Rabu, 06 November 2013

Merindukan Purnama


Bukankah sudah pernah ku katakan bahwa kau bintang kecilku? Mengapa kau juga tak paham tentang maksud dan perasaanku? Apa perlu aku membedah hatiku supaya ia dapat menjelaskan semuanya padamu? Kenapa kau tak pernah paham tentang mauku? Apakah aku terlampau sangat abstrak, hingga hatimu tak mampu menjangkau setiap detak jantungku? 

Hei, bintang kecilku. Kemari, lihat bola mataku. Di sana masih tersimpan dengan rapi sederet kata rindu yang tak mampu terucap karena tingkahmu. Masih ada aliran bening yang membasuh sebait doa untukmu. Coba kau tatap bening mataku, di sana masih terlihat jelas wajahmu. Utuh. Masih terlukis indah senyummu. Menawan.

Sekarang bantu aku mencari angka yang tersisa, karena semua angka telah habis terpakai untuk menghitung setiap detik penantianku untukmu. Namun begitu, aku tak peduli aku masih mengeja penantian, memaknai setiap detik yang terlewatkan sebagai bentuk ketulusan cinta untukmu. Aku tulus mencintaimu, tidak peduli kau siapa. Kau seperti bintang Mirach tiba-tiba muncul dalam pekatnya malam, membuatku mengagumi seberkas sinarmu. Dan tahukah kau semakin lama bukan sekedar kagum yang kurasa, tapi ingin memiliki. Itu cinta, tulus.

Dalam kesempurnaanmu, kau datang mengisi ruang hampa dalam jiwaku. Spasi hidup yang sudah terlampau jauh jaraknya. Memberiku kesejukan di tengah sekarat terik kerinduan mencintai. Aku menerimamu seutuhnya, sungguh. 

Tahukah kau, hei bintang kecilku bahwa ketika diburu hujan, aku tak ingin lari atau berlindung, ku biarkan tubuhku tersapu oleh butiran-butirannya, karena aku ingin merasakan kesejukan cinta, lalu muncul pelangi, sebagai lambang persatuan jiwa. Atas nama tanah, air dan udara. Atas nama alam. Pelangi indah untuk sebuah cinta suci yang tulus.

Bintang kecilku, aku masih menunggu. 
Tahukah kau bahwa waktu mulai mengejekku? Mencoba merobohkan pertahanan yang sudah kurangkai dengan sisa-sisa cinta. tapi, tak perlu khawatir, aku tak akan goyah. Aku wanita perkasa, aku bahkan sudah bebal dengan kata menunggu. Meskipun di ejek rembulan, di hina mentari, dikibuli waktu, peduli setan. Aku akan tetap menunggu, hingga akhirnya kau berpaling padaku. Lalu kita rangkai cinta kita bersama jutaan bintang di langit, bersama kunang-kunang di malam hari. Maka rembulan akan terkagum-kagum, mentari mulai cemburu, lalu berusaha membakar cinta kita, untunglah hujan mampu menyiram dan memadamkannya. Cinta kita pun kembali sejuk. Lalu kita sepakat, untuk menyatuhkan cinta kita bersama alam, kita berhasil membuat rembulan bersemu malu. Andai semua itu benar adanya. Ah, aku bermimpi lagi.

Kasih, tidak bisakah sejenak kau datang? Bukan untuk merajut sebuah kisah romantis. Tapi untuk menggenggam takdir, mengekor waktu dengan mata kita, lalu kita bersorak jika ternyata waktu dan takdir yang kita tatap telah menyerah, lalu kita saling menghukum dalam pelukan, dalam ciuman. Hukuman terindah yang membuat kesalahan begitu indah untuk diulangi. Ah, tidak mungkin kita bisa lakukan itu. Kau tak ada di sampingku. Kau sibuk. 

Hei bintang kecilku, sampai saat ini pun kau tak juga datang. Bahkan untuk sejenak menjamah kepalaku meski tanpa mengelus, atau tersenyum, tidak tertawa. Atau sekedar membiarkan mataku menguliti setiap senti tubuhmu, meski tak bisa menyentuhmu. Biarkan aku melihatmu, menikmati sisa-sisa aroma tubuhmu, sebelum angin mencurinya dariku. Datanglah padaku, aku sudah nyaris tak bisa bernapas. Kau telah renggut hatiku, kini nafasku, hidupku. Apa kau terlampau sibuk? Atau kau telah menemukan bidadari lain yang mampu merajut malam-malam gelapmu jadi indah? Kalau memang benar, aku cemburu pada bidadari itu. Tidak juga kau paham? Aku sekarat. 

