang suram ini, tidak sama sekali. Dia hanya bayangan dalam asa.

Salam unyu-unyu ^.^

Minggu, 22 Desember 2013

My Mom, My Inspiration


Seandainya Tuhan kasih kesempatan kepadaku untuk meminta sesuatu, aku akan memohon kepada-Nya untuk menghapus kematian dari muka bumi ini. Ya, kematian yang menyebabkan kehilangan, karena dimana ada kematian, di situ hadir pula kehilangan, kekecewaan dan itu pahit banget rasanya. Kehilangan orang yang kita sayangi pasti membuat kita sangat terpukul. Sekian lama kita bersamanya, bercanda bersamanya. Ada marah, pertengkaran, saling membenci, saling menyalahkan, bahkan timbul rasa iri, dan saling menjatuhkan. Tercipta pula rasa sayang yang menyatuh dalam disetiap warna-warni kehidupan bersama dia. Kenangan-kenangan itulah yang membuat kita merasa berat melepas seseorang yang telah mengisih hidup kita, tidak peduli dia pernah menyakiti atau membenci kita. Yang jelas, kematian hanya memiliki satu rasa, yaitu kehilangan.

Diam-diam aku benci kehilangan. Mengapa kita di kasih kesempatan membuat kenangan indah bersama orang-orang yang kita sayangi kalau akhirnya kenangan itu tinggal kenangan? Akan hilang? Yang hanya menyisahkan duka dan perih? Mengapa disetiap pertemuan harus berakhir dengan kehilangan? Bagiku, kehilangan adalah kata terkutuk yang harus dimusnakan dari muka bumi ini.

Kematian telah merenggut sosok yang paling aku sayangi dalam hidup ini. Seseorang yang ku panggil Mama. Seseorang yang kusebut Malaikat. Dialah motivasi dan inspirasiku. Wanita kuat dan tegar. Tidak ada satu wanita di dunia pun yang menyamai pengorbanannya demi anak-anaknya. Ia terus melawan kerasnya hidup. Menentang panas teriknya matahari, menghalau derasnya arus hujan. Semangatnya tak pernah pudar. Senyumnya seakan ingin mengatakan kepada dunia, bahwa sekeras dan sekejam apapun, ia tak akan pernah menyerah. Dia wanita pantang menyerah.

“kamu adalah anak yang paling disayangi, kamu selalu dimanja, kalau kamu nangis, pasti kami yang dimarahi,” kata kakakku suatu saat ketika kami sedang makan malam bersama.

iya, mentang-mentang anak bungsu,” sambung kakakku yang lain. 

Aku cuma cengar-cengir dengar pengaduan dari kakak-kakakku. 

“sudah, sudah, kalian kan sudah besar-besar jadi kalian sudah mengerti, dia masih kecil, dia belum ngerti apa-apa,” lagi-lagi Mama punya jawaban untuk membelaku. 

Dalam hati aku makin menyayanginya. Dari sorot matanya, aku dapat menangkap sejuta rasa sayang Mama yang begitu tulus untukku. Maka, aku pun berjanji dalam hati untuk selalu membuat dia tersenyum. Namun, sebagai remaja yang masih labil, aku kadang membuat Mama marah, semakin aku ingin membuat Mama tersenyum, semakin aku melakukan kesalahan. Dari bohong yang akhirnya ketahuan sampai bohong yang sampai sekarang tidak ku akui di depan Mama. Sekarang, sejak ia telah pergi semuanya akan jelas, karena dari surga Mama akan tetap memantauku, bahkan disaat aku menulis cerita ini, Mama pasti sedang melihatku. Kalau Mama bisa mendengar, aku mau bilang kalau aku sayang, aku rindu Mama, aku minta maaf Ma, kalau dulu sering buat Mama kecewa, dan sakit hati. Aku juga minta maaf kalau selalu berbohong sama Mama. Aku janji, aku akan menjadi anak yang baik. Anak yang bisa membahagiakan keluarga, seperti harapan Mama. Aku akan berusaha menjadi anak yang berguna, yang sayang keluarga, seperti yang Mama inginkan. 

