Selasa, 19 Juni 2012

Indahnya Jatuh Cinta

Yang namanya cinta tidak akan indah kalau tidak dibarengi air mata. Maka, tak heran jika ada filsafat yang mengatakan bahwa, kalau kamu belum siap mengeluarkan air mata maka jangan coba-coba kamu mengenal yang namanya cinta. Karena cinta dan air mata itu sepaket. Seperti yang kebanyakan orang alami saat ini. Aku paling benci yang namanya air mata. Siapapun dia yang menangis di depankudengan alasan apapun yang berhubungan dengan cinta maka jangan salahkan aku kalau akan aku tendang dia jauh-jauh dari hadapanku. Yah, itulah aku. 

“Kamu itu belum pernah jatuh cinta makanya kamu gak tahu, gimana sakitnya cinta itu” kata temanku suatu ketika. 

“Karena aku tahu cinta itu hanya membawa bencana dan air mata makanya aku gak mau jatuh cinta dan mengenal yang namanya cinta. Lagian sih, kalian pada bodoh semua udah tahu cinta itu seperti apa, masih juga kalian pertahankan dan yang paling menyedihkan buat aku nih, kalian sampe lakuin apa aja buat mendapatkan cinta itu. Gak penting banget”.

“Ya, kamu gak ngerti sih, makanya kamu bisa ngomong kayak gitu. Nanti juga suatu saat kalau kamu dah jatuh cinta baru kamu rasakan baik-buruknya,” balas temanku. 

Aku memilih diam, paling malas aku kalau dah bicara tentang cinta-cinta’an. Mending aku dengerin nenekku cerita tentang jaman-jaman penjajah dulu ketimbang dengerin teman-temanku ngomongin cinta atau sejenisnya. 

Sore itu, sepulang kampus seperti biasa aku maen ke telaga yang tidak jauh dari rumahku. Itu adalah satu-satunya tempat fovoritku. Setiap kali pulang dari kampus aku harus mampir ke situ walaupun cuma sebentar. Sehari aja aku tidak ke situ seperti ada sesuatu yang belum sempurna dihidupku. Aku sudah jatuh cinta sama tempat itu sejak kami menghuni rumah yang tidak jauh dari telaga itu. Aku menghidupkan MP4 dan berbaring di rerumputan sambil melepas lelah karena aktifitas di kampus yang begitu padat, diiringi musik jazz yang menambah indahnya telaga ini. Sejenak aku berpikir tentang kebiasaanku mengunjungi telaga ini. Menurutku telaga ini tempat yang menyenangkan dan bersahabat banget, tapi sayangnya cuma aku yang berpendapat seperti itu. Orang-orang yang disekitar situ sama sekali gak tertarik sama telaga ini. Mereka bahkan gak pernah memperhatikannya, apalagi mengunjunginya. 

Tiba-tiba terlintas dipikiranku tentang cinta. Aku udah jatuh cinta kali ya sama tempat ini, makanya gak ada alasan untuk gak mengunjungi tempat ini barang seharipun, selalu ada alasan untuk ke tempat ini”. 

Mungkin seperti ini kali yang dirasakan oleh mereka-mereka yang jatuh cinta pada seseorang yang menarik hatinya. Walaupun bagi orang lain dia biasa-biasa saja tapi bagi mereka yang jatuh cinta padanya dia sangat istimewa dan luar biasa, maka untuk mendapatkannya mereka pasti menggunakan berbagai macam cara dan seperti aku yang tak mau lepas dari telaga ini, mereka pun rasanya tak ingin lepas dari sosok yang sudah menarik hati mereka.
Siapapun pasti tidak akan pernah lepas dari yang namanya jatuh cinta, bagaimanapun cara kamu menghindarinya suatu saat kamu pasti akan mengalami jatuh cinta. Gak percaya? Buktinya aku. Bertahun-tahun aku menghindar dari yang namanya jatuh cinta, karena menurut aku cinta itu hanya akan membawa bencana dan air mata. 

