Senin, 18 November 2013

Who was Mr. TM?



Kalian yang sering muncul di blog gue, dan baca postingan-postingan gue trus nemuin ada kata Mr. TM pasti pada bingung dan bertanya dalam hati, siapa sih sebenarnya Mr.TM itu? 

Mr.TM itu bukan merk baju yang lagi trend saat ini, bukan juga nama label yang sudah kadaluarsa, bukan adiknya ato kakaknya ato simbahnya ato keponakannya ato eyangnya ato buyutnya Mr Bean, apalagi nama samarannya Brad Pitt, itu gak mungkin banget. 

Mr. TM itu adalah nama yang spesial, yang gue kasih spesial buat orang yang spesial (hehe). Jadi, Mr. TM itu spesialnya “plus, plus” menurut gue, dan cukup gue, kalian gak boleh ikutan bilang dia spesial, karena Mr.TM gue cuma spesial buat gue. 

Mr.TM itu orangnya cakep, tapi kurus, tinggi juga, dan gak ada satu orang pun di dunia ini yang mirip sama dia. Pecaya deh, emang gak ada, karena gue udah survei setiap malam lewat mimpi gue, dan terbukti Mr.TM gue cuma satu dan gak ada Mr.TM yang lain, di jagat ini.   

Gue ngasih nama Mr. TM karena waktu itu gue belum tahu nama aslinya, karena dia anak Teknik Mesin, jadi gue kasih nama Mr. TM. Semenjak kenal dia, gue jadi tahu betapa susahnya jadi paparazi, betapa malunya jadi penguntit dan betapa banyak dosa kebohongan yang gue lakuin. 
Gue tahu dia pasti ngerasa ilfill dengan perlakuan gue. Peduli setan, dia udah terlanjur masuk dalam daftar buronan hati gue. 
Semua usaha gue gak sia-sia, gue akhirnya bisa foto bareng dia di sebuah acara teater di kampus. Trus waktu dia ulang tahun, gue sebenarnya pengen ngasih hadiah sama dia, tapi gak sempat karena waktu itu gue sibuk PPL di sekolah. Gue cuma kasih ucapan lewat jejaring sosial yaitu facebook. Gue kirim ucapan lewat inbox dan dia balas “makasih ya :) ”. Dia cuma balas seperti itu dan gue udah seneng banget. Seharian gue fb’an bolak-balik cuma ngeliatin balasannya.

Walaupun dia selalu cuekin gue, gak pernah sekalipun senyum sama gue, sebodoh amat. Dia akan tetap jadi Mr. TM gue yang selalu bersinar dan gak akan pernah redup. Benar kata Rossa, betapapun kita menginginkan dan merindukannya, kita tidak akan pernah bisa memeluk bulan itu. 

Salam unyu-unyu ^.^

Senin, 11 November 2013

Someone There

Siapapun yang membaca tulisan ini ..  
Percayalah, kamu tidak akan pernah hidup sendirian di dunia ini
Ada seseorang di luar sana yang menyayangi dan mencintaimu  
Lebih dari yang kamu tahu .. 

Yang akan mencintaimu apa adanya, bukan ada apanya  
Yang akan menyayangimu karena hati bukan karena harta dan fisikmu  
Yang mencintai dan menyayangimu dengan setulus hati dan sepenuh jiwa  
Yang setia menemani sepanjang hidupmu ..

Saat kamu sehat dan sakit, 
Saat kamu susah dan senang,  
Saat kamu menderita dan bahagia,
Saat hatimu perih dan pahit,
Saat kamu butuh dan tersesat,
Saat gelap dan terangmu,  
Saat panas dan dinginmu  
Saat mendung dan hujanmu,   
Saat petir dan pelangimu ..
 
Hanya saja .. 
Kita belum tahu di mana dia sekarang, 
Sedang apa dan bagaimana rupanya
Apakah dia baik-baik saja seperti yang kau harapkan 
Dalam setiap bait doamu  
Ataukah dia sedang menangis di atas sajadah bersama Tuhannya ..  
 
