Rabu, 08 Mei 2013

Pelangi Tak Berwarna

Tanggal 1 April seorang anak lahir di dunia. Tepatnya anak pembawa sial. Ya, itulah julukan buat aku. Semua keluargaku menganggap aku anak yang sial. Bagaimana tidak, semenjak kelahiran aku keluargaku jadi berantakan.
Aku terbangun mendengar suara yang berisik di lantai dasar.
"Nih pasti ayah dan ibu berantem lagi gara-gara aku," gumamku sambil menyibak selimut yang menutupi badan. Aku duduk, meraih guling yang berada di samping dan meletakkan di pangkuanku.
"Bu,jemput Alya dari kamarnya untuk sarapan." Suara serak-serak dan sedikit bass itu aku kenal banget. Itu suara ayah.
"Loh kok aku sih, bapak aja yang jemput aku masih siap-siap nih." suara cempreng ala Gina alias Jengkelin itu adalah suara ibu.
"Emang itu tugas kamu. Ngapain kamu ngelahirin anak buta kayak dia, jadinya ngerepotin orangkan?"
"Bapak nyalahin aku, gitu? Bagus ya! Biii.. jemput si buta sialan itu untuk sarapan." Teriak ibu dengan penuh amarah.
"Iya Nyak.." Balas bibi menghambur menuju kamarku.
Ini bukan kali pertama ayah dan ibu berantem. Aku dipapah bibi menuju meja makan.
"Heh buta, kamu bikin repot orang aja ya. Ma, kasih makan ni anak kamu yang buta, aku mau berangkat kerja dulu." Kata ayah sambil meninggalkan meja makan.
"Kok aku sih, bapak kan yang lagi di meja makan, sekalian aja kasih makan tuh anak." balas ibu dari kamar. Tapi ayah sepertinya tak menghiraukan perkataan ibu, ayah terus berlalu.
"Bi, kasih makan nih buta sialan, jangan ngerepotin orang pagi-pagi. Aku mau berangkat kerja," kata ibu setelah keluar dari kamar.
"Loh, nyonya gak sarapan? Tadi tuan gak sarapan juga." Bibi sepertinya perhatian sekali.
"Hilang selera makan aku bi, siapa juga yang mau sarapan semeja sama orang buta, mending aku makan di luar aja," kata ibu dan langsung pergi.
Kata-kata ibu seperti duri yang melilit di hatiku. Sakit banget. Segitu bencinyakah seorang ibu terhadap anak cacat yang adalah darah dagingnya sendiri? Kenapa aku di biarkan lahir kalau akhirnya akan dapat perlakuan seperti ini? Belum sembuh rasa sakit ini, aku dikagetkan lagi dengan suara bentakan kak Bimo,"Udah dengar kamu? Telingamu gak ikutan cacat kan? Heh, dengar ya. Ini semua gara-gara kamu. Kamu yang mengakibatkan pertengkaran ini. Kamu memang pembawa sial. Dulu keluarga ini sangat harmonis dan kami selalu ada waktu untuk bersama. Tapi semenjak kamu ada, aku jadi diterlantarkan. Aku udah gak pernah dapat perhatian dari ayah dan ibu. Sampai kapanpun aku gak akan pernah nganggap kamu sebagai adik. Aku gak sudi punya adik buta kayak kamu. Aku benci kamu!!!" Kata Bimo sambil menampar meja makan.
Spontan aku kaget. Dengan susah paya aku berusaha memanggil dengan lirih, "Bang..."
"Budek ya! Aku bukan abang kamu." teriak kak Bimo tepat di kupingku.
Walaupun aku gak bisa melihat ekspresinya, dari bentakan dan kata-katanya, aku tahu betapa bencinya dia sama aku. Oh Tuhan, apa salahku? Dosakah aku jika aku buta, hingga semua tak ada yang peduli padaku? Aku hanya bisa tertunduk dan terisak dalam hati.