21 tahun Mama mengasuhku, merawatku dengan penuh kasih sayang. Marahnya adalah bukti cinta yang begitu tulus. Tanpa ketegaran, kekuatan dan pengorbanannya aku tidak akan berada di sini sekarang, di Universitas Sanata Dharma. Itu semua berkat usaha kerja keras Mama, beliau sangat berarti dalam hidupku. 

Mama, mengajarkan aku banyak hal, seperti arti ketekunan, arti waktu, arti disiplin, arti mengasihi, dan masih banyak lagi arti-arti kehidupan yang kupelajari dari wanita istimewa ini. Sungguh ia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk membentuk aku menjadi anak yang bertanggung jawab, anak yang berguna bagi keluarga dan orang-orang disekelilingku. 

Waktu aku masih duduk di bangku SD sampai SMA, tiap malam Mama pasti menyuruh aku untuk belajar, walaupun itu hari libur atau tidak, “belajar adalah hal utama yang wajib dilakukan anak sekolah, jadi tidak harus disuru untuk belajar, seharusnya kalian tahu tugas utama kalian sebagai anak sekolah” itulah kata-kata yang diucapkan Mama kalau kami anak-anaknya kelihatan malas-malasan untuk belajar. 

Mama bukan seorang wanita karir, bukan juga seorang wanita yang bekerja di tempat ber-AC, Mama adalah wanita yang hanya mengandalkan barang-barang seperti buah-buahan, sayuran, dll untuk diperdagangkan. Setiap hari Rabu dan Sabtu Mama membawa barang-barang yang di dapatnya di Omba Rade, Sumba Barat Daya ke Waingapu, Sumba Timur untuk di jual di sana. Penghasilan Mama sebagai seorang wiraswasta tidaklah banyak. Berbagai saingan, ancaman, dan tipuan berkali-kali ia alami, namun Mama tidak pernah menyerah, walaupun ia harus capek bahkan sampai sakit terkena amukan matahari dan terjangan hujan, Mama tidak pernah mengeluh dan menyalahkan kami anak-anaknya. Mama, melakukan semua itu dengan hati, dan sangat tulus. Kerja keras itulah yang Mama tanamkan dalam kehidupan kami, “tidak ada pekerjaan yang tidak membutuhkan kerja keras dan pengorbanan,” “ tidak ada berkat yang turun sendiri dari langit tanpa kita bekerja mencarinya.” Itulah kata-kata motivasi yang selalu Mama ucapkan kepada kami anak-anaknya. Mama mengajar semua kakakku dan juga aku untuk bekerja dengan hati, “lebih baik kita mendapat penghasilan sedikit dengan kerja jujur, daripada kita menghasilkan segudang uang tapi dari hasil ketidakjujuran.” 

Mama tidak suka melihat anak-anaknya menghambur-hamburkan uang, walaupun itu uang 100 perak, kata Mama, dari seratus perak itu yang akan mendatangkan seribu, dari seribu baru ada sepuluh ribu, dan seratus ribu, jadi jangan meremehkan 100 perak. 100 perak masih termasuk uang dan masih punya harga jual, bukan sebuah koin mainan tak berharga. 

Kenangan-kenangan itu membuat perutku terasa mual dan kepalaku berputar kencang. Kata-kata Mama selalu tersimpan rapi di mememori otakku. Kalau aku besar nanti, aku ingin seperti Mama, menjadi wanita hebat. Itu ikrarku. 

Selamat hari Ibu buat wanita-wanita hebat, terkhusus buat Mamaku tersayang yang sekarang lagi merangkai bintang dan menabur bunga bersama Sang Esa di tempat paling indah yaitu Nirwana..

