Sabtu, 15 Februari 2014

Antara Aku, Kamu dan Dia



“Din, aku mencintai kamu, tapi aku tidak mungkin meninggalkan dia, kamu bisakan ngerti’in aku?”  Akhirnya kata-kata itu muncul juga.

Deeegggg… dooorrrr!!!! Sebuah peluru seperti mendarat tepat mengenai hati Dinda. Benar-benar tidak meleset. Kata-kata yang dia takutkan selama ini sekarang terdengar seperti sayatan huruf yang begitu kejam. Dinda tertunduk lesu. "Apa arti kehadiranku selama ini bagi dirinya?" pertanyaan itu tertahan di hatinya. Bibir terkatup. Pandangan hampa. "Masihkah aku berharga untuknya?" satu pertanyaan lagi. Siapakah yang akan menjawab? ombak di laut itu pun membisu.

“Din, aku sangat mencintai kamu, aku gak mau kehilangan kamu, please ngerti’in aku…”

Dinda tidak tega melihat muka memelas orang yang sangat disayanginya itu. Dengan susah payah ia menahan amarah, menarik napas dalam-dalam dan mencoba berbicara tenang,
“Aku ngerti’in kamu Ren, tapi aku gak bisa kayak gini terus, aku juga butuh kepastian, aku pengen sayang kamu utuh buat aku, gak setengah-setengah gini, aku beneran sayang banget sama kamu, aku bela-belain mutusin semua pacarku cuma buat jadian sama kamu, masak kamu gak bisa mutusin si Sella? Aku tahu dia sahabatku, tapi gak ada salahnya kan? Kita sama-sama cinta, dia harus bisa ngerti’in kita. Ayo Rendy, buruan sekarang kamu mutusin Sella. Please Ren, aku udah gak bisa kayak gini terus..” kata-kata itu mengalir saja dengan sendirinya, tanpa dia bisa hentikan lagi. Tangis pun sudah tak terbendung. Dinda seperti orang bodoh yang memohon pada patung bernyawa. 

“Iya.. iya… aku tahu kamu sayang sama aku.  Aku pun sayang banget sama kamu. Tapi aku juga sayang sama dia. Din, Sella itu cinta pertama aku, kamu tahu itu. Aku cinta sama dia, aku juga cinta sama kamu. Please ngerti’in aku. Ini demi kita Din, apa kamu gak takut kehilangan Sella kalau seandainya aku jujur tentang hubungan backstreet kita? Ingat Din, Sella itu sahabat terbaik kamu, apa kamu mau nyakitin dia? Aku sadar aku salah, aku gak bisa tegas dalam hubungan ini, tapi aku sangat mencintai kalian berdua, aku gak mau kehilangan kalian. Mending aku mati aja kalau harus kehilangan satu aja dari kalian berdua. Kamu mau bilang aku egois? Iya! Aku emang egois, tapi ini perasaan aku. Perasaan yang tak bisa aku kendalikan. Please ya, kamu ngerti’in aku. Aku janji, semua kasih sayang yang aku beri ke Sella akan aku berikan ke kamu juga. Aku akan memperlakukan kamu seperti aku memperlakukan Sella.”

“Sampai kapan kebohongan ini akan kita jalani, aku gak mau terus-terusan hidup dalam kebohongan. Aku gak bisa menepis perasaan aku setiap kali melihat kamu berduaan sama Sella. Sakit Ren, sakiiittt….”

Krriiinnggg…. Krrriiinngggg…. Hp Rendy berdering.. 

“Din, bentar ya, Sella telpon ni..” kata Rendy

“Halo sweety, telpon jam segini pasti lagi kangen ni..”

“Iya Beb, seharian gak ketemu jadi kangen banget ni, lagi dimana Beb, keluar yuk…”

“Sama Beb, aku juga kangen banget, tapi aku gak bisa keluar sama kamu, aku lagi temenin ibu ke rumah sakit.”

“Oh, ibu kamu kontrol lagi ya, hmm cepat sembuh ya buat ibu kamu..” 

“Iya Beb, nanti aku sampein..”

“Yaudah, hati-hati di situ ya, jaga ibu baik-baik loh.. aku mau bobo dulu.. bye.. bye.. honey, love you..” 

“Iya sweety, pasti bakal aku jaga ibu baik-baik. Met bobo ya.. love you too..”

Rendy datang mendekati Dinda setelah sambungan terputus. “Kamu nangis Din?” kaget Rendy dan langsung merangkul Dinda dengan hangat.

“Ren, aku gak kuat..” tangis Dinda dalam dekapan Rendy. “Aku mohon Ren, jangan kayak gini lagi. Please, putusin Sella..” belum sempat Rendy berbicara Hp Dinda bunyi. 

"Sella telpon. Gimana nih Ren”, panik Dinda ketika tahu siapa yang menelpon. 

“Udah kamu angkat aja telponnya, tenang Din..” kata Rendy sambil terus mendekap Dinda dengan erat.

