Jumat, 10 Januari 2014

Bayangan Dalam Asa

Beberapa bulan yang lalu aku baru putus dengan seseorang yang berbeda keyakinan denganku. Perbedaanlah yang membuat kami harus mengakhiri hubungan ini, dan kami telah sepakat untuk mencari dan menjalani dunia kami masing-masing. Aku pikir, masalah tentang perbedaan telah selesai, aku telah berhasil kabur darinya. Tapi rupanya perbedaan itu masih terus membuntutiku dan kali ini benar-benar menyiksaku. 
Hei cinta, apakah kau sedang bermain-main denganku? Bahkan sekarang kau membuatku jatuh hati pada seorang yang berbeda denganku. Perbedaan, lagi. 

Kenapa aku selalu jatuh cinta pada orang yang berbeda keyakinan denganku? Kata mereka (teman-temanku) perbedaan agama tidak masalah, itu bisa diatur. Ya, bagi mereka mungkin itu bukanlah masalah yang perlu dipikirkan. Tapi bagiku itu adalah masalah besar. Bagaimana kalau aku sudah sangat tergantung padanya? bagaimana kalau cintaku ini tak bisa merelakan? Bagaimana kalau dia telah kuanggap sebagai cinta terakhirku?
Kecemasan di atas bisa saja terjadi karena aku telah jatuh cinta padanya. Aku sudah terlanjur menaru hati padanya. Tapi, aku sadar, ada jurang besar yang memisahkan kami. Jurang yang tidak bisa menyatukan dua perbedaan walaupun sama-sama jatuh ke dalamnya, walaupun bakal sama-sama terkubur dalam lubang itu, namun tetap saja tidak akan bisa menyatu. 

“Dia sudah punya pacar,” ditengah kecemasanku, kalimat itu yang terdengar. Kalimat yang benar-benar membuat perutku mual. Tapi aku berusaha santai, tenang. Aku tak merasakan apa-apa. aku berusaha melawan kekecewaan hatiku. Aku meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Namun, semakin aku berusaha menenangkan hatiku, ku dapati hatiku telah hancur berkeping-keping. Hatiku tidak sedang baik-baik saja. Hatiku telah hancur, tepat saat kalimat itu terucap.

Berharap. Ya, aku sudah terlanjur berharap padanya. Aku bahkan sudah bermaksud membuang kecemasan-kecemasan itu, aku sudah siap untuk menjalani kisah bersama dia yang telah berhasil buat aku merasakan cinta pada pandangan pertama. Aku telah berusaha mengikuti hatiku dan mengabaikan perbedaan untuk sementara. Aku telah berniat untuk memberontak pada perbedaan. Aku siap berjalan dalam perbedaan. Namun, kalimat itu menyadarkanku bahwa dia memang tercipta bukan untuk kumiliki. Dia tak punya tiket untuk berlayar ke hatiku. Dia bukanlah insan yang bisa aku jangkau. Dia cuma secercah cahaya yang melintas sesaat, tanpa harus mengenai hatiku yang suram ini, tidak sama sekali. Dia hanya bayangan dalam asa.

Salam unyu-unyu ^.^

0 komentar:

Posting Komentar

 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design