Rabu, 30 Oktober 2013

Kura-Kura dan Sepasang Burung


Seekor kura-kura, yang kita tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, tidak akan pernah bisa meninggalkan rumahnya biar bagaimanapun caranya. Si kura-kura ini putus asa, ia ingin sekali seperti burung-burung itu yang beterbangan gembira di atas langit, melihat kelinci, tupai dan binatang lain dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin seperti mereka. Dia ingin melihat dunia juga, tapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan. 

Suatu hari dia bertemu dengan sepasang burung dan menceritakan semua masalahnya. Sepasang burung merasa ibah mendengar cerita sang kura-kura akhirnya mereka bersepakat untuk menolong sang kura-kura.

"Teman, kami bersedia membantu melihat dunia, asal kamu menyetujui syarat dari kami," kata seekor burung.
"Apa syaratnya?"
"Berpegangan pada kayu ini dengan gigi, dan kami akan membawa engkau terbang, dimana engkau akan melihat seluruh isi dunia. Tapi, kamu harus diam dan tak boleh berbicara, atau kamu akan menyesal,"
"Okey! Aku setuju," jawab kura-kura dengan senang hati. 

Kura-kura cepat menggigit kayu tersebut dengan erat dan sepasang burung tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan cakarnya. Dan mereka terbang naik melintasi awan. 
Saat itu seekor gagak terbang melintas. Dia sangat kagum dengan apa yg dilihatnya. Karena penasaran sang gagak menghampiri kura-kura dan bertanya: “kamu pasti raja kura-kura”
“Ya benar,” kura-kura itu mulai berkata. Sayangnya, begitu ia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh terhuyung ke bawah dan terbanting di atas batu-batu. 

Pelajaran yang kita petik dari cerita di atas adalah, bahwa rasa ingin tahu yang besar dan kesombongan, merupakan jalan menuju jurang yang bernama "KESIALAN" 

Salam unyu-unyu ^.^

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kata-kata Gombal Versi Pelajar

Pensil
Cowok: kamu tahu gak perbedaan pensil sama wajah kamu?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo pensil tulisannya bisa di hapus, tapi kalo wajah kamu gak akan ada yang bisa hapus dari pikiran aku.

Pulpen
Cowok: kamu punya pulpen gak?
Cewek: punya, kenapa?
Cowok: pinjem dong, buat nulis nama kamu di hati aku.

Penghapus
Cowok: kamu tahu gak kegunaan penghapus?
Cewek: iya, tahu. Salah satunya untuk menghapus papan tulis.
Cowok: yup, aku relah kog jadi papan tulisnya, asal kamu yang jadi penghapusnya.

Cowok: kamu tahu gak persamaan penghapus sama hati aku?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: sama-sama bisa menghapus. cuma bedanya kalo penghapuskan untuk menghapus papan tulis, tapi kalo hati aku untuk menghapus semua mantan-mantan yang ada di hati kamu.

Cowok: kamu tahu gak perbedaan aku sama penghapus?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo penghapus semakin dipake semakin habis, tapi percayalah rasa cintaku padamu tidak akan pernah habis.

Penggaris
Cowok: kamu tahu kegunaan penggaris?
Cewek: iya. untuk mengukur sesuatu.
Cowok: ah bohong, buktinya dia tidak mampu mengukur besarnya cintaku pada kamu.

Cowok: kamu tahu perbedaan aku sama penggaris?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo penggaris, suatu saat bisa saja patah. tapi yakinlah cintaku padamu tidak akan pernah patah, walaupun termakan usia.

Buku
Cowok: kamu tahu perbedaan kamu sama buku?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo buku, pasti dimiliki semua mahasiswa. tapi kalo kamu cuma milik aku seorang.

Cowok: kamu tahu kan kegunaan buku?
Cewek: ya, tahulah.
Cowok: aku rela kog jadi buku yang dicoret-coret setiap hari, asal yang yang mencoret itu kamu.

Cowok: kamu tahu gak perbedaan toko buku sama hati aku.
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo toko buku, siapapun boleh datang, tapi kalo hati aku hanya kamu yang boleh datang.

Kampus/Sekolah
Cowok: kamu tahu gak pebedaan kampus/sekolah sama hati aku?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo kampus/sekolah banyak penghuninya, tapi kalo hati aku penghuninya cuma satu, yaitu kamu.

Cowok: kamu tahu gak perbedaannya kalo ke ke kampus/sekolah sama ke rumah kamu?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo ke kampus/sekolah pasti yang di bawa itu buku, pulpen, dll. tapi kalo ke rumah kamu, aku cukup membawa hati dan cinta.