Tapi ternyata cinta mampu menaklukan aku juga. Diam-diam aku mengagumi sosok yang begitu baik, sederhana, pintar, dan apa adanya. Namanya Dinda, anak baru pidahan dari fakultas kedokteran Bandung. Gak tahu kenapa setiap kali melihat dia ada sesuatu yang beda dalam dirinya, senyumnya yang begitu manis membuat aku ingin melihat dia terus tiap hari. Ini kali ya rasanya jatuh cinta. 
Teman-temanku sudah seperti paranormal yang sok tahu “hei Jo, kamu kenapa tuh ngeliatin telaga sambil senyam-senyum kayak gitu, emangnya di telaga itu ada Dinda ya.. hahaa” kata salah satu temanku waktu aku ajak mereka maen ke telaga. 

Sebenarnya mereka paling malas aku ajak ke telaga karena menurut mereka gak ada yang menarik di sana. Tapi karena aku ngajaknya pake “pemaksaan” jadi mau gak mau mereka harus mau. Kembali ke pembicaraan mengenai Dinda. 

Aku kaget mendengar gurauan temanku itu. “Ih, sotoy banget sih kamu jadi orang. Siapa juga yang lagi mikirin Dinda. Gak penting banget”. Ngelak jalan satu-satunya untuk selamat dari tudingan mereka. 

“Jiah, kami nih bukan baru kemarin kenal yang namanya cinta, Jo. Dari gerak-gerik kamu aja, kami udah tahu kalau kamu suka kan sama si anak baru itu, ngaku aja deh Jo kami semua ngedukung kamu kok”, mereka terus meneror aku. 
Bukannya aku takut mereka tidak mendukungku, karena mereka dukung ato tidak pun aku tetap akan berusaha untuk ngedapetin Dinda. Tapi yang aku takutin kalau mereka sampe tahu aku sudah jatuh cinta. Soalnya aku selalu bersikeras untuk tidak akan pernah jatuh cinta. Duh harus alasan apalagi nih. 

“Ah, ngaco aja kalian. Lagian kalian tahu sendirikan aku paling benci ngebahas yang gini-ginian” 

“Udalah Jo, sampai kapan kamu mau menghindar terus, semakin kamu menghindar cinta akan terus membuntuti kamu. Biarkanlah cinta itu mengalir Jo, cinta tidak selamanya membawa bencana kok. Pada dasarnya cinta itu indah, kalau kamu salah memahaminya maka cinta akan jadi bencana, tapi kalau kamu bisa menghargai dan memahami cinta yang sebenarnya itu, tentu kamu akan bahagia”. 
“Jo, orang yang gak waras aja bisa jatuh cinta masah kamu kalah sama mereka? Cinta itu ada pada setiap insan di dunia ni Jo,” Aku dicermahin abis-abisan seolah-olah aku anak TK yang sama sekali gak ngerti akan cinta. 
Sejak saat itu aku mulai sadar kalau aku juga butuh cinta dan berhak untuk jatuh cinta. Benar juga sih kata teman-temanku, mungkin hanya orang yang tidak normal alias kelainan alias idiot yang tidak mengenal apa itu cinta. Seperti berputar 360 derajat, kehidupan aku sekarang tentang cinta jauh berbeda. Sekarang aku sudah tidak malu lagi, bahkan aku yang paling bersemangat kalau bicara soal cinta. Rasanya setiap hari kalau ngumpul sama teman tuh obrolan paling menarik buat aku yaitu tentang cinta. 
Teman-temanku pada bingung “Jo, kamu baru kesambet setan apa sih? Akhir-akhir ini obrolan kamu tentang cinta mulu, gantian kami sekarang yang bosan. Skali-skali ganti topik lah, ngomongin film terbaru kek, ato Negara yang paling unggul di Euro kali ini kek. Nih tiap hari cinta mulu, Dinda mulu, bosan juga kan jadinya”. Kata salah satu temanku sewaktu ngumpul di sebuah café yang gak jauh dari kampus. 

“Ya, kalian gimana sih, kemarin-kemarin kalau aku ngomongin Negara paling unggul di Euro, kalian gak serius dengarnya malah kalian asik ngobrolin pacar-pacar kalian, dan sekarang giliran aku jatuh cinta masah kalian nyuru aku ngebahas bola lagi, gimana sih kalian? Gak konsisten banget”. Jawabku sedikit sewot. 
“Yaudalah Jo, jangan sewot gitu. Oh ya kapan kamu nembak Dinda” 

“Bentar lagi, tunggu tanggal mainnya aja. Ingat kalian harus bantuin aku. Siipp?” 