Jumat, 06 Desember 2013

Lelaki di "Lampu Merah"

Sabtu malam, gue diajak adek gue ke Mirota Kampus. Berhubung yang ngajak adek, jadi namanya sabtu malam, kecuali kalo yang ngajak itu gebetan, baru namanya malam minggu. Pas di lampu merah, gue lirik kanan, kiri. Semuanya pada punya pasangan, di atas motor. Pasangan yang gue maksud tentu yang beda jenis kelaminnya. Gue kembali fokus ke depan. Gue berusaha santai, mungkin diantrian belakang ada yang boncengan sama adeknya juga, atau bahkan ada yang dibonceng pembantunya. Gue yakin banget.

5 menit kemudian, mata gue kembali seliweran, ya penasarannya aja, masa iya di lampu merah ini gak ada yang senasib sama gue. Disela-sela kesibukan gue ngelarak-ngelirik ciptaan Tuhan yang ada di sekeliling gue, mata gue tertahan pada seorang cowok yang benar-benar gak asing. Motornya juga gak asing banget. Gue terus mengamati cowok itu. Gue berusaha meyakinkan apa yang barusan gue lihat. Dan setelah gue amati dengan seksama dan sejelas-jelasnya, dugaan gue benar, itu Beno, pacarnya temen gue.

Eits, itu siapa yang duduk manis di belakangnya? Shinta? Eh, ternyata bukan. Itu bukan Shinta pacarnya. Itu cewek lain, cewek yang gak gue kenal. Oh my God! Berarti si Beno... Wah dasar laki-laki saiko, mesrah-mesrahan lagi, "woi, ini lampu merah bukan kosan nenek, lo." batin gue. 

Sumpah! Gue gak sirik, tapi gue gak terima cowok brengsek itu mainin perasaan temen gue. Barusan kemarin kami jalan bareng, dan baru kemarin juga Shinta kenalin Beno ke gue dan temen-temen lain, sekarang malah sudah terlihat dengan cewek lain. Gak mungkin dalam waktu beberapa jam mereka putus dan si Beno langsung dapat yang baru. Yang lebih gak mungkin lagi, karena mereka kemarin masih baik-baik saja. 

Saking penasarannya, gue sms Shinta, "Shin, lo dimana?"

"Gue lagi di Klaten,  di rumah Simbah, tadi mendadak di jemput Pak De, soalnya Simbah sakit, kenapa?" balas Shinta.

What? Klaten? Pantasan cowoknya ular, ceweknya lagi jauh di Klaten.

"Si Beno ikut ke Klaten gak?" gue pura-pura tanya.

"Gak, dia katanya mo ngerjain tugas ma temennya jadi gak bisa ikut tadi. Kenapa sih?"

Ngerjain tugas? Huh! Dasar buaya, pinter banget nyari alasan. Belum sempat gue balas, si jago merah udah berganti jadi si buto hijau, dan Beno udah tancap gas mendahului kami.  Suasana di lampu merah ramai banget, motor-motor berlomba untuk mendahului satu sama lain.

Dengan penuh kesabaran, akhirnya kami tiba di Mirota Kampus dengan selamat sentosa. Gue meraih hp yang tadinya gue amankan di tas. Ada sms dari Shinta.

"Bi, tadi Beno sms katanya dia liat lo sama adek lo di lampu merah,"

What? Sebenarnyakan gue yang mau bilang ke Shinta kalo gue liat Beno tadi di lampu merah, kok jadi si Beno yang duluan kontak Shinta?

"Lho bukannya dia lagi ngerjain tugas? Ngapain ke lampu merah?" balas gue sebel.

"Katanya dia lagi keluar sama Thomas nyari Brownies di Amanda," 

Sama Thomas? Yang diboncengnya tadi itu bukan cowok. Itu asli-asli cewek. Walaupun gue pake kacamata gue masih bisa bedakan mana cewek dan mana cowok.  Secantik itu dibilang Thomas? Oh God, Shinta benar-benar dikibulin sama Beno.

"Lo yakin dia keluar sama Thomas? Udah tanya sama Thomas?" balas gue semakin gondok.