Sebenarnya tidak mengherankan jika mereka tak menganggapku dalam keluarga ini. Ayah, seorang direktur di perusahaan ternama di Jakarta. Beliau adalah orang nomor satu yang terkenal pintar, tegas dan bertanggung jawab. Ibu sendiri adalah seorang wanita karir yang tak kalah hebatnya dengan ayah. Beliau adalah desain terhebat dan bulan kemarin beliau baru saja menyandang status Queen Designer. Sedangkan Bimo, abangku satu-satunya adalah seorang yang sangat populer di sekolahnya. Selain memiliki tampang baby face yang berhasil memikat banyak wanita, ia juga jago olahraga dan selalu mendapat peringkat terbaik dalam mata pelajarannya. Tidak heran jika ayah dan ibu sangat menyayangi dia. Namun, beberapa hari belakangan ini sepertinya dia juga kurang mendapat perhatian dari ayah dan ibu yang sudah pasti penyebabnya adalah aku. Yakh, Aku. Bisa apa aku? Aku hanya seorang anak buta, anak pembawa sial yang kerjanya ngerepotin orang. Wajar kalau mereka membenci aku, karena aku sama sekali tidak berguna. Aku hanya menciptakan keributan setiap hari. Aku mengacaukan keharmonisan keluargaku. Pantaskah aku disebut bagian dari keluarga yang perfect dan selalu disanjung ini?
Sepuluh tahun kepedihan ini aku pendam. Rasa sakit ini aku simpan dalam hati. Aku hanya berharap suatu saat nanti aku dapat diterima di keluarga ini. Hari ini akan menjadi hari terkahirku mendengar suara adu mulut ayah dan ibu yang sudah menjadi santapan rutinku setiap pagi, merasakan nikmatnya masakan bibi, mendengar ocehan kak Bimo yang selalu menjadi hidangan penutup yang sangat menyakitkan yang semakin hari semakin menumpuk dan tertahan di hatiku. Kenangan ini tidak akan pernah aku lupakan selama di desa nanti. Keributan tiap pagi dan kata-kata pedas sang abang yang selalu menyakitkanku akan aku rindukan. Orangtua termasuk abang membuangku ke Kalimantan. Ya, “membuang”. Kata itu tidak sengaja aku dengar dari pembicaraan ayah, ibu dan abang. Mereka merasa aku adalah anak pembawa sial yang harus dibuang dan disingkirkan dari kehidupan mereka. Tapi kalau dengan kepergianku suasana rumah dan hubungan ayah dan ibu kembali membaik aku tidak keberatan meninggalkan mereka, yang penting mereka bahagia.
Hari ini aku resmi menjadi orang Kalimantan, lebih tepatnya “anak desa” tempat kakek dan nenek yang adalah ibu dan ayah dari Ibuku. Sedangkan ibu dan ayah dari Ayah sudah lama meninggal. Selama lahir aku belum pernah diperkenalkan sama kakek dan nenek yang akan menjadi pengasuhku. Sehingga waktu aku tahu rencana mereka yang mau membawaku ke Kalimantan, reaksiku biasa saja. Toh, aku akan tetap menjadi anak yang tidak berguna. Baik di Jakarta dan di Kalimantan sama saja, bedanya hanya berpindah tempat.
Aku pikir semua orang bakal jahat dan menganggap aku sial, aku pikir kakek dan nenek ini akan membenci aku juga sama seperti ayah, ibu dan kak Bimo. Ternyata tidak. Masih ada yang menyayangi aku. Kakek dan nenek di desa ini sangat menyayangi aku walaupun aku buta. Bukan hanya mereka saja, teman-teman di desa juga baik. Mereka tidak memandang kekurangan yang aku miliki dan mereka juga tidak menganggap aku sebagai anak pembawa sial. Bahkan mereka mengajari aku banyak hal. Di tempat ini aku mulai merasakan hidup yang sebenarnya. Aku benar-benar merasa bahagia. Aku mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan selama di Jakarta di tengah-tengah keluargaku sendiri. Di Jakarta hanya kesepian dan tekanan batin yang aku rasakan. Pagi-pagi harus terbangun dengan teriakan ayah dan ibu yang semakin hari kuanggap sebagai alarm tanpa baterai. Namun di desa ini aku merasakan suasana yang sangat berbeda. Pagi-pagi suara kokokan ayam jantan dan kicauan burung yang membangunkanku dari mimpi-mimpi indahku semalam. Suara itu membawa makna tersendiri dalam hatiku, ada rasa syukur yang aku rasakan. Setiap kali mendengar kokokan ayam dan kicauan burung itu, aku akan terbangun, meraih tongkat, menuju ke jendela kamarku, membuka jendela dan menyambut sang surya yang menghantarkan cahaya kehidupan. Walaupun aku tak bisa melihat eloknya sang mentari pagi, lewat cahayanya yang terpancar mengenai wajahku, aku dapat merasakan kehangatan dan keindahannya, lewat cahaya itu pulah aku selipkan doaku kepada Sang Pencipta. “Terima kasih Tuhan buat nafas hidup yang masih Engkau percayakan padaku”. Syukuri akan sebuah nafas yang Tuhan masih percayakan merupakan satu hal yang sering aku lakukan semenjak di desa. Itu semua aku pelajari dari nenek. Kata nenek, dengan mensyukuri hal yang kecil maka Tuhan akan memberikan sesuatu yang besar dalam hidup kita. “Makanya Neng, bersyukur itu perlu dan wajib kita lakukan. Maka Tuhan akan tersenyum dari atas sana, karena Tuhan sayang dan akan selalu memelihara setiap umat yang selalu bersyukur pada-Nya,” kata nenek waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah mereka ini.