Dalam penantian kekasih halalnya
Dia adalah pasangan hidupmu yang masih menjadi misteri
Misteri bagiku, bagimu dan bagi kita semua 
Yang masih percaya akan cinta sejati.. 

ALLAH akan mempertemukan kita dengannya 
Di tempat yang tepat pada akhirnya
Bahagia akan menghampiri dan memelukmu dengan erat
Belahan jiwamu akan selalu ada untukmu 
Karena kau adalah separuh nafasnya.  

Dia akan selalu menjagamu karena kau sangat berharga dari apapun..
Dia akan selalu tersenyum karena kau adalah jantung hatinya..  
Dan dia akan selalu mendoakanmu karena kau adalah separuh hidupnya.. 

ALLAH tidak menganiaya dirimu sedikitpun  
Tapi DIA sedang menguji kesabaran dan kesendirianmu  
Karena ujian itu akan selalu ada untuk membuktikan besarnya cintamu kepada-Nya .. 
 
Siapapun kamu ..
Seperti apapun kamu ..
Dimana pun kamu ..
Aku akan selalu menunggu
Tetap menunggu dalam asah dan rasa yang meluas dalam samudra waktu.  

Kamis, 07 November 2013

Bintang Sang Rembulan



“Din.. Dindaaa….” 

Aku terus berjalan, seolah tak mendengar apa-apa. 

“Dinda, tunggu!”

Aku tak menoleh, tidak sedikit pun. Kali ini aku berusaha mempercepat langkahku. Kenapa baru sekarang kau datang dan memanggilku. Lalu kenapa juga aku harus menghindarimu? Kita kan cuma teman. Ya, teman. Aku masih ingat sekali kata-katamu dulu, 3 tahun yang lalu sebelum kau pergi meninggalkan kota ini, kata-kata yang tak ku tahu kenapa kau mengucapkan itu padaku. Apakah kau tahu perasaanku? Katamu, kita teman, dan selamanya akan jadi teman, itu katamu yang berhasil buat aku seperti orang bego. Belum mengutarakan perasaanku saja kau sudah berkata seperti itu, apalagi kalau sampai aku menyatakan perasaanku. Mungkin kau akan mempermalukanku. Ya wajar, kau dan aku beda. Kau bekerja di sini hanya untuk menunjukkan kepada orang tuamu bahwa kau bisa mandiri, tapi aku bekerja karena memang akulah satu-satunya tulang punggung keluarga. 

“Dinda…” 

Bodoh. Kenapa kau memanggilku sekencang itu? Lihat, bahkan kau berlari mengejarku. Apakah aku begitu penting hingga kau tinggalkan pekerjaanmu dan mengejarku? Ya, mungkin kau lagi membutuhkan teman saat ini. Entah apa yang menahan langkahku, aku mendadak berhenti dan menoleh. Kau menghampiriku dengan senyum. Senyum? Kau tersenyum padaku? Tidakkah kau marah karena sikap acuhku barusan? 

“Kamu kenapa sih buru-buru? Kamu gak dengar aku panggil dari tadi?” katamu setelah berhasil berdiri di hadapanku.

“Maaf, aku gak dengar,” 

Bohong. Kenapa aku harus bohong? Kenapa tidak berterus terang? 

“Gitu ya, eh, nanti malam aku jemput ya, kita jalan-jalan keliling Jogja, semenjak aku pulang dari Surabaya kita udah gak pernah ketemu lagi, apalagi jalan-jalan bareng, aku kangen jalan sama kamu” 

Mimpi? Apa aku sedang mimpi? Kangen? Kau kangen? Kau bercanda? Kau mengajak ku jalan? Apa yang kau pikirkan? Mau buat aku ge’er? Dan ya, kalau memang itu maksudmu. Selamat anda berhasil. Aku benar-benar ge’er dan saat ini, bunga-bunga hatiku mulai bermekaran. 

