Kamis, 29 November 2018

Senja Yang Pudar Dimakan Ego

Pernah saling memberi senyum, lalu memalingkan wajah dan berlalu. Pernah saling tatap, lalu berbalik arah dan menghilang. Pernah berbagi tawa, lalu saling menggigit dan kabur tak bertanggung jawab.

Kemudian angin membawa kabar bahwa kau sedang mencari tempat berlabu yang lebih sejuk, kau sedang menanti senja lain yang lebih indah dan menawan. Elokku menjadi pudar di matamu, mungkin termakan ego dan rasa bosan.

Dalam kebegoan aku memutuskan bahwa kita tak lagi sepaket. Aku menjadi tak berdaya, oleh karena hatiku yang kau patah dengan sangat kejam. Aku terlalu memantapkan hatiku padamu, hingga tak pernah menyangka akan ada akhir seperti ini. 

Dengan tertatih ku pungut kepingan demi kepingan hati yang masih tersisa, karena sebagian telah kau hancurkan. Melawan setiap bait kenangan yang ikut menyerang tanpa ampun. 

"Aku harus kuat", gumamku sok tegar. Berusaha berdamai dengan diri yang tak ingin lagi berjalan menujumu. Meski berat, namun harus kuakui bahwa aku kalah dalam hal mempertahankanmu, karena kau terlalu liar untuk kutaklukkan.

Kamis, 12 Juli 2018

Dua Sayap Yang Patah

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/
Tidak semua kisah yang diawali dengan keindahan akan berakhir indah, begitupun sebaliknya. Tidak peduli seberapa kuat kamu bertahan, seberapa banyak pengorbananmu, jika memang kisahmu tak direstui takdir maka perpisahan akan menjadi jalan keluar terbaik yang dihadiakan alam untukmu.
 
Dan akhirnya kita sampai juga pada titik ini, dimana berpisah menjadi satu-satunya cara yang kita punya. Sudah habis tenaga kita bertualang, bersama cinta, luka, tangis dan kecewa. Cukup sudah rasa itu membuat kita sekarat.

Akh, sungguh menyakitkan jika sadar bahwa takdir benar-benar tidak peduli sepahit dan sehitam apa kita berjuang untuk tetap bersatu. Pada akhirnya, hubungan kita hanya akan menjadi masa lalu, yang mungkin akan berat untuk dikenang, karena kita pasti takut, luka itu kembali menyengat dengan sangat dalam.

Jumat, 01 Juni 2018

SAYA PANCASILA! SAYA INDONESIA!

Pancasila itu bukan merk baju yang lain nge-trend saat ini. 
Pancasila bukan merk parfum yang wanginya menembus ruang dan waktu. 
Pancasila bukan jenis makanan dengan cita rasa menggiurkan. 

Pancasila tidak juga tentang slogan-slogan yang bertaburan di sudut jalanan
Atau quotes-quotes bijak yang memenuhi galeri handphone. 
Juga bukan sekedar seminar-seminar yang mengatasnamakan Kebhinekaan demi menguntungkan segelintir pihak. 

Tapi... 
Pertama, Pancasila itu KeTuhanan Yang Maha Esa
Kedua, Pancasila itu, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Ketiga, Pancasila itu, Persatuan Indonesia
Keempat, Pancasila itu, Kerakyatan Yang diPimpin Oleh Hikmat Kebijaksaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan.
Kelima, Pancasila itu, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 

Pancasila itu, lima langkah menuju Indonesia Harmonis. 

Selamat merayakan hari Lahirnya Pancasila. Kiranya makna kelahiran Pancasila terpatri dalam dada kita sebagai patriot-patriot muda bangsa ini. Saya Pancasila! Saya Indonesia! Jayalah selalu bangsaku! 