“Pastinya Jo, oh ya kamu yakin si Dinda sekarang jomblo?”

“Kok tiba-tiba kamu tanya gitu sih, emang kalian gak percaya kalau dia beneran jomblo? Apa sih yang bikin kalian ragu?”

“Ya, gak juga sih. Cuma kami gag percaya aja, Dinda itu tipe-tipe gadis idaman para cowok lho, masah belum ada cowok yang mengisi hatinya. Ya kami ragu aja sih sebenarnya..”
“Kalian tuh gimana sih, kalian iri ya sama aku karna aku suka sama cewek yang mungkin kalian juga suka. Ngaku aja deh, kalau kalian juga suka sama Dinda. Jangan buat aku berpikir dua kali lagi untuk nembak dia. Jujur ya, perlakuan kalian tuh udah nunjukin kalau kalian gak ngedukung aku sama sekali. Kalian pikir aku anak kecil yang sama sekali buta akan cinta. Mentang-mentang selama ini aku gak peduli sama cinta kalian jadi remehin aku. Udah, aku malas punya teman munafik kayak kalian semua. Aku bisa ngedapetin Dinda dengan cara aku sendiri tanpa bantuan kalian. Sekarang anggap aja kita gak pernah kenal. Nyesal aku sama kalian semua.” Kataku dan langsung meninggalkan mereka. 
“Jo, maksud kami bukan itu, tapi…” 

Aku terus berjalan tanpa mempedulikan mereka.
Hari-hari terus berlalu, dan semenjak kejadian di café itu, hubungan aku dengan teman-temanku benar-benar renggang. Bahkan saat berpapasan sama mereka aja, aku cuekin seoalah-olah mereka dari planet asing yang tak pernah ku kenal. Aku makin dekat dengan Dinda, aku merasa dinda punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Tapi, aku bingung cara nembaknya gimana. Aku pengen nembak dia dengan cara yang sangat romantis yang gak bakalan dia lupa seumur hidupnya. Aku sadar ternyata aku butuh teman-temanku. Aku butuh ide cemerlang mereka, karena mereka sangat tahu tentang cinta dan soal tembak-menembak cewek. 
Sore itu aku kembali duduk termenung di telaga. Aku kangen sama teman-temanku. Aku sering memaksa mereka untuk maen ke telaga ini. Mereka selalu mengikuti mauku. Tapi, kenapa hanya gara-gara cinta aku jadi benci sama mereka? Tiba-tiba terlintas dipikiranku kata-kata salah satu temanku dulu

“Kalau kamu salah memahaminya maka cinta akan jadi bencana, tapi kalau kamu bisa menghargai dan memahami cinta yang sebenarnya itu, tentu kamu akan bahagia”. 

Ini kali yah yang disebut bencana, aku sudah salah mengartikan niat baik mereka. Aku yakin mereka gak mungkin masukin aku ke jurang yang dalam, mereka gak mungkin nusuk aku dari belakang. Aku kenal mereka dari kecil dan kami sudah bersama-sama sampai kuliah saat ini, kenapa aku masih berprasangka buruk terhadap mereka. Rasa bersalah itu mulai menguasai aku. Ingin rasanya berkumpul bareng mereka lagi. Kalau saja aku tidak musuhan sama mereka, pasti sekarang aku udah jadian sama si Dinda. Masah udah 3 bulan PDKT aku juga belum nembak-nembak? Parah banget sih aku. 
Siang sepulang dari kampus, aku dapat sms dari sebuah nomor yang tak ku kenal yang bunyinya: Jo, ntar malam jam 7 kita ketemuan di taman blok M ya, ada yang pengen aku omongin

Siapa nih? Ngapain dia sms aku minta ketemuan.
Ni siapa? Balasku. Dinda, Jo. Balasnya.  

Oh my God!! Benarkah? Dinda ngajak aku kencan? Okey Din, aku pasti datang tepat waktu. Balasku penuh semangat. 

