Selasa, 10 Mei 2016

Aku (Guru) dan Mereka (Siswa)



Mbel, gue boleh curhat gak? Hari ini gue capeeekkkk banget. Mungkin kalo ada yang tanya siapa manusia paling capek di dunia, pasti gue orang pertama yang nganjungin jari tinggi-tinggi. Ya, aktivitas sekolah yang padat benar-benar menguras seluru energi gue, padahal gue udah minum tuh Fatigon Spirit sama minum Ekstra Joss juga. Tapi tetap aja gue ngerasa badan gue seperti dilindas bouldouser yang gedenya segede pulau NTT. 

Mbel, seharusnya gue bersyukur ya udah dapat kerjaan. Karena masih banyak orang di luar sana yang masih membutuhkan pekerjaan. Tapi kok gue masih aja terus mengeluh. Ya, gue sadar sih, mendidik anak jaman sekarang itu susahnya seperti nyari jarum yang jatuh dalam tumpukan jerami. Kalau dalam matematika, susahnya tak berhingga. 

Duduk dengan pandangan kosong, kadang-kadang sambil nguap meski masih pagi, bercerita dengan teman, suka asik sendiri, keluar masuk kelas aja sesuka hati, di kasih tugas pura-pura ngerjain padahal sebenarnya lagi menggambar di bagian belakang buku, ngukir nama di buku, kadang pura-pura mendengar penjelasan guru padahal lagi hp’an atau lagi nunggu balasan sms/bbm dari do’i atau siapalah, minta ijin ke toilet padahal tujuan ke kantin, ke sekolah bawa selembar buku, entah buku apa kadang gak sesuai sama jadwal pelajaran hari itu bahkan ada yang gak tau jadwal pelajaran hari itu apa, kalau di kasih tugas yang ngerjain satu orang, sisanya ‘copy-paste’ kalau ulangan gak bisa diam, mulut komat kamit kayak lagi baca mantra (mungkin lagi doain supaya gurunya di depan pingsan dan mereka bisa buka catatan), sibuk ngelirik sana-sini kalau kedapatan alibinya minjem ‘tip-x’. Setiap di kasih soal yang sedikit berbeda dari contoh soal wajah udah kayak gorilla yang sebulan gak makan, atau wajah yang seperti minta roti di kasih ular. Kalau di kasih PR gak ngerjain, alasannya lupa atau gak datang pas dikasih PR, atau buku PR nya hilang atau juga lupa tulis soal. 

Bagaimana reaksi lu jika dikasih kesempatan untuk mendidik 10 aja, anak yang seperti itu dalam sebulan? Yakin setelah sebulan itu otak lu masih sehat? Yakin dalam sebulan itu lu masih baik-baik saja dan minta perpanjang dua bulan, tiga bulan, atau lebih dari setahun. Yakin? Mungkin kalau ada yang serius pengen belajar, hanya 1 atau 2 orang dari 10 anak. Tapi terkadang mereka juga gak tahan sama godaan dan cenderung terpengaruh dengan teman yang kelakuannya seperti di atas. 

Mbel, gue ngerasa seperti orang yang sangat-sangat bodoh ketika berhadapan dengan mereka. Segala upaya yang gue lakuin gak membawa dampak apapun terhadap mereka. Oke, hari ini mereka dengar, atau ketika ditegur mereka jadi anak yang manis tapi itu gak bertahan lama, beberapa menit kemudian mereka kembali dengan kebiasaan buruk mereka lagi. Pernah waktu gue lagi ngajar, salah satu siswa malah asik nonton video di belakang. Dia pintar, hpnya dialasin buku dan bukunya ditegakin di atas meja jadi ketika dilihat, dia seperti lagi asik membaca buku padahal dibalik buku, dia sedang menonton video. Menggunakan kekerasan juga sama saja, hanya sakit sesaat ketika di pukul dan minta maaf, setelah itu besoknya bakal diulangin lagi perbuatan itu, seperti gak ada kapok-kapoknya. 

Gue kembali teringat kata-kata Prof. Ginting untuk jangan menyerah mendidik anak-anak yang seperti itu. Sampai sekarang, gue sepertinya belum berhasil menjadi seorang guru. Anak-anaknya masih saja nakal, dan susah diatur. Contohnya, hari ini dikasih tahu kalo turunan 3x itu sama dengan 3. Udah di kasih rumus turunan juga, pertemuan berikutnya coba tanya turunan 3x berapa? Mungkin gue akan loncat-loncat kegirangan kalau mereka tau jawabannya. Atau cara mengoperasikan bilangan bulat dan pecahan, misalnya 1+1/2 sudah dikasih tau jawabannya sama dengan 3/2 tapi masih saja ada yang jawab 2/2 atau 1 padahal sudah dikasih tau cara kerjanya juga. Termasuk cara menjumlahkan ½ + 1/3 itu sama dengan 5/6 tapi masih saja ada yang jawab 2/5. Itu materi-materi dasar yang seharusnya sudah kuasai oleh anak yang sekarang duduk dibangku SMA, tapi ketika ditanya berulang-ulang juga masih memasang wajah bingung. 

Ah, mengingat itu gue jadi makin capek, mbel. Gue capek menjadi guru yang gak bisa ngerubah anak-anak itu menjadi anak yang manis, yang pintar, yang bisa cepat menguasai atau mengingat setiap materi yang di dapat. 

Mbel, dibalik tugas yang mulia, ternyata guru memikul tanggung jawab yang besar ya. Dan ternyata ngajar itu tidak sekedar masuk kelas, dan ceramah panjang lebar tapi lebih dari itu harus bisa membuat mereka yang tadinya tidak tau menjadi tau. Walaupun gue merasa berat jalaninnya, tapi gue gak boleh merasa itu sebuah beban. Iya, gue mengeluh. Gue merasa gue orang paling capek sejagat, tapi dibalik itu semua gue gak pengen menyerah. Mungkin sempat terbesit untuk ‘nyerah aja deh’ tapi begitu melihat gelar yang terpampang manis di belakang nama, gue akhirnya sadar, gak gampang dapetin gelar itu. Satu hal lagi yang gue sadari, gurulah yang menciptakan orang-orang hebat di dunia ini. Bangga menjadi guru, dan bangga menjadi pendidik putra-putri Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design