“Halo?” 

“Din, keluar yuk, bete ni aku, Rendy lagi keluar sama ibunya. Mau bobo tapi mata melek mulu, gak bisa tidur, temenin aku keluar yuk, kemana aja deh yang penting keluar..” Kata Sella dengan harapan Dinda menyetujui ajakannya.

 “A…a.. aku.. akuuu..” mulut Dinda sepertinya berat untuk mengeluarkan kata-kata. 

“Din, kamu kenapa? Kok suara kamu kayak orang yang baru habis nangis gitu?” Tanya Sella karena mendengar suara Dinda yang tak seperti biasanya.

“I..iiyaaa ni, aku lagi nonton Titanic sama Dede, jadi kebawa suasana deh, maaf ya, orangtuaku lagi keluar jadi aku temenin Dede di rumah, tahu sendirikan adikku yang satu ini paling gak bisa ditinggal sendiri.” Jawab Dinda sekenanya berharap Sella percaya.

“Yaaa gak apa-apa lah… salam ya buat si kecil bawel, hehee ” balas Sella dan kemudian sambungan terputus.

“Ren… apa yang harus aku lakukan?” kata Dinda sambil menatap Rendy. 

“Udah Din, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ayo aku mau lihat kamu tersenyum, senyum dong..” kata Rendy sambil menghapus air mata Dinda “aku sayang kamu,” bisik Rendy. 

“Aku juga sayang kamu” balas Dinda dengan senyum penuh ketulusan. Yang terlihat sangat manis. 

Dinda dan Rendy menikmati malam itu dengan perasaan terjaga. Karena walau bagaimanapun, mereka sadari bahwa hubungan backstreet mereka merupakan suatu hal yang fatal. 
Ditengah-tengah asyiknya mereka berduaan, tiba-tiba…

“Rendy…?!!” teriak Sella.

“Oh God… Sella? Kamu kok bisa..” kaget Rendy setengah teriak.

“Kenapa? Kaget? Mana ibu? Katanya di rumah sakit, kok malah berduaan sama cewek di sini? Siapa nih cewek?” marah Sella sambil menarik cewek yang lagi berduaan sama Rendy.

“Ya Tuhan… Dinda? Benar kamu Dinda? Oh no, apa yang sudah kalian lakukan. Din, jelasin sama aku, apa maksud ini semua? Rendy please…” Sella tidak bisa menahan tangisnya. Sedangkan Dinda dan Rendy mematung.

“Din, Ren, aku gak nyangka, kalian bisa khianati aku seperti ini, aku sudah salah mempercayai kalian berdua. Makasih untuk sakit hati ini. Aku pergi..” kata Sella hendak berlalu tapi langsung dicegat sama Rendy. 

“Beb, biar aku jelasin semuanya..” 

“Lepasin! Aku gak mau dengar apa-apa, yang aku lihat tadi cukup jadi penjelasan dari semua kebusukan kalian. Aku nyesal sudah pernah kenal dan cinta sama kamu. Mulai sekarang kita putus. Pergi sana sama si pengkianat (sambil menunjuk ke arah Dinda) kalian memang sangat cocok. Sama-sama munafik!” Kata Sella sambil melepaskan genggaman Rendy dan pergi dari tempat itu, tanpa mempedulikan panggilan Dinda dan juga Rendy. 

Sepeninggal Sella, Suasana mencekam. Sepi. Tak ada yang berani angkat bicara. 

Setelah lama berdiam, Rendy mulai bicara “Din, mau aku antar pulang?”

“Gak usah, aku naik taksi aja.” 

“Din, maafin aku ya..”

“Untuk apa?” jawab Dinda datar.

“Din, jangan cuekin aku dong, aku benar-benar minta maaf..”

“Kamu hanya bisa ngomong maaf, maaf aja trus, kapan kamu mau tegas sama diri kamu sendiri? Kamu pikir dengan kata maaf kamu itu bisa ngembali’in Sella? Egois kamu..” bentak Dinda kemudian pergi meninggalkan Rendy sendirian.

Malam yang tadinya surga buat Rendy kini menjelma jadi neraka yang begitu menyiksa hati, tubuh bahkan perasaan. Dia sendiri sekarang meratapi ketidakberdayaannya dalam urusan cinta. Sesaat dia merebahkan tubuh di tempat tidur kesayangannya, mencoba memejamkan mata dan berharap ketika bangun keesokan harinya, ini hanyalah sebuah mimpi, mimpi buruk yang harus ia hindari, dan dalam hitungan detik Rendy sudah tertidur beralaskan beban cinta segitiganya antara dia, Sella dan Dinda.  

Pagi harinya Rendy terbangun dari tidurnya, “mimpi buruk” gumamnya dan meraih handphone untuk menelpon Sella. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi .” Rendy mencoba lagi, tapi hanya jawaban itu yang ia dengar. Kemudian dia mencoba menelpon Dinda. Jawaban yang sama, handphone Dinda dimatikan juga. 