"Emang kenapa sih, Bi? Kog lo gak percaya gitu?" balas Shinta.
 Akhirnya dia kepancing juga sama sms gue. Sejujurnya pertanyaan itu yang gue tunggu-tunggu dari tadi.

"Ya, tadi gue liat dia boncengan sama cewek di lampu merah, makanya gue sms lo. Dia bukan sama Thomas, coba lo tanya Thomas," 

"Serius, Bi? Tapi ini barusan gue telpon Thomas, katanya dia lagi sama Beno,"

"Ya elah, Shin. Ngapain coba gue sms malam-malam hanya untuk bo'ongin  lo sama hal-hal kek gini. Kayak kurang kerjaan aja. Gue serius Shin, sribu rius malah. Mending lo telpon tanya dia di mana sekarang, dan sama siapa. Minta dia jujur sama lo. Gue yakin apa yang gue liat tadi, Shin." Gue sms panjang lebar.

"Udah, Bi. Tapi nih Thomas barusan telpon katanya dia abis beli Brownies gitu sama Beno, mungkin lo salah liat kali, Bi."

Okey, Fine! Gumam gue dalam hati. Gue gak balas sms Shinta. Gue sebel sama dia. Beno benar-benar keterlaluan. Si Thomas juga, ngapain pake bela-belain temennya. Dasar, satu kepalanya buaya, satunya lagi ekornya buaya.

Semenjak saat itu gue gak pernah lagi ngungkit-ngungkit masalah yang di lampu merah itu. Berkali-kali gue liat Beno jalan sama cewek lain tapi gue gak berani lagi cerita ke Shinta. Maklum, emang susah kalo ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta. Shinta udah kemakan sama manisan berbagai rasa yang diberikan Beno lewat rayuan gembelnya.
Gue hanya berharap ada Peri baik yang mau memberitahu Shinta tentang kelakuan Beno.

Seminggu kemudian, Shinta nyamperin gue ke kost. Dia bilang ke gue kalo dia udah putus sama Beno. Ternyata Beno kedapatan jalan sama cewek lain dan gak sengaja berpapasan dengan Shinta di pintu masuk waktu Shinta lagi belanja ke Amplas temenin kakaknya. Saat itu, Shinta dan kakaknya hendak pulang dan si Beno dan selingkuhannya baru akan masuk. Dan terjadilah perang dunia ke bla-bla-bla. Di depan pintu masuk itu juga Shinta mengeluarkan kata yang seharusnya dia udah keluarkan sejak kejadian di lampu merah, sebuah kata yang paling dibenci oleh semua pasangan yang lagi jatuh cinta yaitu "PUTUS". Cewek selingkuhan Beno juga kaget melihat insiden itu dan dengan satu tamparan keras ia meninggalkan Beno sendirian meratapi nasibnya. Dengan berlalunya cewek selingkuhannya itu, maka berakhirlah kisah cinta si cantik Shinta dan si playboy Beno.

Akhir cerita gue cuma ngasih penguatan ke Shinta, kalo cowok kayak Beno itu gak perlu ditangisi. Masih banyak cowok di luar sana yang lebih baik dari dia. 

Walaupun kata-kata gue terdengar sangat basi, rupanya Shinta mengamininya dan lihat, dia menghapus air matanya dan tersenyum.

Kau harus kuat, teman .. :)

Ya, buat kalian-kalian yang sekarang lagi berbunga-bunga dan terhipnotis sama kata-kata manis dari pasangan kalian, saran gue sih hati-hati aja. Jatuh cinta itu boleh. Mencintai dan menyayangi pasangan kita juga boleh banget. Percaya sama pasangan kita juga boleh sekali, asal jangan pasangan orang lain aja yang kita percaya. hehe.. 