Kakek dan nenek sudah layaknya ayah dan ibuku. Wanita dan pria paruh baya yang baik hati ini adalah petani yang dikenal dengan julukan juragan karet. Mereka mempunyai berhektar-hektar kebun karet, sehingga mereka bisa bertahan hidup sampai sekarang. Karena ladang mereka yang begitu banyak bisa menghasilkan lapangan kerja buat para pengangguran di desa. Banyak pemuda-pemuda atau bapak-bapak yang bekerja mengolah kebun karet milik kakek dan nenek, upah yang mereka dapatkan juga sesuai dengan hasil kerja mereka. Di desa kakek dan nenek merupakan satu-satunya keluarga berada kalau dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain, sehingga banyak petani-petani lain yang selalu meminta bantuan atau pinjaman uang dari mereka. Kakek dan nenek senang membantu orang yang dalam kesulitan dan tidak pernah mengancam atau memaksa kepada siapapun untuk mengembalikan uang pinjaman. Kapan mereka punya uang untuk mengembalikan baru mereka mengembalikan. Kakek dan nenek tahu persis kehidupan warga di desanya. Karena kebaikan, keramahan, kerendah hatian, dan ketegasan kakek dan nenek, orang-orang di desa itu sangat menghormati mereka.
Selain juragan karet, kakek menjabat sebagai kepala desa di desa ini, karena kebaikan dan keramahan serta niatnya yang selalu menolong orang, desa mereka tenang dan damai. Orang-orang yang hidup di dalamnya pun saling mengasihi dan saling membantu. Kasih sayang mereka semualah yang membuat aku bertahan hidup sampai sekarang ini. Di tengah kesederhanaan mereka, ternyata mereka mempunyai hati yang sangat mulia. Nasihat dan didikan mereka benar-benar membuat aku merasakan bahwa orang cacat kayak aku bisa menikmati hidup juga. 
“Neng, Tuhan sayang sama semua umat-Nya. Baik itu miskin atau kaya, tua atau muda, cacat atau normal Tuhan sayang semuanya, dan Tuhan lebih sayang lagi sama orang yang melakukan semua firman-Nya dan selalu turut pada kehendak-Nya. Makanya kamu jangan merasa putus asa dan merasa gak berguna hanya karena orangtua dan kak Bimo tidak peduli sama kamu. Masih ada Tuhan dan kami semua yang sayang sama kamu,” nasihat kakek saat aku mogok makan karena sudah sebulan di desa ayah dan ibu bahkan kak Bimo tidak pernah memberi kabar ke aku. Bahkan setiap kali aku menelpon selalu di reject sama mereka. Itu yang buat aku marah dan putus asa. Aku pengen mati saja saat itu karena aku merasa hidup juga tidak ada gunanya. Untung ada kakek dan nenek yang tak henti-hentinya bujuk aku dengan kata-kata bijaknya sampai aku luluh seperti sekarang ini. Kakek dan nenek memang selalu punya kata-kata bijaksana yang selalu mereka berikan saat aku galau dan putus asa. Aku bersyukur banget memiliki dua sosok ini. “Terima kasih Tuhan,” gumamku setiap kali merasakan kebaikan dan kasih sayang mereka.