Sabtu, 26 Mei 2018

Mencintaimu Adalah Anugerah Termulia Dari Tuhan

Aku menyadari kelemahanku yang sangat sulit untuk mengendalikan emosi. Terkadang hal sepelepun bisa membakar dan menghanguskan kasih sayang yang telah kita bangun sepenuh hati. Namun, aku bersyukur, Tuhan menitipkan makhluk sepertimu dalam hatiku. Yang tak pernah ikut teriak saat nada bicaraku mulai sedikit meninggi, yang tetap tenang menanggapi omelan-omelan tak penting yang sesuka hati keluar dari mulutku akibat emosi yang tak terkendali, yang tetap meneduhkanku dengan kata "sayang" dan "i love you". 

Kepada kamu, tetaplah menjadi orang yang meluluhkan hatiku seperti ini. Tetaplah selalu kuat denganku menghadapi apa saja yang menawarkan luka dan pilu. Denganmu, aku ingin menempu jalan berbatu dan penuh duri, menikmati pahit dan manisnya jatuh cinta. Bersama bertualang menemukan tempat yang tenang penuh bahagia. 

Harus kuakui banyak yang menawarkan ini, itu dan menjanjikan kebahagiaan. Namun aku seperti ingin muntah dengan tawaran-tawaran itu. Kamu saja yang buatku tetap waras dan juga bisa setengah gila saat rindu mulai melanda. Kamu saja seorang yang ingin kujadikan teman hidup berbagi banyak perkara. Orang yang ku peluk saat rapuh juga bahagia. Tempat menumpahkan segala sesal dan sesak di dada. 

Kamu saja sayang, percayalah tanpa ada ragu walau sedikit. Kamu yang telah membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya. Memang tak akan seindah pelangi juga seelok mentari pagi ketika kita bersama. Namun aku ingin bersungguh-sungguh menjalani segalanya, selamanya, denganmu saja.  Tidak usa ada kata ragu lagi. Tidak usa hiraukan pelangi ataupun mentari. Tidak usa lagi takut perihal aku tak cinta padamu. Karena melebihi apa yang kamu tahu, mencintaimu itu adalah anugerah termulia yang Tuhan percayakan padaku. 

Rabu, 11 April 2018

Seperti Pertama Kali Kamu Mengucapkan Kata ‘Cinta’ Padaku.

Hai kamu yang saat ini masih betah mengacuhkanku. Aku ingin jujur mengatakan bahwa aku sudah lelah. Aku lelah dengan semua ketidakjelasan ini. Harus kuakui bahwa kita menggengam ego yang sama. Aku mempertahankan bahwa aku tak salah, dan kamu pun demikian. Lantas siapa yang menanggung salah kalau kita sama-sama merasa benar? Aku tak coba mengejar, kamu pun malah menghindar. Demi Tuhan, ini tidak akan pernah menjadi baik jika kamu dan aku terus ada dalam lingkaran tarik-ulur.

Sesuatu sudah mengikat kita. Jadikan itu alasan untuk kita tetap mempertahankan apa yang sudah kita mulai dari awal. Ini hanya perihal salah paham yang dibalut ego hingga kita menjadi pasangan yang saling asing. Padahal kita sama-sama tahu, bahwa rasa ingin memiliki itu ada pada hati kita masing-masing. Sejak awal kita sepakat untuk sama-sama, kita tidak pernah menginginkan akhir yang seperti ini. Kamu tulus menyayangiku, begitupun aku.

Ku akui ketidaksempurnaanku, sayang. Dalam beberapa hal aku ceroboh dan mungkin melakukan hal-hal di luar kendali, yang membuatmu menjadi sakit hati dan merasa bahwa aku tidak lagi mencintaimu. Tidak. Bukan seperti itu sayang. Belalah dada ini, jika kamu ragu akan cintaku. Sejujurnya, ketulusan cinta ini seutuhnya masih untukmu. Hanya saja, ego ini yang membuatnya tidak terlihat.

Kamu tahu sayang, dalam malam yang sudah larut, aku berdoa memohon agar didekatkan denganmu. Tanpa henti, berkali-kali kupanjatkan pada Dia yang telah mengijinkan masalah ini menimpa kita. Terkadang dalam khusyuk-ku, aku menangis. Aku terisak mengingat setiap ucapan ‘selamat’ dari mereka yang tulus menyayangi kita maupun dari mereka yang pura-pura menyayangi kita. Mereka ikut bergembira karena kita telah berhasil melewati satu tahap yang diidam-idamkan para pasangan yang saling memberi cinta. Lalu kita? Kita malah asyik bermain api. Kemudian perlahan-lahan membakar diri kita sendiri.