“Ada apa sih sama mereka berdua? Semalam itukan cuma mimpi, kok mereka beneran menghilang?” Rendy mencoba untuk menghindari kenyataan. 

Lama Rendy membungkam memandangi handphone-nya. Setetes demi setetes air matanya jatuh. Dia tidak bisa lari lagi dari kenyataan, dia tidak bisa hindari akan apa yang sudah terjadi pada hubungannya dengan Sella maupun Dinda. Sejauh apapun dia berlari, kenyataan akan selalu membuntutinya. Tetes demi tetes itu kini berubah menjadi tangis penyesalan yang mendalam. Sedih, kecewa, putus asa, dan rasa kangen kini bercampur jadi satu yang semakin menyiksa Rendy. Gelap. Hampa. Itu yang ia rasakan sekarang. Kembali dia merebahkan diri di atas ranjangnya. Hening. 

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan,” kata Rendy tiba-tiba, ia meraih jaket dan kunci motornya dan menghambur keluar. 10 menit kemudian, dia sudah sampai di depan kost Dinda. 

“Din, bisa keluar sebentar gak, aku mau ngomong,” Rendy menampar pintu kamar Dinda sambil terus berkata setengah berteriak menyuruh Dinda keluar. Namun tak satu pun yang menyahut. Dia mencoba menelpon, tapi HP masih di luar jangkauan. Rendy memandang sekelilingnya. Ia melihat seorang teman kost Dinda.

“Maaf mbak, si Dinda gak ada di kost ya?”

“Oh, Dinda tadi pagi-pagi benar dia sudah pergi mas, gak tahu kemana. Tapi dia bawa-bawa koper gitu,” jawab teman kost Dinda. 

Tanpa menunggu lama-lama lagi Rendy langsung berlari meninggalkan temas kost Dinda yang kebingungan. 

“Tuh orang, udah dikasih tahu, bukannya terima kasih malah kabur,” gumamnya sambil memandang Rendy yang menghilang dibalik gerbang halaman kost meraka. 

Rendy menuju ke puncak, dia tahu Dinda pasti ke sana, karena dia tahu Dinda punya Villa di puncak. Kurang lebih 2 jam Rendy sudah sampai di depan Villa Dinda namun tak ada tanda-tanda kalau Villa itu berpenghuni. Rendy memanggil-manggil nama Dinda namun hampa. Tidak ada yang menyahut. Dengan putus asa Rendy kembali ke motornya. Pikirannya benar-benar kacau saat ini.
Menemui Sella ke rumahnya sama saja bunuh diri, karena ini benar-benar adalah salah dia dan Dinda, maka dia harus menemukan Dinda untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk sementara ia mengurung diri di kamar, merenungkan apa yang sudah terjadi terhadap dirinya. Dinda adalah sahabatnya dari kecil yang sangat dia sayangi dan mereka tak perna lepas, dimana ada Rendy pasti ada Dinda. Sedangkan Sella adalah cewek yang pertama kali membuat hatinya berbunga-bunga ketika awal ia menginjakkan kaki di kampus itu.   
 
Seminggu setelah kejadian malam itu, Rendy kembali menemui Dinda di rumahnya. Dinda sangat terkejut ketika tahu yang berdiri di depan pintunya saat ini. 

“Mau apa kamu kesini?” bentak Dinda hendak menutup pintu lagi.

“Sabar, sabar Din, aku mau ngomong. Din..!!!” teriak Rendy sambil terus mendorong pintu.

“Mau omong apa lagi? Belum puas kamu merusak semuanya? Kamu cowok brengsek. Aku gak mau melihat muka kamu lagi.” Dinda masih teriak penuh amarah.

“Din, dengar dulu. Ini bukan salah aku aja. Kamu jangan egois dong, jangan buat aku merasa bersalah terus. Aku sudah cukup menanggungnya selama seminggu. Aku gak bisa makan, gak bisa tidur dengan tenang hanya karena mikirin masalah ini. Aku lelah Din, capek dengan semua ini, kita berdua yang memulai ini, masak aku sendiri yang mengakhirinya. Jangan egois dong Din. Bantu aku menyelesaikan semuanya.” Teriakan Rendy lebih terdengar seperti kata-kata permohonan. Dia sangat berharap makhluk yang berdiri di hadapannya saat ini mau membantunya menyelesaikan masalah yang telah mereka ciptakan sendiri.