Cowok: kamu tahu gak persamaan kampus/sekolah sama hati aku?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: sama-sama ada penjaganya.

Cowok: tahu gak perbedaannya kalo di kampus sama di rumah.
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo di kampus, tiap hari di apelin sama dosen killer, tapi kalo di rumah, selalu di apelin sama cewek cantik kayak kamu.

Tas/Ransel
Cowok: tahu gak perbedaan tas/ransel sama hati aku?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo tas/ransel isinya buku, dll. tapi kalo hati aku, isinya cuma satu, yaitu wajah kamu.

Cowok: tahu gak persamaan hati kamu sama tas/ransel?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: selalu aku bawa kemana-mana

Cowok: tahu gak perbedaan kamu sama tas ransel?
Cewek: gak tahu, apa?
Cowok: kalo tas ransel itu di lekatkkan dimana-mana, bisa di meja, ato pun di lantai. tapi kalo kamu cuma bisa diletakkan di hati aku.

Cuma segitu dulu gombal-gembel gak jelas dari aku menggunakan alat-alat yang identik dengan pelajar .. 
Maaf ya, kalo rada-rada garing .. wkwkwk

Rabu, 23 Oktober 2013

Ratu Kibul


Kali ini gue akan cerita tentang anak bungsu kakak gue nomor 3. Namanya Sera. Rambutnya kriting, hobinya suka gemesin orang. Kalo makan, harus sambil pegang telinga. Sekarang dia duduk di kelas 3 SD. Gue punya cerita tentang dia waktu masih di TK. Jadi, Sera ini paling malas kalo di suru pergi TK. Alasannya takut anjing. Memang sih di kampung gue hampir semua orang melihara anjing. Itu selalu yang menjadi alasannya, padahal orang tuanya tahu bukan itu yang menjadi alasan utamanya. Gak masuk akal banget dia takut anjing sementara di rumahnya juga pelihara anjing dan tiap hari kerjaannya mainan anjing. Orang tuanya tahu penyakit malas lah yang buat dia ogah-ogahan kalo pergi TK. Sera ini suka kibulin orang, dan kali ini korbannya adalah ibunya sendiri, ibunya berhasil dikibulin abis-abisan sama dia. Ceritanya berawal dari dia yang tidak mau lagi diantar ibunya ke TK, dia ingin pergi ke TK sendiri. Jelas aja orang tuanya, apalagi ibunya senang dengar anak bungsu mereka akhirnya mau pergi TK dengan tidak terpaksa. Ternyata, Sera punya maksud tertentu di balik itu. Tiap hari dia pamit dari rumah mau ke TK, tapi dia gak pernah sampai di TK, dia malah main ke rumah Isna tetangga mereka yang masih umur 3 tahun. Sera menghabiskan waktu di rumah Isna, sampai dia melihat teman-temannya sudah pulang dari TK, baru dia juga pulang ke rumah. Hampir seminggu kejadian itu berjalan dengan sangat mulus tanpa sedikit pun kecurigaan dari ibunya. Hingga suatu hari gak sengaja ibunya Isna ketemu sama ibunya Sera dan diceritakan kejadian Sera setiap pagi main ke rumahnya, ditambah lagi sms dari ibu guru TK Sera yang mengatakan bahwa sudah seminggu Sera absen. Kontan saja ibunya marah besar. 

Itulah sifat ponakan gue yang satu ini. kelewat nakal dan memang sering bikin ibunya naik darah tiap hari karena ulahnya yang makin hari makin ekstrim. Tapi, untung aja semenjak mengenakan pakaian putih merah dia gak pernah buat hal gila itu lagi, karena tiap hari diantar jemput sama bapaknya. Gak tahu deh kalo seandainya dia gak diantar jemput, mungkinkah dia mengulanginya lagi? *emboh.

Selasa, 22 Oktober 2013

Ulang Tahun Dadakan

Hari ini gue akan cerita tentang ponakan gue yang bernama Resi. Itu fotonya di samping saat dia selesai mengikuti lomba nyanyi di GKS Mawar Saron, dan dia meraih juara 1. Anak bungsu kakak gue yang paling sulung ini memiliki sifat berani dan juga pintar. Sekarang dia duduk di bangku SD kelas 4. Sejak masuk sekolah dasar, ia sudah menjabat 4 kali jadi ketua kelas, sejak kelas 1 sampai sekarang dia duduk di kelas 4. Udah setara dong sama jabatan presiden (hi hi hi). Resi suka banget sama yang namanya anjing. Di kampung gue memang banyak anjing dan anjingnya itu gak ada yang “meme” maksudnya gak ada yang jinak, mereka kasar dan cenderung suka menggigit. Namun, Resi ini malah suka main sama mereka. Setiap bangun pagi bukan ngurusin yang lain, malah anjing yang dia urusin. Tiduran sama anjing, nyium anjing bahkan makan pun bareng anjing-anjing itu. walaupun sudah dimarahi orang tuanya untuk menjauh dari anjing-anjing itu, dia tidak pernah peduli, bahkan Resi makin akrab saja sama makluk-makhluk liar itu. 