“Din, kok bengong? Pokoknya nanti malam aku jemput, dan aku gak mau dengar kata penolakan dari kamu, oke?” 

Belum sempat aku menjawab, wajahmu sudah mendekatiku, apa yang mau kau lakukan? Menciumku? Oh tidak, jangan sekarang, jangan di sini. Kau semakin dekat. Oh my God! Kau dengar degup jantungku? Tidak! Aku gugup, benar-benar gugup. Aku kangen pelukanmu yang dulu, walaupun pelukan sebagai teman, tapi aku kangen, kangen banget saat kau mengacak rambutku, saat kau mencubit hidungku. Semua yang kau lakukan dulu semua bergemuruh di dadaku saat ini, aku benar-benar kangen kamu. 

“Love you, Din” 

Degg!! Dalam ketidakberdayaanku, kau membisikkan sesuatu di telingaku. Apa aku gak salah dengar? Kata apa yang kau ucap barusan? Apakah barusan itu kau sedang menyatakan perasaanmu? Ah, sejak kapan kau jadi tukang gombal?

“jangan lupa nanti malam ya, Din?” 

Belum sempat aku berucap, kau sudah berlalu sambil berteriak seperti itu. Aku merasa seperti patung bernyawa saat ini. Apa yang buat kau jadi berubah seperti ini, teman? 

*******

Kalau ditanya siapa orang paling bahagia malam ini, pasti aku orang pertama yang mengancungkan jari. Sumpah! Aku bahagia sekali malam ini. Kau benar-benar perlakukan aku seperti putri. Sikapmu berubah, benar-benar berubah. Dulu setiap kali kau jemput aku di rumah, kalimat pertama yang kau ucapkan pasti “slamat malam” tapi, kali ini kau malah berucap “kamu cantik sekali malam ini, Din” itu perubahanmu yang pertama. Dulu kalau sudah di atas motor, kau tidak pernah bertanya apa aku udah siap berangkat atau belum, tapi kali ini “Din, sudah siap berangkat?” kau mulai peduli sama keselamatanku. Itu perubahanmu yang kedua. Dan masih banyak lagi perubahan-perubahan lain yang buat aku sadar bahwa kau sedang tidak memperlakukanku sebagai teman.

Perlahan-lahan mataku mulai terbuka, seperti luruh dalam riak pesona yang mengulum debar tanpa mampu memaparkan dalam logika di kepala. Aku hanya bisa terdiam, terpaku pada rasa dan asa yang meluas seperti samudra, nyaris tak mampu lagi menggenggam apa yang telah menjadi pijakan pada koridor waktu yang berjalan di belakang, yang ada adalah sosok baru yang aku sendiri tak sempat mengenalinya. Kasihmu telah berubah menjadi biru seutuhnya, warna yang terlahir dari ketulusan di dada, dan rembulan itu menjadi saksi cinta kita.

Aku berterima kasih pada sang waktu yang kembali menghantarmu padaku, bukan sebagai teman, sahabat, namun pangeran yang akan mempersunting aku dengan sejuta cinta.

Rabu, 06 November 2013

Merindukan Purnama


Bukankah sudah pernah ku katakan bahwa kau bintang kecilku? Mengapa kau juga tak paham tentang maksud dan perasaanku? Apa perlu aku membedah hatiku supaya ia dapat menjelaskan semuanya padamu? Kenapa kau tak pernah paham tentang mauku? Apakah aku terlampau sangat abstrak, hingga hatimu tak mampu menjangkau setiap detak jantungku? 

Hei, bintang kecilku. Kemari, lihat bola mataku. Di sana masih tersimpan dengan rapi sederet kata rindu yang tak mampu terucap karena tingkahmu. Masih ada aliran bening yang membasuh sebait doa untukmu. Coba kau tatap bening mataku, di sana masih terlihat jelas wajahmu. Utuh. Masih terlukis indah senyummu. Menawan.