Dinda terdiam, gagang pintu yang ia genggam dengan kencang perlahan-lahan dilepasnya. Pintupun terbuka dengan sendirinya. Dinda yang juga lelah memikirkan masalah yang sama mendadak lemas, lututnya menjadi kaku dan tanpa sadar ia terjatuh dengan lutut bertekuk diiringi tetesan air mata yang jatuh mengenai pipi tembemnya. Rasa bersalah yang ia rasakan sebenarnya merupakan duri yang melilit di hatinya semenjak malam itu. Semenjak Sella sahabat terbaik yang sangat disayanginya mengetahui semua kemunafikan mereka. Ia ingin mengutuki dirinya sendiri. Cinta benar-benar telah membuatnya buta. Ia berharap, kalau saja waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan melakukan kebohohan ini. Ia akan menjaga sahabat baiknya itu. “Maafin aku Sel..” katanya pelan hingga hampir tak terdengar.

Rendy langsung meraih lengan Dinda dan memapanya menuju tempat duduk di ruang tamu. Sesaat Rendy berusaha menenangkan Dinda. Dia sangat tahu hancurnya perasaan Dinda saat ini, karena ia rasakan perasaan yang sama. Perasaan bersalahlah yang membuat mereka merasa jadi orang paling jahat se-jagat. Sella adalah sosok yang sangat baik dan sangat mempercayai mereka berdua karena ia sudah tahu mereka sahabatan dari kecil. Namun Rendy sadar, keserakahannyalah yang membuat semua ini berantakan. Dia merasa bersalah terhadap sahabat dan juga kepada orang yang sangat dicintainya. Ia sadar, ternyata rasa cinta dan sayangnya terhadap Dinda adalah rasa cinta seorang abang terhadap adiknya. Karena ia terlanjur tergantung pada Dinda, sejak kecil Dindalah yang selalu menemaninya kemanapun. Dia tidak pernah melakukan satu pekerjaan tanpa Dinda. Karena itulah Rendy tak bisa menjauh dari Dinda. Ketergantunganya terhadap perlakuan Dinda membuat dia merasa tak ingin lepas dari Dinda dan perasaan itu ia artikan sebagai cinta, karena perasaan yang samapun ia rasakan terhadap Sella. Gadis blasteran manado-philipina, yang sudah menjadi sahabat terbaik Dinda dan juga kekasih terbaiknya. 

“Din, aku mau ini segera berakhir, aku juga sakit memikirkan semuanya.” Bisik Rendy setelah Dinda merasa sedikit tenang.

“Sumpah Ren, aku benar-benar merasa seperti orang paling jahat. Aku seperti ingin mati saja,” kata Dinda lirih.

“Din, kamu gak sendirian. Ada aku di sini. Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi coba kamu pikir lagi, apa dengan mengakhiri hidup semua akan baik-baik saja? Semua akan tambah kacau Din, please jangan putus asa ya. Kita yang memulai ini, maka kita harus berani menyelesaikannya. Apapun konsekuensinya. Kita coba menemui Sella dulu. Kita bicarakan ini baik-baik, kita gak boleh nyerah. Kamu harus kuat ya.” Kata Rendy sambil menggenggam jemari Dinda. 

“Tapi aku itu sahabat yang tak berguna Ren, aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Aku mengkhianati dia, aku jahat Ren, JAHAT!” teriak Dinda memukul dirinya sendiri.

“Din, ini bukan salah kamu. Seharus kamu tidak boleh menyakiti diri kamu sendiri, kalau mau, pukul aku. Pukul aku Din, aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang serakah, aku sebenarnya yang jahat Din, kalian berdua korban keserakahanku, bunuh aku saja Din,” Rendy meraih tangan Dinda dan menghempas ke tubuhnya, namun Dinda lemas dan tak punya tenaga untuk memukul. Dinda kembali tertunduk lesu. 

“Ini salahku, bantu aku menyelesaikan semuanya,” bisik Rendy lirih.

Suasana Hening, Dinda masih memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk berdamai kembali dengan sahabatnya itu. Rendy pun demikian, dia ingin segera menemui Sella dan berharap Sella mau memaafkan mereka berdua. 

“Ren, kita harus ke rumah Sella sekarang,” kata Dinda.

Sesungguhnya kata-kata itu yang ditunggu-tunggu Rendy dari tadi. Tanpa berlama-lama mereka langsung ke rumah Sella. Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Sella.

“Kak, Sellanya ada?” Tanya Dinda saat Keny kakak Sella membuka pintu.

“Ada di kamar tuh, langsung aja.” Jawab Keny sambil mempersilahkan mereka masuk. 

Dinda masih ragu untuk melangkahkan kaki ke kamar Sella. Entah ada yang menahan kakinya hingga terasa berat untuk melangkah. 

“Dek masuk aja gak apa-apa, bilang aja kemarin kalian gak datang karena sibuk, pasti Sella ngerti kok,” kata Keny lagi melihat keragu-raguan dimata Dinda.

Dinda bingung mendengar pernyataan Keny barusan. “Maksudnya? Apa hubungannnya? “ Dinda menoleh ke Rendy minta pejelasan.

“Maaf kak, kemarin kami gak ada janjian kok mau ke sini.” Kata Rendy polos.