Resi anaknya juga sedikit manja dan setiap ulang tahunnya harus dirayakan. Pernah sekali, waktu dia hendak berumur 8 tahun. Sehari sebelum ulang tahunnya, dia mengundang semua tetangga, termasuk pak lurah, bu lurah, pak hansip, bu hansip, teman-teman sekolah serta guru-gurunya untuk datang ke rumahnya besok karena dia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-8. Dia sampe telat pulang rumah karena sibuk ngundang orang. Pukul 3 sore dia baru nyampe rumah. Ketika ditanyain, dengan santainya dia menjawab bahwa dia habis mengundang orang. “Ngundang orang untuk apa?” Tanya bapaknya bingung. “Besokkan ulang tahun saya, pa” jawabnya nyantai kayak di pantai sambil beranjak menuju kamar. Bapak dan ibunya hanya saling berpandagan. Belum habis rasa kaget itu, mereka dikagetkan lagi dengan bunyi telpon yang berasal dari gurunya yang menanyakan kepastian tentang undangan Resi tadi di sekolah. Spontan saja orang tuanya pingsan dan 7 bulan kemudian baru sadarkan diri (baca:bohong).

Dengan perasaan bercampur tomat, bawang, lengkuas, cabe, dan cuka, orang tua Resi meminta bantuan orang rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk besok, mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun anak bungsu mereka yang ke-8. Karena memang hanya itu yang bisa diperbuat sekarang, mau gak mau mereka harus berkorban untuk besok, si bungsu sudah terlanjur mengundang semua orang, dan gak mungkin mereka batalin semuanya. Akhirnya acara kecil-kecilan pun berlangsung meriah dan Resi tampak sangat bahagia. Dua hari setelah acara itu usai, bapak dan ibu memanggil Resi dan menasihatinya, bahwa ulang tahun itu tidak harus dirayakan. Didoakan itu sudah sangat cukup untuk menikmati pertambahan sebuah usia. Pesta hanya akan membuat orang kadang lupa bersyukur atas berharganya satu usia yang bertambah itu. Orang tuanya tidak marah lantas perbuatan anaknya yang kelewat berani seperti itu, mereka maklumi. Mungkin karena kebiasaan dirayakan jadi anak mereka menganggap ulang tahun adalah pesta. Setelah mendapat nasihat seperti itu, Resi tidak pernah meminta lagi untuk merayakan ulang tahunnya secara besar-besaran atau setiap ulang tahun harus ada pesta. Gak, sekarang ia bahkan hanya meminta kehadiran kedua orang tuanya untuk berdoa bersama mensyukuri setiap pertambahan usianya.

Nah, untuk adek-adek yang baca cerita ini, jangan coba-coba ditiru ya perbuatan si Resi, itu bisa jadi membahayakan orang tua kalian, apalagi kalo orang tua kalian punya riwayat jantungan. Jadi kalo mau buat sesuatu harus komproni dulu dengan orang tua, sehingga orang tua bisa mempersiapkan diri dengan baik dan semuanya gak terburu-buru. Dan satu lagi, kalian harus ingat bahwa “ulang tahun” itu bukan sebuah “pesta”. 

Minggu, 20 Oktober 2013

Kepergian Diriku

Kasih...
Maafkan diriku yang kini tiba-tiba hilang dari sisimu.
Bukannya aku membencimu, tapi kulakukan ini semua karena aku menyayangimu.

Kasih...
Kepergian diriku dari sisimu bukan karena apa-apa.
Aku takut jangan sampai karena kehadiran orang ketiga, terjadi perselisihan diantara kita.
Cinta yang telah matang yang kita bina bersama.
Telah pudar bahkan sirna termakan jarak dan waktu.

Kasih...
Biarlah aku yang mengalah.
Aku akan menjauh darimu.
Mungkin itu yang kamu cari dan membuatmu senang.

Kasih...
Selamat berbahagia dengannya.. 

-Kamu yang bahagia-Aku yang menderita-
 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design