Namun adakalanya kita wajib mencari tahu kegiatan apa saja dan siapa saja orang yang berhubungan/dekat dengan pasangan kita selain diri kita sendiri. Bukannya kita gak sepenuhnya percaya sama pasangan kita, atau cenderung posesif. Enggak! Tapi supaya kita lebih mengenal pasangan kita lebih dari apa yang dia perkenalkan ke kita. Karena kadang apa yang keluar dari mulutnya belum tentu itu yang ia lakukan. 


Cerita gue di atas itu adalah kisah nyata. Kisah cinta temen gue. Gue berani nulis di blog ini atas persetujuannya dia (Shinta) juga, biar cewek-cewek ataupun cowok dan siapapun kalian yang nyasar ke blog gue dan baca ini, lebih menjaga hubungan dan komunikasi dengan pasangannya. Biar ending dari cerita cinta kalian gak sama kayak temen gue, yang kisah cintanya harus berakhir di depan pintu masuk Mall. hihi..

Suasana dan tempat kejadiannya sama persis, cuma namanya yang gue samarkan alias bukan nama sebenarnya.

Untuk Beno, kalo lo tiba-tiba nyasar ke blog gue dan baca cerita ini, gue harap lo baik-baik aja ya, jangan marah. Kalo marah juga gak apa-apa, kan lo gak tahu kosan dan nomor hp gue, hehee *Justkid Beno.
Gue juga berharap cukup temen gue yang lo buat kayak gitu, sayangi pacar lo yang sekarang (kalo udah ada). Jangan coba-coba lo buat hal yang sama seperti yang lo lakuin ke temen gue. 

Pesen gue cuma satu, lelaki sejati adalah lelaki yang mampu menaklukan satu wanita saja, bukan banyak wanita. Kalau banyak wanita itu namanya bukan lelaki sejati, tapi lelaki belati. 

Buat, temen gue. Galaunya udahan ya, semoga lo cepat ketemu belahan jiwa lo, seorang yang adalah lelaki sejati bukan lelaki belati.. :)

Salam unyu-unyu ^.^

Selasa, 03 Desember 2013

Lelaki Bermata Bara

Bola mata yang indah, buatku menatapmu tanpa kedip
Suara yang halus dan lembut, mampu meredamkan amarah dan kesal hatiku
Tingkahmu bak Pangeran, buatku tak ingin jauh dari sampingmu
Apakah ini cinta?

Kau bagai matahari yang selalu buat hariku berseri
Seperti bulan yang memancarkan sinar kehidupan di malam penuh kepekatan
Bagai kunang-kunang yang ke sana kemari mengantarkan cahaya
Kaukah cinta itu?

Ketika semua mengatakan pelangi itu indah
Ku dapati kau lebih indah
Ketika bumi mengatakan hujan adalah badai
Ku dapati kaulah alasanku menari di tengah derasnya

Ketika sang uang dengan angkuh mengatakan bahwa dialah pusat kebahagiaan
Ku dapati kaulah yang buatku mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya

Ketika musik melantunkan irama "Salsa"
Ku dapati kaulah alasanku terus berdansa 
Ketika semua orang mengagumi kehebatan Magic seorang Demian 
Ku tersadar hanya kaulah yang mampu buatku kagum
Apakah ini cinta?

Bila nanti seekor bintang jatuh di malam hari
Aku ingin memohon agar aku tetap seperti ini
Terus mengagumi dan mencintaimu
Terus mendekap dan menyayangimu
Karena aku telah memenangkan hatimu
Lelaki bermata bara.. 

Yogyakarta, 3 Desember 2013 

Minggu, 01 Desember 2013

Langit Pekat Malam Itu

Kala malam itu, aku duduk merenung di bawah langit pekat yang menatapku angkuh.
Entah mengapa, malam ini tak bersahabat denganku.
Aku butuh bulan, namun ia tak juga nampak.
Aku butuh bintang, mereka juga tak sudi menemaniku. 
Apa salahku? 
Kenapa semua menjauh?
Kenapa semua tak ada yang ingin berteman denganku?