“Loh, kemarin Sella nanyain apa kamu sama Dinda datang nyariin dia atau enggak. Dia duduk sendirian di teras menunggu kalian. Dia sampai ngambek gak makan loh karena kalian gak datang-datang, emang kalian ada masalah apa?” Tanya Keny melihat adanya yang beda diantara adiknya, Rendy dan Dinda. 

“Jadi?” Dinda langsung menghambur ke kamar Sella tanpa mempedulikan pertanyaan Keny. Rendy buru-buru menyusul. Tinggal Keny yang kebingungan memikirkan apa kelanjutan dari kata “jadi” yang diucapkan Dinda barusan.  

Diam-diam Keny membuntuti mereka.

“Sel, kamu di dalam?” Tanya Dinda begitu sampai di depan pintu kamar Sella. 

Tidak lama kemudian pintu di buka, “Din, aku kangen kamu..” teriak Sella dan langsung memeluk Dinda. Dinda mendadak kaku dengan perlakuan Sella. Rendy yang menyaksikan ikut mematung. 

“Kamu kemana aja sih, aku kesepian Din, kamu kok ngilangnya lama banget. Aku kangen tahu!” Sella malah menangis sambil memeluk Dinda makin erat. 

Dinda kehabisan kata-kata. Begitupun Rendy. Yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Yang mereka bayangkan, saat mereka datang Sella akan mengusir dan memarahi mereka habis-habisan dan pasti Sella tidak mau mengenal mereka lagi, sehingga mereka sudah menyiapkan kata-kata penyesalan yang baik demi mendapat maaf dari Sella. Namun yang terjadi saat ini membuat mulut mereka bungkam. Satu kata pun terasa berat untuk di ucapkan. Mereka seperti  berada di kutub utara. Tubuh mereka mendadak beku. Apakah ini mimpi? 

“Maafin keegoisan aku selama ini ya, padahal aku tahu kalian berdua sahabat dekat dari kecil. Masih saja aku mencurigai kalian. Aku terlalu sayang sama kalian hingga aku tak bisa lama-lama jauh dari kalian. Kalian masih mau nerima aku kan?”

Sekali lagi kata-kata Sella menusuk kalbu dua sosok yang membeku di depannya. Sella begitu polos dan penuh cinta kasih. Rasa sayangnya pada sahabat dan kekasih hatinya membutakan matanya untuk melihat lebih dalam sorot mata dua orang sahabat itu. Wajar bagi Sella jika dua orang itu saling membutuhkan mengingat persahabatan mereka yang sangat dekat mulai dari kecil sampai sekarang kuliah di kampus yang sama pula. 

“Sel, aku boleh jujur gak?” Rendy mulai angkat bicara setelah lama bungkam. 

Dinda menoleh ke arah Rendy. Dia penasaran apa yang akan dikatakan Rendy. 

“Jujur apa? Ngomong aja Ren,” sahut Sella. 

“Ngg.. sebelumnya aku mau minta maaf. Aku mau jujur sama kamu tentang semua yang terjadi selama ini. Kamu terlalu polos untuk dibohongi. Aku baru sadar kalau selama ini aku pacaran dengan seorang malaikat. Aku terlalu bodoh mengkhianati kepercayaan yang kamu berikan. Ini semua salah aku. Kamu gak salah kok, aku yang yang salah, aku yang mengkhianati kamu. Aku sama Dinda..” Rendy tidak berani melanjutkan. Dia dapat merasakan betapa sakitnya kalau sampai ia mengatakan hubungannya dengan Dinda. 

“Ren, kamu baik-baik saja?” Sella menghampiri Rendy yang berkaca-kaca dengan raut muka penuh penyesalan. 

“Kalian boleh membenci aku. Jujur aku sungguh malu terutama sama kamu Sel, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku sangat mencintai kamu. Aku baru sadar ternyata rasa sayangku pada Dinda dan rasa sayangku pada kamu itu beda. Aku terlalu naif  hingga tak mampu membedakannya. Jujur aku tak mau kehilangan kalian berdua. Maafin aku kalau sudah menyakitin kalian. Sel, kalau mau marah, jangan marah sama Dinda, dia gak salah. Ini salah aku. Semua salah aku Sel, salah aku.” Rendy lemas dan tersungkur. 
Air matanya terus mengalir. Dia benar-benar tak dapat menguasai dirinya. Ia sadar kalau ia lemah dalam urusan cinta. kehilangan Sella merupakan satu-satunya hal yang paling dia takutkan. Dengan pengakuannya tadi, dia sudah yakin Sella tidak akan menerima dia lagi untuk jadi pacarnya. Apapun konsekuensinya, dia belum siap. Dia belum siap kehilangan Sella. 

“Sel, maafin aku, jujur aku masih sangat mencintai kamu. I always love you, everytime.. aku nyesal udah nyakitin kamu. Tolong kasih aku kesempatan..” Rendy kembali memohon sambil meraih tangan Sella yang membungkam. 

