Senin, 23 Oktober 2017

Seperti Daun Yang Jatuh, Lalu Diterbangkan Angin...

Pada hari itu, aku seolah orang yang tidak mencintaimu. Aku menjadi orang yang sangat tega melepasmu. Tidak ingin lagi menggenggam lenganmu atau memeluk tubuhmu. Tidak ingin lagi melakukan apa-apa agar kamu tetap di sini, bahkan bertemu denganmu pun menjadi sesuatu yang tidak kuinginkan lagi.

Seperti daun yang jatuh, lalu diterbangkan angin. Disaat seperti itu, ia tak lagi punya kuasa melawan angin, ia akan terhempas dimana saja angin menghempasnya. Demikian aku saat ini. Aku benar-benar tak kuasa pada diriku sendiri. Aku malu pada ketidaktahudirianku. Aku malu pada kelancanganku. Aku lupa bahwa aku belum memilikimu sepenuhnya. Dan satu hal  lagi yang aku lupa, aku tak punya hak sedikitpun untuk mengorek privasi-mu. Betapa bodohnya aku telah melakukan semua itu semua.

Tapi apa daya, ditengah jalan pergiku, waktu malah membawa kembali kenangan-kenangan itu. Kenangan manis beberapa bulan lalu tepat di hari ulang tahunku berhasil membuat satu tetes air jatuh dari mataku. Kemudian serentetan canda, tawa, perhatian dan sayangmu yang sudah kurasakan dengan tulus ikut menguasai pikiranku tanpa bisa kuhentikan.

Aku terjebak dalam amarah yang kuciptakan sendiri. Dan air mata ini? Ah peduli setan. Biarkan saja mengalir. Karena aku sendiri yang memulai semua ini. Jadi biar saja air mata ini terus mengalir. Sampai habis. Dan kemudian. Mati!

0 komentar:

Posting Komentar

 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design