Dengan jujur ku akui pernah membencimu. Aku seolah-olah menyalahkanmu atas semua ini. Namun aku sadari satu hal, bahwa rasa benci ternyata tidak menuntaskan apapun. Malah rasa benci ini melahirkan beban baru bagiku. Percayalah, kamu masih di hatiku. Sekeras apapun usaha untuk membencimu, yang kudapati hanya rindu yang teramat berat.

Karena itu sayang, mari kita sudahi semua ini. Mari kita akhiri lelah yang berkepanjangan ini. Mari kita berhenti membenci. Mari kita duduk sama-sama dan membicarakan ini dengan kasih, dengan segenap cinta yang masih tersisah, seperti pertama kali kita bertemu dan kamu mengucapkan kata ‘cinta’ padaku. Mari kita lakukan itu, sayang. Dan berdamai dengan hati kita. Mari kita kalahkan ego dan tunjukkan pada dunia bahwa cinta kita tidak main-main. Kita perlihatkan pada semesta bahwa cinta kita lebih besar dari masalah yang kita hadapi saat ini. Jangan biarkan waktu menertawai kegagalan kita dalam menjaga hubungan ini, sayang. Tapi mari kita buat semesta bertepuk tangan, karena akhirnya kita keluar sebagai pemenang.

Selasa, 10 April 2018

Riani, Gadis Penjual Kue Pisang

Rambut panjang, hitam lembut. Kulit sawo matang dengan alis tertatah rapi. Bentuk hidung pas-pasan, tidak mancung juga tidak pesek. Senyum manis, bibir indah merah delima. Riani, begitu kudengar orang-orang memanggil namanya. Nama yang indah bukan? Ya. Gadis manis yang menjajahkan kue di samping sekolahku itu namanya Riani Aditya.

Diam-diam aku mengagumi gadis itu. Walau ada beberapa komentar menggelikan yang kudengar dari teman-teman cewek di sekolah, “hih, cantik cantik kok jualan kue pisang...“ Aku tertawa dalam hati, lalu bergumam sendiri, “anak sekolah kok, bego!”

Ya. Aku menganggap bego semua orang yang menganggap rendah pekerjaan Riani. Hello? Jaman sekarang apa masih ada anak yang mau membantu orang tua untuk berjualan kue atau sejenisnya? Masih ada? Sadar atau tidak, jaman sekarang jamannya anak yang jadi majikan dan ibu-bapak jadi ‘pembantu’.

Diakui atau tidak, namun itulah realita hidup jaman now. Kasih sayang dan cinta yang besar dari orang tua seringkali dimanfaat anak untuk memeras orang tua dengan kejam. Kebutuhan mereka harus jadi yang pertama. Kecantikan dan kegantengan mereka itu yang diutamakan. Masalah moral. Masalah menghargai. Masalah kasih, cinta dan keharmonisan itu masalah nomor sekian, atau bahkan tidak termasuk dalam daftar hidup untuk dilakukan.

“Aku tamatan SMP, Kak. Aku masih bantu ibu jualan kue, untuk kumpulin modal buat lanjut ke SMA tahun depan. Aku juga pengen bersekolah di sini, Kak,” Begitu jawab Riani, saat aku memberanikan diri mengorek privasi-nya. Luar biasa, bukan? Mulia sekali perbuatan anak ini. Kalau boleh jujur, aku sangat iri dengan kebaikan hatinya, sekaligus malu pada diri sendiri, menyadari bahwa aku laki-laki yang masih suka merengek dan suka minta ini-itu pada orang tua.

Riani, aku berdoa untukmu. Untuk cita-cita muliamu, aku percaya tahun depan kita akan sama-sama mengenakan seragam yang sama. Walau mungkin nanti kamu akan jadi adik kelasku, namun pelajaran hidup yang sudah kamu jalani membuatmu selangkah lebih maju daripada aku.