“Sel, Rendy emang sangat mencintai kamu, tolong kasih dia kesempatan ya, aku gak mau karena masalah ini, kalian jadi gak pacaran lagi. Kamu pernah bilang kalau kamu sangat mencintai Rendykan? Please, kasih kami kesempatan. Aku akan berusaha jadi sahabat terbaik kamu, dan Rendy akan jadi kekasih terbaik kamu. Please Sel..” kata Dinda sambil mendekati Sella.

Sella menarik napas panjang dan menghembusnya pelan-pelan. “Iya deh, jujur aku tersentak mendengar pengakuan kalian tadi, tapi semua orang pernah salah, sebagai manusia biasa kadang kita pernah lengah juga. Jadi, aku memaafkan kalian. Aku juga gak mau karena masalah ini, kita jadi musuhan. Tuhan tidak pernah mempertemukan kita untuk bermusuhan, tapi Tuhan mempertemukan kita untuk saling menyayangi. Aku kasih kalian kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Kata Sella sambil tersenyum terharu. 

“Makasih honey, aku senang banget, aku janji akan menjadi pacar yang baik. Aku akan mempergunakan kesempatan ini baik-baik. Thanks hon, love you..” kata Rendy sambil memeluk Sella yang membalasnya dengan “love you too.”

“Makasih banyak Sel, kamu emang sahabat terbaikku,” Dinda pun langsung mendekap sahabatnya itu. Ada perasaan legah dan bahagia melihat kemesrahan dua orang sahabatnya itu. 

Mereka bertiga berpelukan. Keny, kakak Sella yang dari tadi nguping pembicaraan mereka tampak menangis terharu. “Indahnya memaafkan itu” gumamnya dalam hati.

Senin, 03 Februari 2014

Mengapa Ada Perbedaan (Lagi)??


Apa yang kau lakukan ketika bertemu dengan seorang yang belum kau kenal sebelumnya? Kenalan? Tukaran nomor hp/pin? Ketemuan dan mulai pe-de-ka-te yang berkahir dengan jadian? Ya kurang lebih seperti itu siklus pacaran yang dialami hampir semua orang yang sedang berkelana mencari cinta.

Aku pun demikian, aku bertemu seseorang, tukaran nomor hp, smsan dan terakhir jalan sama dia. Aku gak bisa menebak perasaan apa yang ada di hatiku saat bersama dia. Nyaman? Iya, aku nyaman sama dia. Kesel? Ya, aku juga kesel sama dia, dan anehnya, hati tak mau memberiku jawaban atas perasaan-perasaan itu. Aku berusaha mencari apa yang buat aku nyaman dan juga membuat aku kesal, dan semakin aku mencari semakin aku menemui kebimbangan, hingga membawaku pada titik yang bernama pasrah. Aku pasrah pada keadaan. Aku membiarkan dia berlayar dalam lautan hatiku. Aku makin bingung ketika ku dapati lautan dalam hatiku menjadi tenang sehingga dia dapat berlayar dengan sangat gembira. Dan lihat, sekarang dia menoleh ke arahku dengan seuntai senyum, senyum penuh kemenangan, senyum yang mengisyaratkan bahwa ia telah berhasil menguasai hatiku. Ya, dia bahkan berhasil membuat tenang ombak dalam hatiku yang dahulunya berkecamuk penuh amarah. Sesaat aku senang. Tidak, bahkan sangat senang.

Namun, aku tersadar. Setelah kutelusuri ruang hatiku, bertanya pada langit-langit di dalamnya dan kutemui satu jawaban yang membuat lututku lemas, tak berdaya. Aku tahu darimana perasaan kesal itu. Perbedaan! Lagi-lagi perbedaan menghampiriku. Aku bingung, haruskah aku berjalan dalam perbedaan? Atau menyerah dan membiarkan perbedaan itu tertawa dalam ketidakberdayaanku? 

Akh, entah apa yang salah sama kata itu. Sepertinya, aku tidak pernah bermasalah dengan perbedaan, namun dia selalu menciptakan masalah buatku, dia selalu membuntutiku dan kali ini ia membuat aku menjadi hampir gila. Ya, mungkin setengah gila.

Senin, 13 Januari 2014

Maaf, Aku Mencintainya..


Aku mengenal seorang cowok bernama Dika. Tidak hanya sekedar mengenal, tapi aku tahu semua tentang dia. Kebiasaan buruknya, kesukaannya, bahkan semua hal yang dia benci, aku tahu. Dika, temanku waktu kecil. Kami bersahabat dan pernah berjanji untuk selalu bersama walaupun nantinya kami memiliki pacar masing-masing. Ya, mungkin dia tidak mengharapkanku untuk jadi pacarnya kelak sehingga dia menyuruku untuk menyetujui perjanjian yang dibuatnya itu. Beberapa bulan lalu, aku kenalkan dia  dengan salah satu teman baikku di kampus. Namun, ternyata setelah perkenalan itu mereka menjadi dekat dan sekarang mereka sudah menjadi sepasang kekasih.