Sekarang bantu aku mencari angka yang tersisa, karena semua angka telah habis terpakai untuk menghitung setiap detik penantianku untukmu. Namun begitu, aku tak peduli aku masih mengeja penantian, memaknai setiap detik yang terlewatkan sebagai bentuk ketulusan cinta untukmu. Aku tulus mencintaimu, tidak peduli kau siapa. Kau seperti bintang Mirach tiba-tiba muncul dalam pekatnya malam, membuatku mengagumi seberkas sinarmu. Dan tahukah kau semakin lama bukan sekedar kagum yang kurasa, tapi ingin memiliki. Itu cinta, tulus.

Dalam kesempurnaanmu, kau datang mengisi ruang hampa dalam jiwaku. Spasi hidup yang sudah terlampau jauh jaraknya. Memberiku kesejukan di tengah sekarat terik kerinduan mencintai. Aku menerimamu seutuhnya, sungguh. 

Tahukah kau, hei bintang kecilku bahwa ketika diburu hujan, aku tak ingin lari atau berlindung, ku biarkan tubuhku tersapu oleh butiran-butirannya, karena aku ingin merasakan kesejukan cinta, lalu muncul pelangi, sebagai lambang persatuan jiwa. Atas nama tanah, air dan udara. Atas nama alam. Pelangi indah untuk sebuah cinta suci yang tulus.

Bintang kecilku, aku masih menunggu. 
Tahukah kau bahwa waktu mulai mengejekku? Mencoba merobohkan pertahanan yang sudah kurangkai dengan sisa-sisa cinta. tapi, tak perlu khawatir, aku tak akan goyah. Aku wanita perkasa, aku bahkan sudah bebal dengan kata menunggu. Meskipun di ejek rembulan, di hina mentari, dikibuli waktu, peduli setan. Aku akan tetap menunggu, hingga akhirnya kau berpaling padaku. Lalu kita rangkai cinta kita bersama jutaan bintang di langit, bersama kunang-kunang di malam hari. Maka rembulan akan terkagum-kagum, mentari mulai cemburu, lalu berusaha membakar cinta kita, untunglah hujan mampu menyiram dan memadamkannya. Cinta kita pun kembali sejuk. Lalu kita sepakat, untuk menyatuhkan cinta kita bersama alam, kita berhasil membuat rembulan bersemu malu. Andai semua itu benar adanya. Ah, aku bermimpi lagi.

Kasih, tidak bisakah sejenak kau datang? Bukan untuk merajut sebuah kisah romantis. Tapi untuk menggenggam takdir, mengekor waktu dengan mata kita, lalu kita bersorak jika ternyata waktu dan takdir yang kita tatap telah menyerah, lalu kita saling menghukum dalam pelukan, dalam ciuman. Hukuman terindah yang membuat kesalahan begitu indah untuk diulangi. Ah, tidak mungkin kita bisa lakukan itu. Kau tak ada di sampingku. Kau sibuk. 

Hei bintang kecilku, sampai saat ini pun kau tak juga datang. Bahkan untuk sejenak menjamah kepalaku meski tanpa mengelus, atau tersenyum, tidak tertawa. Atau sekedar membiarkan mataku menguliti setiap senti tubuhmu, meski tak bisa menyentuhmu. Biarkan aku melihatmu, menikmati sisa-sisa aroma tubuhmu, sebelum angin mencurinya dariku. Datanglah padaku, aku sudah nyaris tak bisa bernapas. Kau telah renggut hatiku, kini nafasku, hidupku. Apa kau terlampau sibuk? Atau kau telah menemukan bidadari lain yang mampu merajut malam-malam gelapmu jadi indah? Kalau memang benar, aku cemburu pada bidadari itu. Tidak juga kau paham? Aku sekarat. 

 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design