Riani, mengapa setiap kali menyebut namamu, atau sekedar mengingat wajahmu, hatiku berdebar-debar? Kira-kira mengapa hatiku seperti itu, Riani?

Riani, tahun depan kalau kita sudah menggunakan seragam yang sama, aku ingin membisikan sesuatu padamu. Sesuatu itu yang mendorongku untuk terus ada didekatmu sekarang. Semoga kamu tidak merasa aneh, karena tiba-tiba ada makluk asing yang menawarkan diri membantumu jualan. Itu semua kulakukan karena dada ini sesak, Riani! Dada ini sesak, jika sehari saja tidak melihatmu. Semoga kamu memahami getaran ini, Riani.

Pulanglah, Kamu Salah Rumah


Terkadang membangun hubungan yang terlampau akrab dengan lawan jenis itu tidak baik. Ada yang memang mengerti posisimu dan ia tetap menjadi teman yang tak pernah mengusik privasimu, namun ada juga teman yang pura-pura tidak tahu posisimu dan ia terus memaksimalkan diri demi mendapatkan hatimu. Bagian ini yang harus diwaspadai. Kadang ia merasa bahwa dirinya yang lebih pantas untukmu daripada kekasihmu saat ini. Apalagi jika ia mengenalmu. Tahu semua hal tentangmu. Tentang baik dan tentang konyolmu. Tentang suka maupun tentang dukamu. 

Dalam segala sesuatu yang dilalui bersama tentu sebagai sahabat, ada perhatian dan sayang yang tersirat di sana. Dalam anggapmu, kamu melakukan itu karena kamu peduli, karena kamu ingin hubungan persahabatan tetap terjaga. Namun bagi dia yang memang menaru hati padamu akan beranggapan bahwa kamu  melakukan itu semua karena kamu juga diam-diam sedang menyimpan rasa untuknya.

Seperti yang kini juga menimpa kita. Terkadang aku merasa jahat kalau aku mengacuhkanmu saat kamu butuh bantuanku, atau saat butuh teman untuk berbagi cerita, aku merasa bukan teman yang baik jika mengabaikanmu. Namun, disisi lain aku juga merasa jahat jika terus-terusan memperhatikanmu, selalu ada saat kamu butuh. Seolah-olah aku memberi harapan padamu. Padahal kepedulianku itu karena aku mengasihimu sebagai seorang sahabatku.

Jelas kita sahabat. Sahabat yang saling menyayangi. Aku tak akan menyangkali itu. Namun, ada batas-batas. Ada jarak yang harus kita perhatikan, karena salah satu dari kita telah menerima sebuah hati yang harus dijaganya dengan ketulusan jiwa.

Aku mohon, buang egomu itu. Pahamilah yang terjadi saat ini. Aku bukan lagi aku yang dulu, yang bebas sebebas-bebasnya. Saat ini, ada hati yang harus aku genggam. Ada perasaan yang harus aku jaga sepenuh hati.

Tolong jangan lagi mempermasalahkan perihal siapa yang mendekat lebih dulu, atau siapa yang menyimpan rasa paling pertama. Kenyataan saat ini, aku sudah dengannya. Sepura-pura apapun kamu dengan keadaan ini, tetap yang kamu hasilkan nanti hanyalah kekosongan.

Berhentilah membuat drama ini menjadi panjang. Seseorang telah mengikatku dengan kesungguhan hati dan sedang dalam perjalanan menuju akhir. Demi Tuhan, aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak ingin kamu terluka lebih dalam lagi. Aku tetap akan menjadi sahabatmu. Sahabat yang akan selalu mendukung setiap niat baikmu. Fokuslah pada dirimu sendiri. Lekas temukan seseorang dan buatlah kisah yang indah bersamanya. Jangan tetap tinggal pada rumah yang sudah tak punya ruang untuk menampung ragamu. Pulanglah sahabatku, kamu salah rumah.

 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design