“Hei Yub, ngelamun aja,” Nony mengagetkanku. Buru-buru aku menyembunyikan foto yang barusan ku amati.
“Walaupun foto itu berhasil kamu sembunyikan, sorot mata kamu gak akan pernah bisa menyembunyikan rasa cinta kamu yang besar pada Dika. Yub, aku bukan anak kecil. Selly dan anak-anak lain bisa kamu bohongi, tapi kamu gak akan bisa bohongi aku. Yubi, aku tahu kamu mencintai Dika.”

“Ah, walau bagaimanapun, di matanya aku hanya seorang sahabat,”

“Kenapa kamu gak bilang saja dari dulu kalau kamu mencintainya?”

“Tidak semudah itu Non, dia hanya menganggap aku sahabat.”

“Kamu sudah mencoba mengutarakan perasaanmu? Kamu sudah bilang kalau kamu sayang dia lebih dari seorang sahabat?” Nony ngotot.

“Belum. Aku gak punya keberanian, Non. Dia terlalu sayang sama Selly, dan dia selalu bilang itu sama aku,” jawabku sambil menunduk. 

“Sabar ya, kadang apa yang kita inginkan tak selalu kita dapatkan. Kalau memang kamu berjodoh sama dia, pasti ada saat kalian dipertemukan dalam cinta”. Nony sok bijak. Tapi dalam hati aku mengaminkan kata-katanya, kalau memang dia jodohku, cinta akan membawanya ke pangkuanku. Yang aku lakukan sekarang hanya menjaganya sebagai seorang sahabat. 

Selly, maaf, aku mencintai kekasihmu lebih dari kamu mencintainya..

Minggu, 12 Januari 2014

Cinta Gue Limited Edition


Gue paling benci sama cowok lebay yang kalo jalan suka tebar pesona dengan cara: pertama, ngelirik sana-sini sambil menebar senyum menggoda dan berasa semua mata sedang menatapnya penuh kagum. Kedua, suka pake baju ala boyband korea, misalnya celana jeans warna pink trus atasannya warna putih, ato atasan warna biru, celananya pink. Ketiga, suka memamerkan barang-barangnya baik motor, mobil, hp, sepatu, dan apapun itu, karna gue paling benci yang namanya pamer. Gue juga gak suka cowok yang romantisnya kelewatan, cenderung melankolis alias cowok alay. 

Yudha, begitu nama cowok yang sekarang jadi buronan hati gue. Sebenarnya gue kagum banget sama dia bahkan dia satu-satunya cowok yang gue idolakan. Dia udah resmi jadi idola gue waktu pertama kali menginjakkan kaki di kantin ini. Tapi sayangnya, walaupun namanya ada dalam daftar buronan hati gue, sejujurnya bukan dia orang yang gue cintai. Gue gak tahu apakah cinta dan suka itu beda, yang gue tahu bahwa setiap kali ngeliat Vicky, bawaanya pengen berantem terus sama dia, sehari saja gue gak berantem sama dia, gue merasa ada yang kurang sama hati gue, sehingga mungkin bagi Vicky, dia adalah cowok yang paling gue benci sejagat. Ternyata emang benar status yang gue baca di facebook waktu pertama kali bikin facebook, orang-orang selalu bikin status kayak gini “benci itu tanda cinta” ato seperti ini “semakin kau membenciku, semakin aku yakin betapa kau sangat mencintaiku,” gue gak tahu siapa yang pertama kali mencetuskan kalimat “benci jadi cinta” atau “benci tanda cinta” atau sejenisnya, namun kalimat itu selalu muncul di setiap status fb teman-teman gue. Sempat terfikir sih untuk buat status kayak gitu juga, tapi setelah dipikir-pikir, gue merasa seperti orang idiot saja, ngapain juga gue buat status yang gue sendiri gak tahu kebenarannya. 

Gue berusaha berantem terus sama dia bukan karena gak ada maksud, gue punya maksud di balik tingka pura-pura marah gue sama dia tiap hari. Gue sebenarnya pengen dengar suara dia, itu yang paling penting dan yang kedua, gue pengen terus berinteraksi dengan dia. Kalau seandainya gue baik sama dia, pasti nasibnya sama kayak Yudha, yang hanya bisa gue tatap dari jauh, dan gak sekalipun bisa ngobrol sama dia. ya, gue sendiri bingung sama hati ini, hati gue merasa baik-baik saja setiap kali ngeliat Yudha, gak ada dorongan apapun untuk berinteraksi dengan dia. tapi kalo udah ngeliat Vicky, gue gak akan bisa nahan diri, apalagi kalau gak sampe dengar suaranya, gue bisa-bisa sakit otak, hati gue seperti ingin meledak saja, jadi untuk bisa berinteraksi terus menerus dengan dia, gue harus bisa bikin kekacauan sama dia setiap hari, kalau bisa setiap jam. Sekali gue ribut sama dia, maka hati gue terasa sedang terbang ke langit tuju dan bersukarian bersama para malaikat dan bidadari, ia dengan penuh percaya diri mengumumkan bahwa dia satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling bahagia hari ini. itulah tingkah hati gue dan gue sangat nyaman melakukan itu. rasa nyaman yang memuaskan, bukan rasa nyaman sesaat yang sebenarnya tak memiliki arti dalam hati.