Selama di desa, ayah, ibu dan abang tidak pernah sekalipun menanyakan kabarku, apalagi berkunjung sekedar melihat keadaanku. Mereka sepertinya benar-benar telah menghapus aku dari hidup mereka. Tega sekali. Sempat terbesit dipikiranku untuk mengakhiri hidup saja, karena aku tidak berharga sama sekali. Keluargaku membuang dan tidak mempedulikan aku. Jika pembunuhan bukan dosa dan bukan tindak kriminal yang mengakibatkan mendekam di bui, mungkin orangtua ataupun abang Bimo sudah membunuhku sejak aku lahir dulu. Aku merasa dunia ini tidak adil bagiku. Tapi, lagi-lagi aku beruntung karena Tuhan masih mengasihi aku, dengan mengirim malaikat seperti kakek, nenek, Rangga, Selvi dan Andin sebagai keluarga sekaligus sahabat yang selalu memberi motivasi dan selalu ada untukku. Mereka yang membuat aku tetap mensyukuri hidup ini, karena setiap kekurangan yang ada pasti terselip kelebihan yang begitu dahsyat, aku yakin Tuhan pasti punya rencana terindah dalam hidupku.
Setiap hari aku mulai belajar bermain gitar, dilatih sama Rangga. Aku sangat salut sama ciptaan Tuhan yang satu ini, dia sangat sabar melatih aku. Melatih orang yang bisa melihat saja susah, apalagi melatih orang seperti aku yang hanya mengandalkan feeling saja. Awalnya aku sempat putus asa dan meminta berhenti saja berlatih karena aku merasa, orang buta kayak aku gak akan bisa bermain gitar dengan baik. Tapi dasarnya Rangga melatih dengan tulus, dia malah memberi aku semangat untuk tetap berlatih dengan rajin. 
“Alya, buta bukanlah alasan kamu berhenti berlatih main gitar. Menurut aku, kamu punya bakat main gitar yang luar biasa. Apalagi suara kamu bagus, kalau kamu nyanyi diiringi lentikan jari yang menari-nari di atas senar, itu sungguh sangat sempurna.” 
Mendengar kata-kata Rangga, aku jadi termotivasi. Aku tak tahu rupa insan yang berada di sampingku saat ini. Apakah dia punya wajah yang tampan? Jelek? Rambutnya panjang atau pendek? Gendutkah dia? Ah semua itu tidak penting, hati yang baik dan ketulusannyalah yang buat aku luluh setiap kali mendengar suara dan desah nafasnya. Dia benar-benar malaikat yang Tuhan kirim untuk menyelamatkan aku dari kegalauan tingkat dewa. Aku gak akan mengecewakan Rangga. Setiap hari aku terus belajar memetik setiap senar gitar dengan baik, awalnya aku mempelajari kunci-kunci dasar seperti kunci G, C, dan D hingga semakin hari aku mulai menguasai beberapa kunci yang lebih sulit lagi. Aku hanya mengandalkan insting untuk menghasilkan bunyi yang indah. Berkat ketabahan Rangga dan kemauanku untuk berlatih aku sekarang bisa memainkan gitar dengan baik.
“Serius amat sih non.” Selvi mengagetkan aku yang lagi serius memainkan gitar, sekedar mencoba setiap kunci yag diajarkan Rangga beberapa hari yang lalu.
“Alya, kamu sekarang hebat ya main gitar. Aku aja, bertahun-tahun diajarin Rangga, sampai sekarang belum benar-benar bisa. Kadang-kadang kunci G masih ketuker sama kunci C, kamu hebat bisa mempelajari setiap kunci dengan baik tanpa melihat senarnya. Aku bangga sama kamu,” kata Andin memelukku dari belakang dengan menyilangkan kedua tangannya di leherku. 
“Eh kalian, sejak kapan disini? Kalian lihat ya tadi aku main.” Kataku malu-malu.
“Sejak kamu mulai memainkan gitarnya. Kami nikmatin banget loh, lagu apa sih yang barusan kamu mainkan? Perasaan aku gak pernah ngajarin kamu lagu yang tadi deh..” Rangga mulai mendekat dan meraih gitar yang kupegang.
“Serius ni bagus? Jangan-jangan kalian cuma mau nyenengin aku doang. Jujur aja deh kalo bunyinya berantakan,”
“Ya ampun Al, beneran kamu mainnya bagus banget, aku masih penasaran lagu yang kamu mainin tadi, belajar dari siapa sih?” Rupanya Rangga penasaran berat. 