Aku merebahkan diri di tempat tidur. Pikiranku melayang-layang. Aku mulai membayangkan apa yang akan di sampaikan Dinda sebentar. Dia pasti mau nembak aku. Yess… yes… akhirnya aku gak butuh bantuan teman-temanku juga. Ternyata cinta gak ribet ya.
Pukul 06:35 aku dah selesai siap-siap dan waktunya berangkat. Aku tiba di taman pukul 06:55. Betapa terkejutnya aku ketika sampai di taman yang di maksud Dinda. Waaww!!! Dinda ternyata romantis juga. Keren banget, dia menghias tamannya penuh dengan bunga. Sejenak aku terdiam dan berpikir. Bodoh banget sih aku jadi cowok. Seharusnya aku yang memperlakukan Dinda seperti ini, Bukan sebaliknya. Seharusnya aku yang nyiepin ini semua buat dia. Aku memang bodoh. Aku gak pantas disini. Baru aku mau masuk ke mobil, seseorang di seberang jalan memanggilku. 

“Dinda? Sejak kapan kamu disitu?” tanyaku begitu tahu yang manggil ku adalah Dinda. 

“Baru juga nyampe”. Katanya sembari menghampiriku. 

“Nungguin aku yah, sori tadi macet jadi agak telat” sambungnya. 

“Oh.. gak kok, aku juga baru nyampe, kita masuk aja”, ajakku bingung. 

Oh my God, Jo... ini semua buat aku ya? Keren banget Jo, waaww.... bunganya harum banget. Kamu tahu dari mana kalau aku suka lily? Aduh Jo, romantis banget sih kamu? So sweet..” Dinda sepertinya bahagia sekali sambil mengelilingi sekumpulan lilin berbentuk buah hati, yang ditaburi bunga-bunga lily. 

“Lho, bukannya yang ngajakin kencan dia? kenapa dia jadi terkagum-kagum seperti itu? Bukannya dia yang udah sedia’in ini semua? Kalau dia terkagum-kagum seperti itu, lalu siapa yang rangcang semua ini? Bukan Dinda, bukan juga aku. Siapa dong?”

“Lho, kok malah bengong disitu Jo? Sini dong, sumpah baru kali ini aku diperlakukan gini sama cowok, sampai kapanpun aku gak akan lupain ini Jo, ini benar-benar suprice teromantis yang pernah aku alami dan yang pernah aku tahu, thanks bangat Jo, kamu memang cowok idamanku.” Kata Dinda berapi-api.

“Iya, sama-sama Din,” aku Cuma bisa megeluarkan kata-kata itu. 

Jujur aku benar-benar gak tahu siapa yang rancang itu semua. Atau apa aku salah masuk tempat. Duh gawat ni, kalau yang sebenarnya punya tempat ini datang dan bilang kalau yang rancang ini semua dia, bisa-bisa tamat riwayat aku untuk dapetin Dinda.
Tidak lama kemudian, aku dapat sms lagi dari nomor yang sama, ajak Dinda mengikuti arah lilin yang menyalah itu dan nanti kalian akan menemukan sesuatu yang menggambarkan perasaan kamu dan dia. 

Jangan-jangan aku di jebak. Aku mulai ketakutan, tapi gimana cara ngasih tahunya ke Dinda. Dia rasanya bahagia sekali. Gak tega aku kalau tiba-tiba aku datengin dia dan bilang kalau semua ini bukan aku yang rancang, kita salah masuk tempatlah atau alasan apapun itu pasti akan membuat Dinda sangat kecewa. 

Sementara aku lagi berbingung-bingung, nomor itu sms aku lagi,
cepatan ajak Dinda kesana, keburu lilinnya mati. Percayalah kalian gak bakalan apa-apa kok, ini untuk kebaikan kalian. Aku bukan orang jahat. 

Aku menarik napas panjang, Entah datangnya darimana keberanian itupun muncul. Aku mengajak Dinda untuk mengikuti lilin yang berjejer penuh dengan hiasan bunga. Aku mengajak Dinda untuk melihat sesuatu yang istimewa di sebelah sana, padahal aku juga gak tahu apa yang sebenarnya ada di sana. Semoga hari ini hari keruntungan aku.  

I LOVE YOU DINDA itu tulisan yang kami jumpai di sana, yang dikelilingi oleh lilin dan berhiaskan bunga lily. Dinda diam dan terpaku melihat tulisan itu. 