Vicky tahu gue sangat mengidolakan Yudha, makanya setiap kali gue usilin ato jahilin ato berantem sama dia gara-gara masalah yang gue buat sendiri pasti dia selalu godain gue sama Yudha, dia akan selalu teriakkan nama Yudha untuk mengejekku. Ya, gue senang, bukan karena dia nyebut nama Yudha, tapi karena dia bakalan tersenyum dan dengan nakal dia teriakkan nama Yudha itu berkali-kali dan gue bakalan pura-pura marah, itu yang buat dia akan meneriakkan nama itu berkali-kali sampe gue meneror dia untuk memohon supaya tidak mengucapkan nama itu. Adegan ini yang paling gue suka, sadar atau tidak, setiap kali dia tersenyum sambil godain gue sama Yudha, dia udah namba satu rasa cinta di hati gue. Dia gak pernah sadar, bahwa tingkah dia yang seperti itulah yang buat gue makin mencintai dia. Ya, sekarang gue akuin kalau gue tidak sekedar menyukainya, tapi juga mencintai dan menyayangi Vicky. Dia benar-benar menguasai hati gue saat ini.
Seandainya gue punya keberanian yang cukup, gue pengen teriakkan kalau cinta gue limited edition, kalau gue bener-bener jatuh cinta sama lo, Vic…

Salam unyu-unyu ^.^ 

Jumat, 10 Januari 2014

Bayangan Dalam Asa

Beberapa bulan yang lalu aku baru putus dengan seseorang yang berbeda keyakinan denganku. Perbedaanlah yang membuat kami harus mengakhiri hubungan ini, dan kami telah sepakat untuk mencari dan menjalani dunia kami masing-masing. Aku pikir, masalah tentang perbedaan telah selesai, aku telah berhasil kabur darinya. Tapi rupanya perbedaan itu masih terus membuntutiku dan kali ini benar-benar menyiksaku. 
Hei cinta, apakah kau sedang bermain-main denganku? Bahkan sekarang kau membuatku jatuh hati pada seorang yang berbeda denganku. Perbedaan, lagi. 

Kenapa aku selalu jatuh cinta pada orang yang berbeda keyakinan denganku? Kata mereka (teman-temanku) perbedaan agama tidak masalah, itu bisa diatur. Ya, bagi mereka mungkin itu bukanlah masalah yang perlu dipikirkan. Tapi bagiku itu adalah masalah besar. Bagaimana kalau aku sudah sangat tergantung padanya? bagaimana kalau cintaku ini tak bisa merelakan? Bagaimana kalau dia telah kuanggap sebagai cinta terakhirku?
Kecemasan di atas bisa saja terjadi karena aku telah jatuh cinta padanya. Aku sudah terlanjur menaru hati padanya. Tapi, aku sadar, ada jurang besar yang memisahkan kami. Jurang yang tidak bisa menyatukan dua perbedaan walaupun sama-sama jatuh ke dalamnya, walaupun bakal sama-sama terkubur dalam lubang itu, namun tetap saja tidak akan bisa menyatu. 

“Dia sudah punya pacar,” ditengah kecemasanku, kalimat itu yang terdengar. Kalimat yang benar-benar membuat perutku mual. Tapi aku berusaha santai, tenang. Aku tak merasakan apa-apa. aku berusaha melawan kekecewaan hatiku. Aku meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Namun, semakin aku berusaha menenangkan hatiku, ku dapati hatiku telah hancur berkeping-keping. Hatiku tidak sedang baik-baik saja. Hatiku telah hancur, tepat saat kalimat itu terucap.

Berharap. Ya, aku sudah terlanjur berharap padanya. Aku bahkan sudah bermaksud membuang kecemasan-kecemasan itu, aku sudah siap untuk menjalani kisah bersama dia yang telah berhasil buat aku merasakan cinta pada pandangan pertama. Aku telah berusaha mengikuti hatiku dan mengabaikan perbedaan untuk sementara. Aku telah berniat untuk memberontak pada perbedaan. Aku siap berjalan dalam perbedaan. Namun, kalimat itu menyadarkanku bahwa dia memang tercipta bukan untuk kumiliki. Dia tak punya tiket untuk berlayar ke hatiku. Dia bukanlah insan yang bisa aku jangkau. Dia cuma secercah cahaya yang melintas sesaat, tanpa harus mengenai hatiku yang suram ini, tidak sama sekali. Dia hanya bayangan dalam asa.

Salam unyu-unyu ^.^
 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design