“Kamu penasaran ya Ga, hehee” kataku sembari tersenyum. 
“Iya Al, musiknya bagus banget, sayang kamu gak ikut nyanyi,” kata Rangga sambil memainkan gitar ngikutin irama yang barusan aku mainkan. Rangga memang hebat kalau soal gitar, buktinya cuma sesaat dengar aku main, dia langsung bisa praktekkan, seperti yang dia lakuin sekarang. 
“Aku belum hafal liriknya Ga, lagunya aja barusan tadi aku dengar di radio, aku cuma iseng nyobain berdasarkan kunci-kunci yang kamu ajarin, ya tepatnya sih aku cuma gunakan insting untuk setiap iramanya. Jadi gak usah deh kalian muji-muji aku, udah tahu kok kalau aku mainnya berantakan.” Kataku dengan sedikit malu-malu.
“Serius Al? Musiknya barusan kamu dengar dan kamu langsung praktekkan?” teriak Rangga, Selvi dan Andin bersamaan. “Eh biasa aja kali, kenapa udah kayak paduan suara gitu?” balasku yang bingung mendengar keheboan mereka. 
“Ampun deh Al, kamu hebat banget. Sumpah. Baru kali ini aku ketemu orang kayak kamu yang cuma denger lagunya sesaat dan udah langsung bisa praktekkan. Apalagi lagu itu lagu yang asing, dua jempol deh buat kamu,” Andin berapi-api. 
“Setuju. Aku kagum banget sama kamu Al, kamu benar-benar hebat. Aku bangga punya temen kayak kamu, aku tambah deh dua jempol.” Selvi tidak mau kalah.
“Yang dibilang Selvi sama Andin benar Al. Ternyata feeling-ku gak salah, kamu memang punya bakat jadi pemain gitar yang hebat. Lagu yang baru kamu dengar aja udah sebagus itu kamu mainin apalagi lagu-lagu yang udah biasa kamu dengar. Aku salut sama kamu. Ternyata kamu benar-benar niat latihan selama ini. Aku gak sia-sia ngajarin kamu Al.” Rangga ikut bicara.
Aku kaget banget mendengar pujian dari mereka. Tanpa sadar air mata sudah membasahi pipiku. Aku bahagia banget. Baru kali ini aku mendapat pujian seperti ini. 
“Loh kok malah nangis Al? Aku salah ngomong ya?” Tanya Rangga. Selvi dan Andin mendekat kearahku. 
“Gak kok Ga, kalian gak salah apa-apa. Aku hanya terharu. Baru kali ini aku dapat pujian yang betubi-tubi. Aku senang banget, aku gak nyangka orang buta kayak aku masih bisa dapat pujian seperti itu. Makasih ya, kalian memang sahabat terbaikku.” Kataku tanpa bisa menghentikan aliran dari kelopak mata yang terus memaksa untuk keluar. 
“Alya, setiap orang berhak mendapat pujian, termasuk kamu. Kami sama sekali gak melihat kekurangan dari diri kamu kok, karena kamu gak pernah menyerah. Kamu selalu lakukan setiap kegiatan yang kami lakukan, itu artinya kamu masih sama kayak kami, malah kamu punya kelebihan yang bagi aku gak mungkin aku miliki. Kekurangan yang kamu miliki sama sekali bukan penghalang untuk kamu terus maju, ibarat kata Syahrini nih, kamu memang anak yang “sesuatu banget, cetar badai membahana" pokoknya..” kata Andin sambil menggenggam jariku. 
“Al, kalo kamu masih mau terus berusaha dan terus belajar, percaya deh kamu bukan hanya saja mendengar pujian dari kami, tapi dari orang-orang di luar sana.” Kata Rangga.
Seketika aku tersadar, kudapati diriku yang tak sendiri lagi. Bagi kakek, nenek dan teman-teman di desa ini, aku layaknya sebuah pelangi dengan warna-warni yang indah. Pelangi yang melambangkan kehidupan. Namun bagi ayah, ibu dan kak Bimo aku mungkin pelangi yang tidak memiliki warna. Satupun tidak! Tetapi seperti apapun anggapan mereka terhadap aku, cinta dan kasih sayang mereka masih ada untukku, jauh di lubuk hati mereka. Aku yakin!

0 komentar:

Posting Komentar

 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design