Dia pun menjauh dariku.
Dia? Siapa dia? 
Masihkah dia yang kumaksud?
Bintang kecilku? 
Tidak! Bukan dia, tapi orang lain.
Ah, sudah kusangkali.
Tapi hatiku tak mau menyangkalinya.
Dia yang ku maksud..
Dia bintang kecilku..
Dia yang pergi karena kebodohanku
Dia yang sangat kucintai..

Hei malam, apakah kau tahu isi hatinya?
Apakah kau temukan namaku di hatinya?

Dia datang waktu itu..
Dia memintaku untuk menyambung kembali benang yang sudah lama putus.
Namun, setelah tawaran itu bagai oksigen yang menyelamatku dari kegalauan stadium akhir, dia malah menusuk aku dengan kata perpisahan.
What's wrong?

Hei, kau tak memberi alasan yang jelas.
Kau malah mencari kambing hitam.

Hei langit malam, kita berjodoh bukan?
Kepekatan yang menerjangmu saat ini sama dengan kepekatan yang kurasakan.
Tidakkah kau tersenyum padaku? Sedikit saja. Tidakkah?
Ah, tak perlu..
Mendadak aku benci kehadiranmu.
 
Kau tetap indah walau dalam kepekatan..
Tapi aku..
Lihat aku.. 
Apakah aku terlihat indah saat ini?
Ah, tak usah kau bohong, aku memang buruk
Kepekatan ini membuatku makin buruk..
 
Aku menyerah..
Aku dikalahkan oleh waktu..
Hei bintang kecilku..
Ah, masih pantaskah kau ku panggil "bintang kecil?"

Peduli setan!
Hei, kau! Ya, kau yang ku maksud
Dimana pun kau sekarang
Ku doakan kau selalu bahagia dengan pilihan hatimu!

Si penggelisa hati..
 
Yogyakarta, 30 November 2013

Kamis, 28 November 2013

Untuk Sebuah Tetesan (Hujan)

Angin mulai menghardik dengan lembut
Burung-burung camar pun terlunta-lunta
Mencari tempat yang layak
Pohon-pohon mulai menari tanpa musik juga melodi
Si empunya siang telah masuk ke peristirahatannya

Penghuni bumi mulai panik
Berlarian sana-sini mencari tempat berteduh

Lihat petani di sana,
Ada senyum puas merekah di wajahnya
Dalam hati ia berucap "kehidupan telah datang"

Tengoklah si gadis remaja di sana
Ia nampak kesal karena hadirmu
Kau telah merusak kencan pertamanya

Bagaimana dengan bocah yang bernyayi di tengah derasmu?
Tariannya indah, ia nampak ceria
Ia mencintaimu, sangat mencintaimu
Lihat, ia berlari mengejar tetesan itu
Ia menengadah membiarkan wajahnya tersapu oleh belaianmu

Ya, hadirmu bumi mencekam
Hanya suara derasmu yang terdengar di sana-sini
Namun inilah cara Sang Khalik 
Memeluk bumi dengan curahmu.

Yogyakarta,  26 November 2013

Selasa, 26 November 2013

Study Tour HMPS Pend. Matematika Universitas Sanata Dharma - Malang

HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma mengadakan study tour ke Malang pada tanggal 14-17 November 2013, yaitu di Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadyah Malang (UMM) dan SMA Kolose Santo Yusup (Hua Ind). Dengan tujuan (1) memberikan sarana bagi mahasiswa Pendidikan Matematika untuk menambah wawasan dari luar Universitas Sanata Dharma yaitu Universitas Negeri Malang, (2) memberikan wawasan baru mengenai media pembelajaran matematika berupa penggunaan media komputasi sebagai media pembelajaran matematika, dan penggunaan alat peraga serta animasi alat peraga di Universitas Muhammadyah Malang, (3) menambah pengetahuan mengenai pengelolaan kelas, manajemen kelas, pendidikan karakter, dan penerapan kurikulum 2013 di SMA Kolose Santo Yusup (Hua Ind).