“Jo, kamu so sweet banget, aku gak mungkin nolak cowok yang udah memperlakukan aku seperti putri malam ini, romantis banget Jo, sumpah ini akan jadi sejarah dan kenangan terindah yang harus aku ceritakan kepada anak-anakku nanti, I love you too Jo,” kata Dinda sambil merangkulku yang masih diam dalam kebingungan. 

Aku gak tahu siapa yang rancang ini semua. Bukan aku yang lakukan ini, Dinda salah orang. Mungkin ada cowok lain yang akan nembak dia malam ini juga, tapi bukan aku. Perasaan aku benar-benar gak karuan. Aku benar-benar galau saat itu, aku pengen lari dari situ dan mengurung diri dalam kamar. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan.
Dalam kebingunganku, tiba-tiba aku dengar suara orang tepuk tangan, plok... plok... plok... 

“Akhirnya, jadian juga kamu Jo, slamat ya..” dan itu teman-temanku. 

Kenapa mereka bisa ada di sini? Aku kan masih marahan sama mereka. Atau jangan-jangan kejutan ini mereka yang..... 

“Maaf Jo, kami terpaksa lakuin ini, soalnya kalau gak gitu kamu gak nembak-nembak Dinda, kelamaan Jo, keburu ada yang duluan makanya kami sepakat untuk lakuin ini, maafin kami ya kalo kami lancang. Tapi tujuan kami hanya membantu kamu kok”. Kata temanku yang lain. 
“Lho, jadi yang buat ini semua bukan kamu Jo?” Tanya Dinda sedikit kecewa. 

“Begini Din, teman kami yang satu ini orangnya pemalu, saking cintanya dia sama kamu, dia bingung mau nembak kamu gimana, dia pengen saat dia nembak kamu, momen itu gak akan pernah kamu lupain seumur hidup. Dia kelamaan mikir idenya, jadi kami selaku teman-teman yang sangat ngedukung biar kalian cepat jadian, makanya kami memberikan surprice ini sama kalian berdua, selaku pangeran dan putri”. 

“Pantasan dari tadi Jo sperti orang kebingungan aja. Oalah, kalian benar-benar teman yang istimewa, bersyukur sekali Jo dapat teman sebaik kalian. Aku jadi terharu,” kata Dinda. 

Aku mulai angkat bicara dengan sedikit malu-malu. “Guys, maafin aku ya, sumpah kalian sudah sangat berjasa besar dalam hidup aku. Momen ini sangat penting buat aku, dan kalian merancangnya sangat sempurna. Padahal aku sudah memutuskan pertemanan kita. Maafkan keegoisan aku selama ini. Aku takut banget kehilangan Dinda makanya aku jadi parno gitu sama kalian semua, aku kira kalian juga diam-diam menaru perasaan pada Dinda, sebenarnya aku gak pantas mendapatkan perlakuan seistimewa ini dari kalian...” salah satu temanku yang paling benci suasana melankolis kayak gini langsung memotong pembicaraanku. 

“Udah ah, udah kayak di film-film aja sih, yang terpenting sekarang kamu udah jadian sama Dinda, tahu gak kami juga gak merasa tentram kalau gak ada kamu setiap kali kami ngumpul, soalnya gak ada traktirin minum, kami juga kangen sama kebiasaan kamu yang maksa-maksa kami ke telaga favorit kamu itu.. hahaa,” mereka semua malah ngeledekin aku. 
Cinta emang aneh ya, saat kita bahagia semuanya kita lupain, kita berasa bisa mengatasi semuanya sendiri tanpa bantuan orang-orang terdekat kita. Tapi kadang dalam urusan cinta, bantuan/saran/petuah dari orang-orang terdekat atau lebih khususnya lagi orang-orang yang sudah berpengalaman dalam urusan cinta, sangat kita butuhkan untuk keabadian sebuah hubungan. 
Dengan bantuan teman-temanku, akhirnya aku jadian juga sama Dinda dan hubungan kami berakhir di pelaminan. Seperti kata temanku, karena aku mampu menghargai dan memahami cinta yang sebenarnya, maka aku sangat bahagia bersama Dinda sekarang. Kata-kata itu juga akan menjadi wasiat buat anak-anakku nanti. Ternyata Jatuh cinta itu indah ya..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Gembel Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design