Selain itu, kunjungan ini juga digunakan sebagai sarana silaturahmi antar Universitas, Sekolah maupun Instansi yang terkait sehingga akan tercipta hubungan yang baik. Dengan adanya kegiatan study tour inilah akan diperoleh manfaat berupa pertukaran pengetahuan serta hal-hal positif dan pada nantinya dapat meningkatkan kualitas dari masing-masing Universitas, Sekolah maupun Instansi yang terkait.

Yang mengikuti study tour ini sebanyak 45 orang peserta yang terdiri dari angkatan 2011-2013. 23 orang panitia dan 2 orang dosen. Harapannya peserta yang mengikuti study tour ini mampu menyebarluaskan pengetahuan yang mereka dapat kepada teman-teman lainnya yang tidak berkesempatan mengikutinya. Sehingga seluruh warga Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma mendapatkan manfaat dari kegiatan ini. Timbal balik dari kegiatan ini, peserta wajib membuat PAPER yang isinya semua kegiatan selama berdinamika di UM, UMM dan SMA Hua Ind.

Di bawah ini akan dipaparkan kegiatan apa saja yang kami lakukan selama study tour di Kota Apel ini:
  • Universitas Negeri Malang (UM)
Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) MIPA UM dan kami dituntun menuju ruang Aula. Di sana selama kurang lebih 3 jam kami berdinamika bersama. Ketua HMJ MIPA UM memaparkan mengenai struktur organisasi dan kegiatan apa saja yang terkait di dalamnya untuk mengembangkan prodi mereka. UM juga memiliki Pusat Pembangunan Matematika Sekolah yang sementara dibangun. Untuk olimpiade matematika, keterlibatan dosen sangatlah besar terutama untuk pembuatan soal. 

Tidak ada bidang yang menangani pembuatan alat peraga di UM, karena sudah ada mata kuliah yang menangani itu sendiri.
Akhir pertemuan, kami mendapat materi tentang Media Pembelajaran dari Bapak Lathiful Anwar, salah satu Dosen Universitas Negeri Malang.

Beberapa foto yang sempat kami dokumentasikan selama di Universitas Negeri Malang:

Sambutan dari salah datu Dosen Matematika UM
Sambutan dari ketua HMJ MIPA UM
Peserta study tour duduk manis mengikuti acara demi acara di UM
Bapak Lathiful Anwar memberikan materi tentang Media Pembelajaran
Pemberian cendera mata dari UM kepada Universitas Sanata Dharma
Pemberian cendera mata dari Universitas Sanata Dharma Kepada UM
  • Universitas Muhammadyah Malang (UMM)
Saat kami berkunjung ke Univeritas Muhammadyah Malang, bertepatan dengan saat itu ada kunjungan dari Metro Tv. Walau sedikit ramai, HMJ-MATRIKS Matematika UMM tetap menyambut kami dengan ramah, dan menuntun kami menuju salah satu ruangan yang berada di lantai 3 setengah (karena berada diantara lantai 3 dan 4). Di sini kami membuka acara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Banyak hal baru yang kami dapatkan di sini, kami belajar tentang penggunaan komputasi sebagai media pembelajaran matematika, dan pembuatan animasi alat peraga matematika. Kami juga mendapat beberapa alamat Web yang kiranya membantu kami mempelajari hal-hal di atas.

Akhir acara, kami dituntun Mas Rizal, ketua HMJ-MATRIKS berfantasi melihat gedung-gedung yang ada di Universitas Muhammadyah Malang, seperti perpustakaan dan ruang kerja HMJ-MATRIKS.

Beberapa foto yang sempat kami dokumentasikan selama di Universitas Muhammadyah Malang:


Ketua HMJ-MATRIKS UMM, Mas Rizal memberikan sambutan
Salah satu Dosen Pendidikan Matematika UMM memberikan sambutan
Pemberian cendera mata dari UMM kepada Universitas Sanata Dharma
Pemberian cendera mata dai Universitas Sanata Dharma kepada UMM
  •  SMA Kolose Santo Yusup (Hua Ind)
"Selamat datang calon-calon Pahlawan" begitulah kalimat yang kami jumpai ketika menginjakkan kaki di sekolah ini. 

Pahlawan? Apakah mahasiswa seperti saya adalah seorang calon Pahlawan? Sepertinya saya ragu dengan kata "Pahlawan" itu.

Di sekolah ini banyak hal yang kami dapatkan, baik mengenai pengelolaan kelas, manajemen kelas, pendidikan karakter, hingga penerapan kurikulum 2013.

Saat sharing bersama guru-guru matematika di sekolah ini, seorang peserta study tour bertanya, "Mana yang lebih membuat mereka nyaman, mengajar dengan metode mereka sendiri, atau mengajar sesuai kurikulum 2013?" salah satu guru menjawab seperti ini, "Kalau ingin jawaban yang jujur, saya lebih suka menggunakan metode mengajar saya sendiri. Tapi, kalau mau bohong saya menikmati cara mengajar saya sekarang (menggunakan metode kurikulum 2013)". Semua guru yang hadir pada saat itu juga berpendapat sama.
"Kurikulum 2013 memang bertujuan baik, tapi siswa kami ketika belajar matematika, harus benar-benar dituntun. Contoh materi Integral, kami tidak dapat melepas mereka untuk mempelajari sendiri. Apa itu Integral? Sejenis makanankah? Kami tidak bisa kalau hanya memberikan materi saja dan selebihnya silahkan mereka cari sendiri. Tidak! Kami tidak seperti itu, kami tetap mendampingi mereka. Kecuali ada pelajaran yang cukup mudah untuk dipelajari sendiri, baru kurikulum 2013 itu kami terapkan". Begitulah penjelasan dari  guru-guru hebat ini.

Saya pribadi sependapat dengan guru-guru di sekolah ini. Untuk mempelajari matematika, memang tidak bisa membiarkan siswa/anak didik belajar sendiri. Butuh bimbingan dan penjelasan dari guru, karena itulah tugas guru yang sebenarnya. Bukan memberikan materi dan kemudian duduk manis membiarkan siswa kerepotan menemukan penjelasan dan jawaban dari materi yang tidak dipahami.

Kepala sekolah, bapak Peter B. Sihombing adalah sosok kepala sekolah yang tegas dan sangat peduli pada pendidikan. Beliau memberikan banyak suntikan kepada kami selaku calon-calon guru melalui kata-katanya, "Parameter majunya negara adalah Pendidikan", "Hiduplah dalam berandai-andai dan Anda akan  gagal", "Pelajar yang baik adalah pelajar yang lebih mengusahakan proses daripada hasil. Hasil hanyalah akibat/konsekuensi dari proses", "Biarlah dosa masa lalu menjadi milik masa lalu kita", "Yang buat orang memperoleh kesuksesan adalah kejujuran".

Terima kasih, Pak. Berkat kata-kata bapak, sekarang saya sadar, saya tidak ragu lagi. BENAR! saya adalah calon pahlawan yang akan berjuang mengubah dunia lewat profesi Guru yang sebentar lagi saya embani.

Beberapa foto yang sempat kami dokumentasikan selama di SMA Kolose Santo Yusup (Hua Ind):
Kepala sekolah SMA Hua Ind, Peter B. Sihombing
Peserta study tour sedang melihat koleksi buku di perpustakaan SMA Hua Ind
Pemberian cendera mata dari SMA Hua Ind kepada Universitas Sanata Dharma
Pemberian cendera mata dari Universitas Sanata Dharma kepada SMA Hua Ind
Perpustakaan SMA Hua Ind
Selain kegiatan di Universitas dan Sekolah, kami juga mengunjungi tempat wisata yang ada di Malang. Yaitu di BNS dan Jatim Park.
Mau lihat foto-foto narsis kami saat berwisata ke BNS dan Jatim Park? Intip aja di sini
 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design